Jember (beritajatim.com) – Desa Sidomekar, sebuah desa yang lahan pertaniannya lebih luas dari pada pemukiman warganya. Pertanian di Desa Sidomekar merupakan aset utama masyarakat khususnya para petani, kurang lebih luas pertanian 16 Hektare di Desa Sidomekar.
Maka dari itu kebutuhan pupuk subsidi maupun non subsidi sangat tinggi mengakibatkan pupuk menjadi mahal dan langka.
Namun, dalam beberapa tahun ke belakang pasokan pupuk khususnya di Desa Sidomekar hanya sekitar kurang lebih 1 kuintal 150 kilogram tiap tahunnya sangat sedikit di banding luasnya lahan pertanian. Sehingga membuat mahasiswa KKN UIN khas Jember tergerak untuk melakukan observasi kepada para petani.
Alhasil, banyak petani yang kebingungan untuk mendapatkan pupuk dengan harga yang stabil. Salah satunya bapak H. Handoko ketua Gapotan (gabungan kelompok tani) juga merasakan apa yang di rasakan para petani Rabu (28/2/24).
Bapak Miftah mengutarakan “Pupuk subsidi dan non subsidi di Sini ini mas, terbatas dan mahal mas, sampai-sampai saya memberanikan untuk membeli pupuk meskipun mahal mas, gimana lagi sudah menjadi kebutuhan mas’ ujar pak Miftah Senin (26/2/24).
Sebelum adanya inisiatif mengadakan seminar POC JAKABA ini, mahasiswa KKN UIN khas melakukan wawancara kepada para petani.
Ternyata ada beberapa petani yang sudah pernah melakukan pupuk kompos akan tetapi tidak berlangsung lama hanya bertahan beberapa bulan saja.
Sehingga mahasiswa KKN UIN khas Jember terus melakukan observasi dan wawancara kepada para petani, alhasil terdapat sebuah solusi dari petani ingin membuat pupuk organik selain pupuk kompos sebab tanaman di lahan pertanian nya rata-rata tanaman tebu, jeruk, alpokat, jagung, dan padi.
Maka dari itu timbul inisiatif mengadakan seminar POC JAKABA “jamur keberuntungan abadi” untuk membantu petani agar tidak selalu bergantung pada pupuk kimia serta JAKABA ini mampu mengurangi pembiayaan serta menjadi pupuk alternatif untuk tanaman apa pun baik tanaman horty dan tanaman perkebunan.
Sehingga petani pembiayaan yang biasanya lima kuintal menjadi dua kuintal. Tanaman menjadi kuat dan pertumbuhan nya cepat serta umurnya lebih panjang yang biasa nya berumur lima tahun menjadi tujuh tahunan.
Seminar POC JAKABA ini di adakan di balai desa Sidomekar semboro. Pemateri seminar di sampaikan langsung oleh Mizal Khoirul Azizi dan Ahmad Alfarisi salah satu anggota mahasiswa KKN UIN khas kurang lebih sekitar satu setengah jam seminar ini berlangsung.
Ternyata para petani yang datang sangat banyak dan antusias sekali, sehingga pertanyaan yang di lontarkan mengakibatkan 2 pemateri berpikir keras untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan.
Ada yang bertanya tentang “akar bambu yang di gunakan ini apakah akar yang di atas atau akar yang di bawah” dan “ mas, gula sekarang kan mahal, apakah bisa di gantikan dengan tetes tebu ? Serta “ untuk kecambah yang di gunakan itu apa ada kecambah khusus atau bagaimana “ dan banyak lagi pertanyaan dari para petani saat seminar POC JAKABA berlangsung (2/3/24).
[irp]
POC JAKABA merupakan sebuah pupuk alternatif yang bahan-bahan nya berasal dari air leri atau air beras di masukkan ke dalam timba di campur akar bambu dan kecambah lalu di tutup dengan kain dan di ikat menggunakan karet ban selama kurang lebih lima belas hari sehingga setelah di buka akan muncul jamur yang seperti koral.
Manfaat pupuk organik cair (POC) JAKABA ini adalah mempercepat pertumbuhan dan melindungi dari serangan hama tanaman. Di sela-sela berlangsung nya seminar POC JAKABA terdapat beberapa petani meminta cara pembuatan POC JAKABA, dan menginginkan agar di tuliskan dan di sebar luaskan kepada para petani di desa Sidomekar semboro ini.
Antusias petani dalam mengikuti seminar POC JAKABA merupakan sebuah apresiasi tersendiri sehingga salah satu petani mengutarakan “ mas, setelah ini tolong buatkan cara-cara pembuatan POC JAKABA ini dan sebarkan ke seluruh petani di desa Sidomekar ini ya” ujarnya setelah seminar POC JAKABA . (ted)

