Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

Helena Claresta Wellyan12 Juli 2026
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Festival Remo Yosakoi

Surabaya – Terik matahari sejak pagi tak mengurangi semangat puluhan kelompok penari Remo dan Yosakoi yang memadati Balai Pemuda Surabaya, Minggu (12/7). Dengan balutan kostum berwarna-warni dan gerakan yang energik, mereka memeriahkan Festival Remo dan Yosakoi 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Seni Lintas Budaya 2026.

Festival yang diikuti berbagai sanggar seni dan sekolah di Surabaya itu berlangsung mulai pukul 09.00 hingga sekitar pukul 14.00 WIB. Ajang tersebut mempertemukan penari Remo dan Yosakoi dalam sebuah kompetisi yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Seni Lintas Budaya 2026. Meski cuaca cukup terik, para peserta tetap tampil penuh semangat di hadapan masyarakat yang memenuhi kawasan Balai Pemuda.

Setiap kelompok menjalani tiga penampilan di titik yang berbeda. Penampilan pertama dilakukan di hadapan dewan juri sebagai bagian dari proses penilaian. Selanjutnya, para penari kembali tampil di samping area panggung utama untuk menghibur pengunjung, sebelum menutup penampilan di sisi air mancur Balai Pemuda agar dapat disaksikan lebih dekat oleh masyarakat.

Festival Remo Yosakoi

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Heri Purwadi mengatakan Festival Remo dan Yosakoi merupakan agenda tahunan yang bertujuan memperkuat pelestarian budaya sekaligus menjadi media pertukaran budaya melalui kerja sama sister city.

“Alhamdulillah tahun ini kita kembali menyelenggarakan Festival Remo dan Yosakoi dengan sister city kita. Ini dalam upaya pertukaran budaya, pengembangan, sekaligus pelestarian budaya sehingga Festival Yosakoi dan juga Remo diharapkan setiap tahun selalu ada dan jumlah pesertanya terus meningkat,” kata Heri.

Menurut Heri, festival tahun ini diikuti sekitar 15 kelompok Yosakoi kategori dewasa, 15 kelompok kategori anak-anak, serta sekitar 20 peserta Tari Remo. Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari Festival Seni Lintas Budaya yang sepanjang Juli menghadirkan delegasi dari berbagai kota dan negara mitra Surabaya.

“Festival Remo dan Yosakoi ini masih dalam rangkaian Festival Seni Lintas Budaya. Tahun ini ada beberapa negara dan kota mitra seperti Xiamen, Guangzhou, Penang, Turki, hingga berbagai daerah di Indonesia yang ikut meramaikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, Festival Remo dan Yosakoi menjadi kegiatan yang unik karena mempertemukan dua budaya berbeda dalam satu panggung.

“Kita melihat bahwa dua budaya ini sama-sama menarik. Yang satu Remo, yang satu Yosakoi. Belum pernah ada dua festival sekaligus dari dua negara berbeda seperti ini,” ujarnya.

 

Di sela-sela pertunjukan, deretan kostum berwarna merah, biru, kuning, ungu, hingga oranye menjadi salah satu daya tarik festival. Busana khas Jepang berpadu dengan sentuhan unsur tradisional Indonesia menciptakan suasana yang semarak. Sejumlah pengunjung tampak mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan penampilan para peserta ketika mereka melintas di jalur pertunjukan.

Sorak tepuk tangan terdengar setiap kali satu kelompok menyelesaikan penampilannya. Meski harus menunggu giliran tampil di bawah terik matahari, para peserta tetap menunjukkan antusiasme hingga rangkaian festival berakhir pada siang hari.

Sementara itu, Konsul Jepang di Surabaya Kaori Moroshira mengatakan Festival Yosakoi merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Kochi, Pemerintah Kota Surabaya, dan Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya. Festival tersebut telah diselenggarakan sejak 2003 dan sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.

“Acara ini mulai pada tahun 2003. Karena masa Covid sempat berhenti, kemudian kembali dilaksanakan lagi,” ujar Kaori.

Menurutnya, penyelenggaraan Festival Yosakoi merupakan bagian dari hubungan Sister City antara Kota Kochi dan Kota Surabaya yang telah terjalin sejak 1998.

“Tujuannya untuk memeriahkan hubungan antara kedua kota. Konsulat Jepang mendukung kegiatan ini untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara,” katanya.

Kaori berharap festival tersebut semakin mempererat hubungan masyarakat kedua negara melalui jalur kebudayaan.

“Harapannya, karena ada Festival Yosakoi ini Jepang semakin dikenal luas di Kota Surabaya. Begitu juga orang Jepang mengetahui keberadaan Yosakoi di Surabaya sehingga mereka juga mengenal Surabaya,” ucapnya.

Festival ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat. berdasarkan Agus dan Ika,orang tua peserta asal Surabaya, menilai penyelenggaraan acara berlangsung lancar dan mampu membangkitkan semangat anak-anak untuk mengenal budaya.

“Kalau acaranya sih saya rasa cukup sukses. Anak-anak juga antusias karena yang ikut nanti mendapat sertifikat,” katanya.

Meski demikian, Agus berharap penyelenggaraan festival ke depan dapat memberikan porsi yang lebih seimbang antara budaya Indonesia dan Jepang.

“Ini kan budaya lintas negara. Harusnya budaya Indonesia tetap ada, budaya Jepang juga ada. Jadi ibaratnya 50-50, tidak lebih fokus ke budaya Jepangnya,” tuturnya.

Menjelang siang, tepuk tangan penonton kembali terdengar ketika kelompok terakhir menuntaskan penampilannya di area air mancur Balai Pemuda. Di tengah cuaca yang semakin panas, para penari tetap mempertahankan energi dan senyum hingga acara usai. Suasana tersebut menjadi gambaran bahwa Festival Remo dan Yosakoi bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang perjumpaan budaya yang terus dijaga melalui kolaborasi antara Surabaya dan Jepang.(*/mg)

Helena Claresta Wellyan
Mahasiswi Fikom UKWM Surabaya

Festival Remo Surabaya
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026

Di Atas Polemik, Reog Harus Tetap Menjadi Pemenang

18 Juni 2026

Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

18 Juni 2026

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.