Era kelimpahan informasi seperti sekarang ini, kita berhadapan langsung dengan Artificial Intelligence (AI), bahkan informasi terbaru pada awal Mei lalu, 15 karya dianugerahi Penghargaan Pulitzer untuk bidang jurnalisme, untuk pertama kalinya dalam penghargaan bergengsi tersebut, dua dari pemenang tersebut mengungkapkan penggunaan AI untuk menghasilkan berita mereka. AI telah secara nyata menjadi suatu alat baru yang diciptakan manusia dan lantas berpotensi bekerja bersama manusia, bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya ‘Ultron’ dalam Iron Man, AI yan melawan manusia.
Bidang jurnalistik menjadi salah satu sektor yang jelas terdampak dengan keberadaan AI, seperti yang disebutkan sebelumnya, penghargaan sekaliber Pulitzer saja diakui telah menggunakan AI meskipun hanya untuk membantu dalam perincian data. Keberadaan AI ini menutup jurnalis untuk berinovasi, dengan berbagai aspek yang secara senyampang tidak mudah untuk dijangkau oleh AI. Satu hal yang perlu kita ingat, AI tetaplah AI ia memiliki batasan waktu input data, ia tidak memiliki taste (rasa) seperti halnya manusia. AI yang paling akbar digunakan misalnya, ChatGPT, tidak akan mampu membuat berita features atau straight news terbaru apabila secara data tidak di update. Jika melihat sisi ini maka perlulah bagi kita sebagai jurnalis untuk terus berinovasi.
Universitas Stanford dalam sebuah konferensi jurnalistik internasional pada tahun 2010 menjelaskan bahwa Innovation Journalism atau jurnalisme inovasi adalah integrasi penggunaan teknologi digital dan penggunaan jurnalistik terhadap inovasi dengan berbagai lintas disiplin ilmu untuk kemajuan bidang jurnalistik. Inovasi dalam bidang jurnalistik membuat tuntutan yang lebih luas terhadap para jurnalis, mereka dituntut untuk tidak hanya bisa menulis tetapi mampu memanfaatkan inovasi yang ada, terutama dengan spektrum penuh pengaruh yang ditimbulkan oleh inovasi maka ilmu ‘jurnalistik’ saja tidak memadai.
Inovasi jurnalistik dapat terjadi dalam berbagai bentuk, misalnya tiga yang paling banyak digunakan, yaitu jurnalisme data, deepfake, dan metodologi inovatif. Jurnalisme data, jika mengacu pada Redaksi online The Guardian yang memperkenalkan jurnalisme data pada tahun 2010 saat mereka mengolah dokumen rahasia tentang Perang Afghanistan. Jurnalisme data adalah cara jurnalis dalam menggunakan pendekatan interdisiplin yang menggabungkan jurnalisme, statistik, desain grafis, dan komputer. Sementara itu, deepfake adalah upaya jurnalis dalam jurnalisme online untuk dapat membuat pembaca dapat terus membaca atau memperkaya cerita dengan mendalami video, cuplikan suara, dan alat interaktif. Pendekatan ini juga dapat membuat membaca di layar ponsel menjadi lebih mudah. Metodologi inovatif adalah pendekatan metodologis inovatif dapat mencakup “pengalaman, motivasi, dan emosi” dari praktisi bercerita. Pendekatan ini dapat membantu mencari cara yang paling efisien dan ramah penonton untuk menyampaikan berita dan informasi.
Berdasarkan ketiga bentuk tersebut jurnalisme inovatif dapat dilakukan dengan berbagai cara yang mengintegrasikan antara dunia jurnalistik dengan berbagai bidang, termasuk juga penggunaan teknologi informasi. Dalam inovasi jurnalistik tentu ada kemungkinan untuk jurnalistik digabungkan dengan konten digital. Gabungan kedua elemen ini yang saat ini juga banyak digunakan oleh media nasional di Indonesia seperti Kumparan, Kompas, Detik.com, Tempo, Jawa Pos, dan lain-lain. Trik menyajikan konten digital dengan berbantuan elemen jurnalistik mengajak khalayak pembaca untuk tertarik membaca.
Konten digital dapat didefinisikan sebagai segala bentuk informasi yang disampaikan melalui media digital. Konten ini bisa berupa teks, gambar, audio, video, infografis, dan format lainnya. Tujuan utama dari konten digital adalah untuk menarik perhatian audiens, memberikan informasi yang berharga, mengedukasi, menghibur, hingga mempengaruhi perilaku dan keputusan pembaca. Namun, yang perlu digaris bawahi, produksi konten digital dalam bidang jurnalistik harus juga melibatkan elemen jurnalistik di dalamnya. Oleh sebab itu, konten digital yang disajikan jangan sampai mengandung misinformasi, disinformasi, apalagi hoax. Disinformasi adalah informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menipu. Misinformasi adalah informasi tidak benar atau tidak akurat yang disebarkan tanpa bermaksud mengelabui penerima. Hoax adalah informasi, kabar, atau berita yang palsu atau bohong
Dihimpun dari berbagai sumber ada berbagai konten yang dapat dihasilkan dalam inovasi jurnalistik, berikut ini bentuk:
Media Sosial
Hampir seluruh media di Indonesia memiliki media sosial, yang paling umum digunakan adalah media sosial Instagram. Media sosial menjadi tempat untuk membangun branding dan tempat menayangkan sebuah konten yang diproduksi. Media sosial adalah platform yang paling digemari untuk berbagi konten. Konten yang dibagikan di media sosial meliputi posting teks, gambar, video pendek, atau bahkan konten interaktif seperti poling atau kuis. Luaran mata kuliah jurnalistik di Universitas Negeri Malang, misalnya, pernah menghasilkan Naraya Project yang tersentral di Instagram.
Blog
Blog adalah platform yang sering digunakan untuk mempublikasikan artikel atau tulisan informatif. Konten blog bisa berupa tips dan trik dalam industri tertentu, panduan langkah demi langkah tentang topik tertentu, atau bahkan artikel berita terkini. Sebagai anak digital alias generasi Z kalian secara detail bisa mencari cara membuat Blog melalui search engine Google, terdapat dua blog yang paling sering digunakan, yaitu WordPress dan Blogspot, ada juga kompasiana.
Video
Video adalah bentuk konten bukan alat untuk penyebaran. Terdapat banyak konten yang dapat diproduksi menjadi sebuah video, contohnya: Hasil investigasi jurnalistik seperti yang ada di akun YouTube media sosial, konten cerita perjalanan (vlog), konten tentang hasil ulasan, konten tentang tokoh, dan lain-lain.
Vlog biasa apakah masuk inovasi jurnalistik?
Jika ada pertanyaan demikian, kita harus melihat vlog yang dimaksud seperti apa. Jika vlog yang dimaksud seperti dalam akun YouTube Joe Hattab atau Ruhi Cenet, saya sepakat cara tersebut dapat dipandang sebagai vlog, karena yang bersangkutan sudah sangat melebihi unsur 5W + 1H. Artinya, ketika kita akan membuat produk inovasi jurnalistik berupa vlog maka perlu kaidah tersebut. Untuk mengolah video kalian dapat menggunakan CapCut, Adobe Premier, dan lain-lain.
Infografis
Infografis adalah bentuk konten visual yang digunakan untuk menyampaikan informasi secara singkat dan menarik. Infografis sering digunakan untuk memvisualisasikan data, statistik, atau proses yang kompleks.
Kelebihan utama dari infografis adalah kemampuannya untuk menyampaikan informasi yang kompleks dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh audiens. Dalam bentuk grafis yang menarik, infografis dapat menyederhanakan konsep yang rumit dan memungkinkan audiens untuk mengerti dengan cepat dan efektif.
Infografis jurnalistik dapat disebut pertama digunakan di Indonesia oleh Tirto.id dan Kumparan, di Malang Raya ada media seperti Jatimtimes dan Times Indonesia. Infografis dapat disebut juga sebagai implementasi dari jurnalisme data. Untuk membuat infografis kalian dapat menggunakan aplikasi Canva, Corel Draw, dan Photoshop.
Podcast
Podcast atau siniar adalah bentuk konten audio yang semakin populer. Siniar dapat berisi wawancara, diskusi, ceramah, atau narasi dalam berbagai topik. Dengan popularitas platform seperti Spotify, Apple Podcasts, dan Google Podcasts, siniar dapat menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan konten secara audio.
Dalam taraf yang lebih luas ada yang memaknai podcast tidak hanya berisi suara saja, tetapi juga tampil dalam wujud visual. Podcast ini dapat diawali dengan membuat outline pertanyaan yang akan ditanyakan terhadap narasumber, bisa memulai dengan 5W+1H.
Podcast dalam bentuk suara dapat menggunakan anchor fm, dalam bentuk suara dengan imbuhan gambar menggunakan chnksd.
E-Paper, E-Koran, E-Book
Produk koran elektronik yang didesain oleh suatu perusahaan media untuk menggaet lebih banyak pembaca. Kompas dan Tempo telah melakukan cara ini bahkan dibuat dengan berlangganan. E-Koran, contoh Times Indonesia, suara Jatim Post. Untuk menghasilkan produk konten ini dapat dibuat dengan menggunakan platform corel draw, photoshop, dan corel draw. Bisa juga dibuat menjadi sebuah template media.
Sebelum melangkah jauh membicarakan produk dalam bentuk jurnalisme inovatif, sebaiknya kita terlebih dahulu memulai dengan cara menulis paling fundamental dalam dunia jurnalistik yang dikenal dengan jurus 5W + 1H. Jurus yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan ADiK SiMBa itu harus kita kuasai untuk membuat outline sebelum melangkah pada produk jurnalistik. Dengan landasan tersebut kita kemudian dapat menentukan produk jurnalisme yang dikreasikan dengan inovasi bidang teknologi dan digital.
Sebagai tambahan informasi, inovasi jurnalistik dalam perspektif lebih luas telah membawa pada penjelasan tentang ‘Media Baru’. Media baru adalah bentuk media di luar media elektronika (televisi, radio, film) dan media cetak (majalah, koran, tabloid). Sifat media baru (new media) adalah cair (fluids), konektivitas individual dan menjadi sarana untuk membagi peran kontrol dan kebebasan (The Guardian). Kemajuan teknologi komunikasi telah melahirkan internet, newsgroup, mailing list, televisi kabel multisaluran, televisi digital, dan buku-buku yang sudah dapat dibaca dalam format ebook.
Kehadiran media baru ini, membuat lingkungan media massa mengalami berbagai perubahan. Pengertian komunikasi massa mengalami penambahan makna. Karena kini teknologi percetakan dan telekomunikasi yang bersifat satu arah, mulai mengalami perubahan fungsi dan format dalam berbagai hal. Sejak kehadiran internet, media cetak (surat kabar, majalah, tabloid) dan media elektronik (radio, televisi, film) sering dikategorikan media konvensional, karena pesan yang disampaikan adalah one to many (satu untuk semua). Sedangkan internet yang sifatnya interaktif dikategorikan dalam media baru karena mampu menyampaikan pesan from many to many (Sucahya, 2013).
Menurut Mc.Manus dalam Severin, 2005, terdapat empat ciri lingkungan media baru yang dibentuk karena kemajuan teknologi. Pertama, teknologi yang dahulu berbeda dan terpisah seperti percetakan dan penyiaran kini bergabung. Kedua, kita sedang bergeser dari kelangkaan media menuju media yang melimpah. Ketiga, kitas edang mengalami pergeseran dari mengarah kepuasan massa audiens kolektif menuju kepuasan grup atau individu. Keempat, kita sedang mengalami pergeseran dari media satu arah kepada media interaktif. Adapun penjelasan lingkungan media baru adalah, pertama, teknologi yang dahulu berbeda dan terpisah kini bergabung. Batasan antara penerbit, produsen, distributor, konsumen, dan pengamat konten sudah semakin kabur (Sucahya, 2013).
Berdasarkan paparan di atas kita dihadapkan pada dua jalan yang tanpa berpikir panjang sudah tahu harus melangkah ke mana. Jalan pertama, tetap berada dalam arus media lama dengan hanya menguntit saja pada perkembangan teknologi informasi. Jalan kedua, masuk dan turut terlibat dalam perkembangan media baru. Tentu, semua media akan sepakat untuk menjadi media baru, terus mengikuti minat konsumen agar roda media tidak berhenti berputar atau terjebak pada pemberhentian jangka panjang hingga gulung tikar.
Daftar Rujukan:
Severin, Werner J & Tankard, Jr, James W. 2005. Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Predana Media: Jakarta.
Sucahya, M. (2013). Teknologi komunikasi dan media. Jurnal Komunikasi, 2(1), 6-11.
https://en.wikipedia.org/wiki/Innovation_journalism

