Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Olahraga dan Radikalisme: Ketika Prestasi Terpinggirkan oleh Anti Norma Masyarakat

Olahraga dan Radikalisme: Ketika Prestasi Terpinggirkan oleh Anti Norma Masyarakat

Rahajeng Kartika9 September 2024
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Pelatih Karate dan Aikido serta Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY), Assoc Prof Dr Edwi Arief Sosiawan, SIP, M.Si, CIIQA, CIAR, CPM (Asia)
Pelatih Karate dan Aikido serta Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY), Assoc Prof Dr Edwi Arief Sosiawan, SIP, M.Si, CIIQA, CIAR, CPM (Asia)

Secara harfiah, olahraga pada umumnya memiliki keterkaitan dengan semangat kompetisi yang sehat, fair play, dan pengembangan karakter positif seperti kerja sama, disiplin, dan sportivitas.

Tetapi dalam satu atau dua atau bahkan tiga dasawarsa terakhir ini, kita menyaksikan fenomena yang mengarah: radikalisme dan pandangan anti-norma masyarakat mulai menyusup ke dunia olahraga.

Alih-alih menjadi arena yang mempersatukan, olahraga seringkali dijadikan panggung untuk menyebarkan ide-ide radikal yang berlawanan dengan nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan sosial.

BACA JUGA:Pura-Pura Cari Rumput, Pemuda Ngawi Gasak Motor Petani

Mewarnai Arena yang Seharusnya Netral Olahraga merupakan salah satu bentuk aktivitas yang mampu merangkul berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang ras, agama, atau politik. Namun di era sekarang ini, olahraga justru sering dijadikan ajang penyebaran paham radikal. Baik melalui klub olahraga, kelompok pendukung, maupun simbol-simbol khusus, gelandangan radikalisme mulai menghampiri dunia olahraga.

Di beberapa negara, stadion merupakan ajang tempat kelompok-kelompok radikal menunjukkan kekuatan mereka. Pertandingan sepak bola, misalnya, sering kali dijadikan ajang pada mana kelompok dengan ideologi ekstrem berkumpul menguatkan identitas kelompok. Penggunaan simbol-simbol politik atau keagamaan yang ekstrem pada tengah-tengah pertandingan jelas mengkhianati semangat olahraga sebagai wadah netral.

Selain itu, beberapa kelompok radikal juga memanfaatkan olahraga sebagai media rekrutmen anggota baru. Mereka memanfaatkan popularitas olahraga untuk menanamkan paham-paham radikal pada kaum muda yang terpengaruh oleh kebanggaan-kebanggaan kelompok atau fanatisme berlebih terhadap suatu klub atau tim.

BACA JUGA:Review Drakor Connection, Ungkap Pelaku Pembunuhan di Tengah Transaksi Narkoba

Pada sisi lain, semakin meresahkan gerakan anti-norma dalam olahraga. Mereka tidak selalu berbentuk ideologi radikal tapi mengarah kepada penolakan terhadap norma-norma sosial yang sudah lama dipegang oleh masyarakat. Para atlet atau penggemar pendukung sering sekali memandang olahraga sebagai alat untuk mengekspresikan pandangan-pandangan subversif atau melawan nilai-nilai yang dianggap “kolot.”

Sebagai contoh, beberapa kasus atlet tidak menghormati simbol-simbol kebangsaan seperti menolak lagu kebangsaan atau tidak menghormati bendera negara. Tindakan semacam itu sering kali dianggap protes terhadap kebijakannya atau ketidakadilan sosial negara. Protes semacam ini juga berpotensi merusak solidaritas sosial dan menyebabkan perpecahan di antara pendukung yang merasa bahwa nilai-nilai nasional harus dihormati dalam setiap kondisi.

Olahraga mempengaruhi kuat pembentukan karakter generasi muda. Ketika ada paham radikal dan gerakan anti-norma yang menodai identitas olahraga, hasilnya akan sangat merugikan. Seharusnya belajar sportivitas dan fair play, malah terjerumus dalam narasi kebencian, intoleransi, dan anti-nasionalisme.

Selain itu, fanatisme berlebihan sering kali dibumbui oleh radikalisme ataupun ideologi anti-norma, yang mengaburkan esensi dari olahraga itu. Generasi muda yang terpapar oleh radikalisme dalam olahraga dapat kehilangan arah dan identitas positif. Mereka tidak lagi melihat olahraga sebagai sarana meraih prestasi, melainkan hanya sebagai panggung mengekspresikan kebencian atau protes yang tidak produktif.

BACA JUGA:Anies Baswedan dan Partai Baru: (Bukan) Manusia Setengah Dewa

Mengatasi fenomena ini membutuhkan kerja sama dari pemerintah, otoritas olahraga, dan masyarakat luas. Pertama, diperlukan regulasi ketat yang melarang penggunaan olahraga sebagai media untuk menyebarkan ideologi radikal atau anti-norma. Keterlibatan aparat keamanan dan badan olahraga internasional sangat penting dalam menjaga netralitas dan kebersihan arena olahraga.

Kedua, upaya pendidikan harus dilakukan terhadap atlet, pelatih, dan penggemar olahraga dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai sportif dan nasionalisme positif. Program-program pendidikan karakter sangat mungkin diterapkan ke dalam organisasi olahraga guna memelihara semangat olahraga agar selalu positif.

Olahraga adalah wadah yang menyatukan, bukan memecahbelah. Radikalisme dan anti-norma dalam gerakan yang menyusup ke dalam dunia olahraga sangat mengancam nilai sportifitas dan harmonisasi sosial. Kita perlu menjaga agar arena olahraga tetap steril dari ideologi-ideologi merusak dan menjaga terus bahwa olahraga terus menjadi media pembentuk karakter positif generasi bangsa.

Di tengah tantangan ini, kerja sama seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan agar dunia olahraga kembali menjadi simbol prestasi, bukan perpecahan.

Selamat Hari Olahraga Nasional 2024!

Penulis: Pelatih Karate dan Aikido serta Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY), Assoc Prof Dr Edwi Arief Sosiawan, SIP, M.Si, CIIQA, CIAR, CPM (Asia) 

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026

Kimberly Tjoa Hidupkan Sosok Aurora dalam ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Aulia Azzahra Annisa Faiha Hidupkan Sosok Dona dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Optimalisasi System Perpajakan Melalui Penerapan Coretax

27 April 2026

Sustainably Speaking, Trashy Acting: Menagih Komitmen Hijau di Lantai Expo

15 April 2026

Comments are closed.

beritajatim id

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.