Demam fotografi ponsel pintar kian terasa, terutama di kalangan anak muda. Kemampuan kamera ponsel, khususnya iPhone, tak hanya sekadar mengabadikan momen, tetapi juga menjadi simbol prestise di era media sosial.
Gaya pengambilan gambar kekinian seperti “Velocity,” dengan efek goyangan tangan yang dinamis, semakin menambah daya tarik. Namun, di balik tren ini, muncul pertanyaan, apakah ini semata-mata gengsi digital atau kebutuhan fungsional?
Meningkatnya permintaan sewa iPhone menjelang Lebaran menjadi bukti nyata. Para pelaku usaha rental ponsel melaporkan lonjakan signifikan, dengan tarif mencapai Rp 250.000 hingga Rp 400.000 per unit.
Fenomena ini terutama digerakkan oleh generasi Z (rentang usia 20-27 tahun), yang tampaknya lebih tertarik pada kualitas kamera beresolusi tinggi yang ditawarkan iPhone daripada memiliki ponsel tersebut secara permanen.
Di balik alasan praktis untuk mengabadikan momen Lebaran bersama keluarga dan teman, terlihat adanya faktor gengsi yang cukup kuat. Banyak yang beranggapan bahwa penggunaan iPhone menjadi semacam “tanda status” di media sosial.
Ironisnya, beberapa penyewa rela merogoh kocek untuk menyewa ponsel mahal hanya untuk beberapa hari, walaupun pendapatan mereka mungkin tak sebanding dengan harga perangkat tersebut.
Pertanyaannya, apakah tren ini berkelanjutan? Atau hanya sekadar tren sesaat yang didorong oleh tekanan sosial media?
Mungkin, ke depan, produsen ponsel lain perlu mempertimbangkan untuk meningkatkan kualitas kamera mereka agar dapat bersaing dan mengurangi kesenjangan gengsi ini. Pasalnya, kebutuhan akan fotografi berkualitas tinggi semakin meningkat, dan tak selamanya harus dipenuhi dengan menyewa ponsel kelas atas. [but]
*) Mahasiswa Magister (S2) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Irwansyah

