Sidoarjo (beritajatim.com) – Kolektif Hysteria kembali menjajaki beberapa kota/ kabupaten di Pulau Jawa dan Bali, melalui agenda Lawatan Jalan Terus – Tur ‘Bandeng Keliling’ 2025.
Salah satu kota/ kabupaten yang menjadi titik kunjung, tur ‘Bandeng Keliling’ dari Kolektif Hysteria adalah Kabupaten Sidoarjo.
Acara ini berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda, tur yang diinisiasi oleh Kolektif Hysteria digelar di Aula Munali Fatah, Jalan Erlangga nomor 67 Sidoarjo, pada hari Rabu (19/2/2025).
Seperti agenda di kota-kota sebelumnya, diskusi digelar usai pemutaran Film Dokumenter berjudul “Legiun Tulang Lunak: 20 Centimeters per Year”, dengan narasumber Yuswinardi dari Kolektif Hysteria. Serta, Ribut Wijoto selaku Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesde).
Tema yang diusung pada acara kali ini, membahas secara garis besar dinamika ekosistem dalam lingkup kebudayaan.
Tak lupa, hadir beberapa pelaku budaya setempat. Diantaranya Pak Ainur Ketua Pamong Kebudayaan Sidoarjo, Mbak Nilla, Pak Gatot pendiri Dewan Kesenian Sidoarjo, Pak Bambang ketua dewan Kesenian Sidoarjo.
Dalam kesempatan tersebut, Ribut Wijoto memaparkan pendapat terkait ekosistem kebudayaan di Sidoarjo. Hal ini diungkapkan pasca menonton film dokumenter yang mengisahkan lika-liku Kolektif Hysteria selama 20 tahun terlibat di dunia seni-budaya dan kampung kota.
“Lingkup seni di Sidoarjo antar kelompok komunitas memiliki kesadaran untuk saling melengkapi dan saling menguatkan,” ujar Ribut Wijoto selaku Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo.
Melihat potensi di daerahnya, Ribut Wijoto berharap aktivitas-aktivitas kebudayaan di Sidoarjo bisa di level yang sama, dengan praktis-praktis yang dikerjakan Hysteria di Kota Semarang.
“Tapi kita juga pengen naik level agar menjadi lebih baik seperti yang sudah dilakukan Hysteria.” tambahnya.
Senada dengan pendapat Ribut, Arfan Fathoni menilai keterlibatan peran Hysteria dalam lingkup kebudayaan di Kota Semarang, perlu diterapkan oleh teman-teman di Sidoarjo yang aktif dalam ranah kesenian maupun kebudayaan. Arfan sendiri sebagai salah satu pegiat sastra di Sidoarjo, yang dalam acara kali ini berkesempatan menjadi moderator.
“Jadi saya rasa semoga setelah menyaksikan film ini, teman-teman pegiat seni, pegiat kebudayaan, pegiat sastra di Sidoarjo, cita-cita dari teman-teman Hysteria bisa kita reduplikasi untuk kegiatan kita di Sidoarjo.” ujar Arfan Fathoni.
Arfan menjelaskan, salah satu hal yang dirasa perlu di reduplikasi dari Hysteria terkait pengarsipan. Hal tersebut dirasa belum menjadi kesadaran, untuk komunitas atau kelompok seni di Sidoarjo.
“Keunggulan Hysteria bagi saya sendiri, kegiatan hysteria yang dibangun temen-temen Hysteria dalam suatu ekosistem kebudayaan, terdokumentasi dengan sangat bagus, sangat baik, serta terdokumentasi dengan sangat rapi,” ucapnya.
Agenda Tur ‘Bandeng Keliling’ sendiri, merupakan salah satu program yang digagas oleh Kolektif Hysteria untuk menyebarkan semangat manifesto “Tulang Lunak Bandeng Juwana”, ke 30 titik kota/ kabupten atau jejaring komunitas.
Di mana pada praktiknya, program tersebut masuk dalam Event Strategis, Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) RI 2025, melalui dukungan Dana Indonesiana. [but]

