Surabaya – Perpustakaan C2O menjadi oase penyejuk di tengah krisis literasi yang terjadi secara nasional. Perpustakaan ini merupakan perpustakaan mandiri yang dimanfaatkan secara kolektif untuk berbagai kegiatan, seperti diskusi buku, diskusi film, tempat membaca dan mengerjakan tugas.
C2O terletak di Jl. Doktor Cipto No. 22, Dr. Soetomo, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya. Jam operasionalnya yaitu setiap Rabu s/d Minggu pukul 11.00-21.00. C2O tutup pada hari Senin, Selasa dan hari libur nasional.
Keberadaan C2O turut andil dalam menjaga asa peningkatan literasi melalui berbagai kegiatan yang diadakan.
Selain itu, keberadaan ruang membaca yang kondusif dan ketersediaan referensi yang lengkap memiliki pengaruh tersendiri dalam meningkatkan literasi.
Kegiatan diskusi buku yang diadakan di perpustakaan ini secara perlahan akan menumbuhkan minat baca para pengunjung yang mayoritas adalah kaum muda.
Demikian halnya dengan kegiatan diskusi film dan berbagai diskusi lainnya yang juga sering diadakan di perpustakaan ini. Daya pikir kritis para pengunjung secara perlahan akan mengalami peningkatan apabila secara konsisten terlibat dalam berbagai kegiatan diskusi di C2O.
C2O selalu ramai dikunjungi, bukan saja oleh anak-anak muda yang berasal dari Surabaya tetapi juga dari luar Surabaya.

Madun, seorang pedagang asal Jombang, mengungkapkan bahwa dirinya memiliki target untuk mengunjungi perpustakaan C2O sekurang-kurangnya empat kali dalam sebulan.
“Saya iri dengan teman-teman saya yang berkuliah dan yang mengenyam pendidikan menengah. Kadang kalau nongkrong saya gak paham apa yang mereka omong. Gak nyantol. Sampai suatu ketika saya nemu informasi C2O dari instagram. Kemudian saya penasaran dan memutuskan untuk datang berkunjung. Setelah itu saya semakin sering datang ke sini. Target saya empat kali sebulan saya harus datang ke sini. Awalnya saya datang hanya untuk membaca buku. Tapi kalau di C2O kebetulan sedang ada diskusi, saya pasti ikut bergabung” ucap Madun, Jumat (3/5/2025).
Seperti halnya Madun, Farah awalnya berkunjung ke C2O hanya untuk membaca buku saja. Namun, dirinya yang semakin sering berkunjung membuatnya mendapatkan teman baru. Ia akhirnya semakin intens berinteraksi dengan teman barunya. Farah perlahan memberanikan diri untuk bergabung dalam kegiatan diskusi yang diadakan.
“Awalnya cuma baca-baca aja. Liat-liat. Akhirnya juga dari C2O Library dapat temen. Karena dapat temen, akhirnya aku sering balik lagi ke C2O, baik untuk membaca, kumpul bersama temen, nugas, ataupun lainnya. Hari ini aku pertama kali ikut diskusi buku. Kebetulan tertarik banget dengan diskusinya tentang buku ‘Museum Teman Baik’ dan kebetulan sekali ada penulisnya. Aku sebagai pembacanya ingin tau perspektif penulis dan ingin tau gimana sih diskusi di C2O Library. Dan ternyata diskusinya sehangat ini dan juga intimate. Aku merasa kegiatan di sini sangat kekeluargaan dan sangat nyaman. Nyaman dalam komunitasnya, nyaman juga dalam ruangannya” ucap Farah.

Baik Farah maupun Madun berharap agar C2O tetap eksis dan menjadi tempat ternyaman untk membaca, berdiskusi dan berbagai kegiatan positif lainnya.
“Harapanku ke depannya C2O tetap ada di Surabaya sebagai tempat literasi, baik untuk membaca, sharing, diskusi, bertemu dan juga aku harap buku-buku di C2O Library semakin banyak agar memudahkan teman-teman semua dalam memperoleh akses” lanjut Farah.
“Harapan kedepannya ditambah lagi sih jam bukanya. Soalnya jam bukanya kan hanya jam 11.00 – 21.00 kalau gak 20.00. Coba kalau 24 jam. Pasti asik” timpal Madun sambil tertawa.
Keberadaan C2O hendaknya terus didukung sebab meningkatkan literasi tak semudah membalikan telapak tangan. Peningkatan literasi adalah proses yang tak pernah selesai. Karena itu, semua pihak harusnya menjalin kerja sama sehingga masyarakat yang melek literasi benar-benar terwujud. (mg)
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

