Surabaya — Antusiasme tinggi mewarnai gelaran Ganbatte Idol Fest 2025 yang berlangsung selama dua hari dan berpuncak pada Minggu, 11 Mei, di Chameleon Hall Tunjungan Plaza 6 Lantai 5, Surabaya.
Namun, di balik semarak acara yang menampilkan berbagai pertunjukan idol, cosplay, hingga bazar merchandise, masih terasa kuatnya stigma negatif terhadap komunitas Wibu di kalangan masyarakat umum.
Acara ini menjadi ajang berkumpulnya para pecinta anime, cosplayer, dan komunitas budaya pop Jepang lainnya. Mereka mengekspresikan diri lewat kostum karakter favorit, ikut dalam kompetisi, hingga tampil di atas panggung untuk menari bersama idol lokal.
Meski demikian, citra “Wibu” sebagai sosok antisosial atau penyuka hal-hal tak nyata masih menjadi pandangan umum.
“Sering banget dipanggil badut,” ungkap Shin Ryu, salah satu cosplayer yang turut tampil di acara. Meski kerap mendapat komentar miring, ia tetap percaya diri mengekspresikan kecintaannya terhadap cosplay.

Hal serupa juga dialami oleh Wang Hyeji, yang pernah menjadi sasaran diskriminasi karena penampilannya saat cosplay.
“Saya pernah dirasanin dan dibilang dekil karena gak sesuai sama karakter yang di-cosplay,” ujarnya.
Penolakan dan stigma tidak hanya datang dari publik, namun juga dari lingkungan sekitar. Adrian, salah satu pengunjung yang tidak terlibat dalam komunitas anime, menyampaikan pendapatnya secara terang-terangan.
“Bagi saya Wibu sangat buruk sekali, karena mempengaruhi seseorang secara psikologis. Saya punya teman Wibu yang justru suka sesama jenis dan pornografi. Mereka seolah hidup dalam dunia fantasi dan berperilaku menyimpang,” katanya.
Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam International Summit of Science, Technology, and Humanity oleh Kintania Ayunada Az Zahra dan Arif Surya Kusuma, fenomena ini bukanlah hal baru.
Dalam riset tersebut disebutkan bahwa meskipun jumlah penggemar anime di Indonesia terus meningkat, stigma negatif terhadap mereka masih melekat kuat.
Gaya berpakaian yang dianggap mencolok, seperti wig warna-warni dan kostum seksi, kerap dinilai tidak pantas oleh sebagian masyarakat.
Istilah “weeaboo” atau “weeb” pun masih digunakan secara merendahkan untuk menggambarkan individu yang terlalu fanatik terhadap budaya Jepang.
Tak jarang, penilaian negatif datang dari orang terdekat. Azriel, salah satu penggemar yang hadir, mengaku pernah direndahkan oleh temannya sendiri karena menjadi bagian dari komunitas Wibu.
“Aku pernah dirasisin oleh teman sendiri cuma karena suka anime dan cosplay,” ceritanya.

Meski begitu, banyak dari mereka yang tetap menunjukkan semangat dan solidaritas. “Semoga komunitas Wibu bisa semakin solid, tidak peduli terhadap komentar negatif, tampil percaya diri, dan bisa berprestasi hingga ke luar kota,” harap Vinli, seorang cosplayer yang turut tampil dalam event tersebut.
Ganbatte Idol Fest 2025 menjadi wadah inklusif bagi para penggemar budaya Jepang, namun tantangan dalam menghapus stigma masih besar. Diperlukan edukasi berkelanjutan dan kampanye positif agar masyarakat lebih memahami bahwa cosplay dan kecintaan terhadap anime merupakan bentuk ekspresi seni dan hobi yang sah. (ted)
Penulis: Mathilda Gracia
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

