Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Penyintas Tragedi Bom Gereja SMTB Surabaya: ‘Kenapa Bukan Aku yang Mati?’

Penyintas Tragedi Bom Gereja SMTB Surabaya: ‘Kenapa Bukan Aku yang Mati?’

Redaksi15 Mei 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Foto BeritaJatim.com

SURABAYA – Pagi itu, Minggu 13 Mei 2018, mentari baru saja menyapa langit Surabaya saat suara ledakan memecah ketenangan.

Jam menunjukkan pukul 07.10 WIB ketika bom bunuh diri meledak di halaman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Jalan Ngagel Madya No.1. Tragedi ini menggoreskan luka mendalam dalam sejarah kemanusiaan Indonesia. Di antara para korban luka adalah Ari Setiawan, atau yang akrab dipanggil Pak Ari, seorang petugas keamanan gereja.

“Seketika yang saya lihat, gelap semua. Pikiran bingung, kuping berdengung, mulut rasanya asin,” tutur Pak Ari dalam wawancara eksklusif Sabtu, 10 Mei 2025 lalu.

Serpihan logam bom bersarang di wajah, mata, bibir, dan punggungnya. Selama 13 hari, ia menjalani perawatan intensif di RSAL Surabaya.

[irp posts=”453406″ ]

Meski fisiknya perlahan pulih, luka batin yang tertinggal jauh lebih dalam. Namun Pak Ari tak menyerah. Dukungan dari Romo Kurdo, keluarga, umat gereja, dan masyarakat membuatnya bangkit dari keterpurukan.

Foto BeritaJatim.com
CCTV Bom di Gereja SMTB Surabaya pada 13 Mei 2018

Ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan setia menjaga rumah ibadah. Kini, ia bukan hanya petugas keamanan—ia adalah saksi sejarah dan lambang keteguhan hati.

“Kenapa Bukan Aku?”

Dengan mata yang menerawang jauh, Pak Ari berkata lirih, “Kenapa bukan aku? Kenapa harus Mas Bayu yang hancur?”

Bayu, pemuda dari komunitas Orang Muda Katolik SMTB, turut menjadi korban jiwa dalam tragedi tersebut. Ia tengah bertugas menjaga area parkir ketika pelaku mendekat. Dalam detik-detik genting, Bayu menarik tas pelaku agar menjauh dari pintu utama gereja. Aksinya menyelamatkan banyak nyawa, tapi merenggut hidupnya sendiri.

“Dia seperti pahlawan,” kenang Pak Ari, menahan air mata. “Dia tarik tas itu seperti tahu dia bakal hancur, tapi dia nggak mikir dirinya. Dia cuma mikir, jangan ada orang lain yang kena.”

Besi Terakhir: Sisa Luka yang Tak Terlihat

Usai dirawat di rumah sakit, Pak Ari kembali ke rumah. Namun ia merasakan ganjalan di kepala. “Aku raba ubun-ubunku, kok ada yang keras,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Ternyata, masih ada sebatang besi kecil—sisa rakitan bom—tertancap di kepala Pak Ari. Ia menjalani operasi lanjutan untuk mengangkat benda tersebut. “Besi itu jadi saksi terakhir dari pagi yang mengubah segalanya,” ucapnya.

[irp posts=”1357533″ ]

Warisan Cinta dan Pengampunan

Setiap tanggal 13 Mei, Gereja SMTB Surabaya mengadakan doa bersama lintas agama. Bagi Pak Ari, tragedi ini bukan akhir, tapi awal dari perenungan dan perjuangan. “Dalam menghadapi kebencian, cinta dan pengampunan adalah senjata paling kuat,” tuturnya.

Kini, Pak Ari menjadi simbol perdamaian dan toleransi. Ia telah memaafkan. Ia memilih mencintai. Dalam diam dan kesederhanaannya, ia memberi kita pelajaran paling berharga: bahwa dalam gelapnya teror, cahaya kasih bisa tetap menyala. (ted)

Carolina Esther S.D & Kadek Mario Souiya
Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya 

 

 

 

Bom Gereja SMTB 2018 Bom Surabaya tragedi bom gereja Surabaya
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Puluhan Siswa SMP NU 2 Gresik Jalan Kaki ke MWC NU

20 Juli 2026

ACI Gelar Konser SING untuk Sambut Hari Anak Nasional

19 Juli 2026

Aksi Kamisan di Taman Apsari Surabaya Ke-916 Angkat Isu Impunitas di Tanah Papua

17 Juli 2026

SMAS Katolik Santo Yusup Karangpilang Ajak Siswa Baru Mengenal Sekolah Lewat Misi Kebersamaan

16 Juli 2026

Di Balik Ramainya Pasar Surabaya, Ada Kucing yang Kehilangan Rumah

15 Juli 2026

Surabaya Punya Spot Baca Estetik, Gen Z Kini Lebih Betah Membaca daripada Scroll Medsos

14 Juli 2026

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Puluhan Siswa SMP NU 2 Gresik Jalan Kaki ke MWC NU

20 Juli 2026

ACI Gelar Konser SING untuk Sambut Hari Anak Nasional

19 Juli 2026

Aksi Kamisan di Taman Apsari Surabaya Ke-916 Angkat Isu Impunitas di Tanah Papua

17 Juli 2026

SMAS Katolik Santo Yusup Karangpilang Ajak Siswa Baru Mengenal Sekolah Lewat Misi Kebersamaan

16 Juli 2026

Di Balik Ramainya Pasar Surabaya, Ada Kucing yang Kehilangan Rumah

15 Juli 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.