SURABAYA – Pagi itu, Minggu 13 Mei 2018, mentari baru saja menyapa langit Surabaya saat suara ledakan memecah ketenangan.
Jam menunjukkan pukul 07.10 WIB ketika bom bunuh diri meledak di halaman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Jalan Ngagel Madya No.1. Tragedi ini menggoreskan luka mendalam dalam sejarah kemanusiaan Indonesia. Di antara para korban luka adalah Ari Setiawan, atau yang akrab dipanggil Pak Ari, seorang petugas keamanan gereja.
“Seketika yang saya lihat, gelap semua. Pikiran bingung, kuping berdengung, mulut rasanya asin,” tutur Pak Ari dalam wawancara eksklusif Sabtu, 10 Mei 2025 lalu.
Serpihan logam bom bersarang di wajah, mata, bibir, dan punggungnya. Selama 13 hari, ia menjalani perawatan intensif di RSAL Surabaya.
[irp posts=”453406″ ]
Meski fisiknya perlahan pulih, luka batin yang tertinggal jauh lebih dalam. Namun Pak Ari tak menyerah. Dukungan dari Romo Kurdo, keluarga, umat gereja, dan masyarakat membuatnya bangkit dari keterpurukan.

Ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan setia menjaga rumah ibadah. Kini, ia bukan hanya petugas keamanan—ia adalah saksi sejarah dan lambang keteguhan hati.
“Kenapa Bukan Aku?”
Dengan mata yang menerawang jauh, Pak Ari berkata lirih, “Kenapa bukan aku? Kenapa harus Mas Bayu yang hancur?”
Bayu, pemuda dari komunitas Orang Muda Katolik SMTB, turut menjadi korban jiwa dalam tragedi tersebut. Ia tengah bertugas menjaga area parkir ketika pelaku mendekat. Dalam detik-detik genting, Bayu menarik tas pelaku agar menjauh dari pintu utama gereja. Aksinya menyelamatkan banyak nyawa, tapi merenggut hidupnya sendiri.
“Dia seperti pahlawan,” kenang Pak Ari, menahan air mata. “Dia tarik tas itu seperti tahu dia bakal hancur, tapi dia nggak mikir dirinya. Dia cuma mikir, jangan ada orang lain yang kena.”
Besi Terakhir: Sisa Luka yang Tak Terlihat
Usai dirawat di rumah sakit, Pak Ari kembali ke rumah. Namun ia merasakan ganjalan di kepala. “Aku raba ubun-ubunku, kok ada yang keras,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Ternyata, masih ada sebatang besi kecil—sisa rakitan bom—tertancap di kepala Pak Ari. Ia menjalani operasi lanjutan untuk mengangkat benda tersebut. “Besi itu jadi saksi terakhir dari pagi yang mengubah segalanya,” ucapnya.
[irp posts=”1357533″ ]
Warisan Cinta dan Pengampunan
Setiap tanggal 13 Mei, Gereja SMTB Surabaya mengadakan doa bersama lintas agama. Bagi Pak Ari, tragedi ini bukan akhir, tapi awal dari perenungan dan perjuangan. “Dalam menghadapi kebencian, cinta dan pengampunan adalah senjata paling kuat,” tuturnya.
Kini, Pak Ari menjadi simbol perdamaian dan toleransi. Ia telah memaafkan. Ia memilih mencintai. Dalam diam dan kesederhanaannya, ia memberi kita pelajaran paling berharga: bahwa dalam gelapnya teror, cahaya kasih bisa tetap menyala. (ted)
Carolina Esther S.D & Kadek Mario Souiya
Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

