Surabaya – Di balik stigma minor dan kehidupan malam di kawasan Kembang Kuning, Surabaya, tersimpan sejuta kisah perjuangan seorang waria dengan nama panggung Amanda yang berhasil keluar dari dunia pekerja seks komesial dan merintis usaha salon kecantikan miliknya sendiri.
Amanda, asal Sulawesi Selatan mulai bekerja di kawasan Kembang Kuning sejak akhir tahun 2023. Ia mengaku mengetahui lokasi tersebut dari pencarian internet dan tertarik karena orang-orang yang ia jumpai di sana dinilai terbuka dan saling mendukung.
“Teman-teman di sana welcome, baik-baik. Saya merasa nyaman,” ujarnya saat ditemui dalam wawancara.
Salah satu pedagang bernama Deni mengungkapkan bahwa keberadaan waria di sana sudah bukan hal yang mengganggu.
“Kalau masalah sikap sudah nda ada apa-apa sih, aman-aman aja, soalnya kan kita sudah bersama-sama mencari aman tidak saling mengganggu. Waria pun juga ga ada yang mengganggu. Dia kerja ya kerja, orang sini juga sudah tahu semua,” ujarnya.
Meskipun bekerja di lingkungan yang penuh risiko, Amanda tak pernah meninggalkan kecintaannya pada dunia seni dan kecantikan. Ia menyimpan mimpi untuk membuka salon sendiri dan perlahan menabung dari hasil kerjanya.
“Saya memang suka makeup dan seni sejak dulu. Saat bekerja di Kembang Kuning, saya tetap punya cita-cita membuka salon,” katanya.
Namun, jalan menuju perubahan tidaklah mudah. Amanda sempat diamankan oleh Satpol PP dalam salah satu operasi penertiban malam hari di kawasan tersebut. Ia ditahan selama satu hari dan menjalani pembinaan di Liponsos Keputih. Pengalaman itu justru menjadi titik balik bagi dirinya.
“Waktu ditahan, saya justru merasa tenang. Saya merasa ini saatnya berubah,” kenangnya. Tak lama setelah kejadian itu, ia memutuskan untuk mulai mengurangi aktivitas malamnya dan fokus merintis salon.
Kini, Amanda resmi membuka salonnya sendiri dan perlahan meninggalkan aktivitas lama di Kembang Kuning. Intensitas kunjungannya ke lokasi tersebut berkurang drastis. “Dulu hampir tiap malam saya di sana. Sekarang, dua minggu sekali saja. Waktu saya lebih banyak di salon,” ungkapnya.
Perjuangan Amanda menjadi simbol dari harapan dan perubahan di tengah tekanan sosial dan ekonomi. Ia membuktikan bahwa setiap orang punya kesempatan untuk bangkit, selama diberi ruang dan pilihan untuk berkembang.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

