Surabaya (beritajatim.com) – Lampu menyorot sebuah lakon diiringi alunan gamelan di tengah panggung Cak Durasim Taman Budaya Jatim Jalan Genteng Kali Surabaya .
Di tengah titik terang yang terselimuti gelapnya malam, tampaklah sosok anak muda sedang memainkan perannya sebagai Wulandari.
Wulandari merupakan anak gadis dari Nyai Ranti. Ia memiliki hati yang baik dan ingin membantu ibunya kembali ke jalan yang benar.
Persiapan mewujudkan cita-cita arek Malang ini akhirnya terbayarkan dengan sukses tampil di panggung besar.
Malam itu, tepatnya sejak pukul 20.00 WIB, Gedung Teater Cak Durasim penuh dengan tawa dan tepuk tangan meriah dari kursi penonton.
Pagelaran ini berhasil mengambil hati para penonton. Lelucon dan sindiran sosial yang ada dalam dialog para lakon berhasil ciptakan tertawa lepas dan tanggapan dari kursi penonton.
“Menurut saya, kesadaran atau rasa cinta dan suka terhadap kesenian yang diturunkan dari generasi ke generasi sudah kurang di hati anak-anak muda saat ini. Jadi saya ingin melestarikan”, jelas Ananda Karina pemeran Wulandari dalam kisah Nyai Ranti.
Di tengah era globalisasi yang memudahkan akses hiburan dan budaya dari berbagai daerah, semangat generasi muda untuk melestarikan seni dan budaya tradisional tidak padam.
Kala itu, Pagelaran Ludruk Lerok Anyar Lakon Nyai Ranti (09/05/25) jadi wadah bagi generasi muda untuk turut ambil bagian dalam proses pelestarian budaya Indonesia.
Di usianya yang masih muda, 27 tahun, Karina sangat berharap bahwa generasi muda saat ini lebih aware dan turut serta melestarikan kebudayaan Indonesia.
Sebulan terakhir, Karina meluangkan waktunya untuk mempersiapkan penampilannya di panggung yang dirasa besar.
Terdapat 200-an penonton dan tokoh penting kesenian yang hadir untuk menikmati penampilannya dalam pagelaran Ludruk Lerok Anyar kisah Nyai Ranti.
Perasaan gugup menyelimutinya sebelum tampil diatas panggung, setelah itu rasa bangga timbul dalam hati pemain lakon Wulandari.
Keikutsertaan generasi muda menurutnya bukan mewajibkan mereka menjadi lakon sepertinya, namun cukup menunjukan minat terhadap kebudayaan sendiri. Minat ini dapat ditunjukkan dengan menonton baik melalui live streaming atau jika dapat hadir, lebih baik menonton secara langsung.
Hal ini pun sejalan dengan pemikiran anak muda di kursi penonton yang turut meramaikan pagelaran malam itu.
“Karena brain root kalau scroll media sosial terus, kalau kita nonton pagelaran semacam ini akan menambah wawasan kita, agar kedepannya kita lebih tau tentang Jawa Timur, tentang suku kita sendiri”, jelas Rani, salah satu Gen Z yang menonton saat ditanya alasannya melihat pagelaran Ludruk.
Datang bersama saudara perempuannya, Rani dan Ilma kompak dalam memiliki rasa ingin melestarikan kebudayaan, salah satunya Ludruk.

Sebagai generasi muda penghuni sosial media, mereka memanfaatkan platform tersebut untuk mencari informasi tentang pagelaran dan membagikan pengalamannya saat menonton pagelaran tersebut.
Menurut kakak beradik ini, menonton pagelaran Ludruk kala itu yang diselenggarakan oleh UPT Taman Budaya dan Cak Durasim ini tak hanya menambah wawasan mereka tentang kebudayaan. Namun, momen ini juga dapat menjadi konten bagi sosial media mereka, contohnya menambah postingan di feeds Instagram.
“Dengan adanya pagelaran semacam ini, Gen Z bisa semakin tau tentang budaya sendiri, gak cuma mempelajari kebudayaan dari luar”, ucap Ilma.
Hal ini ditindaklanjuti dengan membagikan pengalaman pribadinya dalam menonton acara Ludruk malam itu. Dengan itu, Gen Z bisa turut berperan dalam melestarikan budaya sendiri karena generasi ini sangat aktif dalam media sosial.
Ketertarikan generasi muda terhadap kebudayaan sendiri ini perlu diiringi dengan sikap pemerintah yang mendukung kebudayaan Indonesia. Maka dari itu, pemerintah harus lebih adaptif dalam menggunakan media sosial untuk menyuarakan budaya baik itu pagelaran seni dan kegiatan lainnya.
Pagelaran Ludruk Lerok Anyar malam itu dapat disaksikan secara langsung di Gedung Teater Cak Durasim, Surabaya ataupun secara online di YouTube Cak Durasim. Hal ini merupakan langkah pemerintah dalam memanfaatkan era digitalisasi.
“Ludruk menurut saya masih bisa berbaur di era digitalisasi. Contohnya, Ludruk yang dulunya dapat ditonton saat ada acara kini bisa diakses kapan saja melalui platform online seperti YouTube”, jelas Karina.
Kini, tidak ada alasan lagi bagi generasi muda untuk tidak melestarikan kebudayaan kita sebagai masyarakat Indonesia. Rasa cinta terhadap Bangsa Indonesia dapat ditunjukkan mulai dari cinta terhadap kebudayaan yang dimiliki. (ted)
Penulis : Genio Septimary
Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

