Surabaya (beritajatim.com) – Aktivitas memancing masih menjadi kegiatan favorit sejumlah warga di kawasan aliran sungai Surabaya terutama kawasan Jagir.
Meskipun harus menghadapi sejumlah tantangan seperti kondisi sungai yang kotor, akses jalan yang licin saat hujan, hingga kurangnya fasilitas umum seperti tempat parkir yang aman.
Salah satu pemancing yakni Susilo yang berasal dari Mojokerto dengan kisaran usia 68 tahun, kerap memancing di kawasan tersebut.
Meski tidak setiap hari, ia mengaku sering menghabiskan waktu di sungai sebagai bentuk hiburan untuk mengisi masa tuanya.
“Saya ini cuma iseng saja daripada nganggur di rumah. Kadang sekalian mampir ke anak saya yang tinggal di Rungkut” ujarnya saat ditemui di lokasi Dam Jagir, Kamis (29/5/2025)..
Susilo memilih lokasi Jagir karena dinilai memungkinkan untuk mendapatkan ikan meskipun kailnya tersangkut sampah.
“Kalau banyak sampah ya kadang mancingnya malah dapet sampah. Tapi kalau airnya bersih ya bisa dapat ikan” tambahnya.
Susilo juga menyampaikan kekhawatirannya terkait keamanan parkir di sekitar lokasi. Ia menjelaskan bahwa tidak ada tempat parkir resmi yang dijaga sehingga rawan kehilangan.
“Parkirnya di luar tapi kalau hilang gak ada yang tanggung jawab. Di sini memang gak ada petugas parkir jadi ya was-was juga” jelasnya.
Sementara itu Kholiq selaku warga yang rutin memancing di Jagir mengatakan bahwa kondisi sungai memburuk ketika musim hujan tiba.
Ia menjelaskan bahwa arus deras sering membawa lumpur dan sampah dari hulu ke kawasan mereka. “Kalau hujan itu airnya nyeret lumpur dan sampah. Tapi selama ini gak sampai numpuk parah. Tetap bisa mancing, cuma kadang airnya keruh” ujar Kholiq.

Ia menambahkan bahwa kegiatan memancing dilakukan hanya untuk konsumsi pribadi. “Hasilnya buat dimakan sendiri aja. Kadang kalau banyak dikasih ke tetangga” ujarnya.
Meski kondisi sungai tidak sepenuhnya bersih, kedua pemancing sepakat bahwa situasi mulai membaik sejak beberapa waktu terakhir. Hal ini mereka nilai sebagai hasil dari patroli rutin petugas kebersihan.
“Kalau ada petugasnya biasanya kontrol kadang pagi, kadang siang. Petugasnya keliling ngecek dari atas sampai bawah sungai” kata Kholiq.
Namun, medan di sekitar sungai yang curam dan licin tetap menjadi kekhawatiran terutama saat musim hujan. Jalanan menuju spot pancing bisa berbahaya bagi yang tidak terbiasa.
“Kalau orang gak tahu tempatnya ya bisa takut kepleset. Apalagi kalau ada pohon atau tanah basah ya makin susah dijangkau” jelas Susilo.
Meskipun dulu sempat ada larangan dari Satpol PP aktivitas memancing masih berlangsung. “Katanya gak boleh mancing, tapi kan ini sungai. Ya gak bisa dilarang juga orang cuma mancing” imbuhnya.
Kegiatan memancing ini tak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana interaksi sosial antar warga. Beberapa pemancing menyampaikan mereka sering bertegur sapa atau berbagi hasil tangkapan. Meski tidak terorganisir, komunitas kecil ini terbentuk secara alami dari kesamaan hobi.
Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kota Surabaya terkait pengelolaan area sungai yang kerap digunakan warga sebagai lokasi memancing. Masyarakat berharap adanya penataan yang memperhatikan aspek lingkungan, keselamatan, serta kenyamanan warga.
Penulis: Gracia Metta Ongkowidjojo
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

