Surabaya (beritajatim.com) — Di tengah gegap gempita pembangunan Kota Surabaya yang terus berlari menuju masa depan, terselip sebuah kawasan yang seakan membeku dalam waktu.
Kampung Peneleh, yang terletak di Kecamatan Genteng, menyimpan warisan sejarah yang nyaris luput dari perhatian publik.
Di balik gang-gang sempit yang dikelilingi rumah-rumah tua, berdiri nisan-nisan kuno yang diam membisikkan kisah masa lalu—beberapa di antaranya bahkan diyakini telah ada sebelum zaman kolonial Belanda mencengkeram Nusantara.
Salah satu situs yang menarik perhatian adalah keberadaan makam kuno yang terletak di Peneleh Gang VII. Makam ini bukan makam biasa.
Di lokasi tersebut bersemayam dua sosok yang disebut dalam cerita lisan warga sebagai Mbah Singo dan Mbah Panjang, dua tokoh yang dipercaya sebagai dayang atau pelayan kepercayaan dari Sunan Ampel—salah satu Wali Songo, tokoh utama dalam penyebaran Islam di tanah Jawa pada abad ke-15.
Tradisi Pemakaman di Masa Lampau
Yang membuat situs ini unik bukan hanya karena kisah tokohnya, tapi juga karena letaknya yang berada di tengah permukiman padat. Beberapa makam bahkan ditemukan persis di depan atau belakang rumah warga.
Wawan, salah satu penduduk yang tinggal di dekat makam tersebut, menjelaskan bahwa keberadaan makam di dalam kawasan permukiman bukan hal aneh jika dilihat dari tradisi masyarakat masa lalu.
“Ya, kalau orang dulu tradisinya memang memakamkan keluarga tidak jauh dari rumah. Mungkin rumahku dulu ya rumah-rumahnya mereka ini,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Wawan, makam Mbah Singo dan Mbah Panjang sudah ada sejak lama. Ia sendiri mewarisi cerita tentang dua tokoh ini dari orang tuanya, yang juga menetap di Peneleh. Hingga kini, ia dan beberapa warga lainnya secara sukarela merawat makam tersebut membersihkan area sekitarnya.
Warisan Lisan yang Hidup
Cerita tentang Mbah Singo dan Mbah Panjang tidak terdokumentasi secara tertulis di buku sejarah resmi. Namun kisah mereka terus hidup melalui tutur lisan.
Menurut warga, kedua tokoh ini merupakan pengikut setia Sunan Ampel yang tidak hanya berperan sebagai pelayan, tapi juga sebagai penjaga nilai-nilai spiritual. Mereka dianggap memiliki kedekatan emosional dan spiritual yang mendalam dengan sang wali.
“Kalau menurut cerita orang tua saya dulu, mereka ini ikut ke mana pun Sunan Ampel pergi. Mereka dipercaya, tidak hanya mengurus hal-hal rumah tangga, tapi juga ikut dalam kegiatan dakwah,” kata Wawan.
Dalam tradisi Jawa, tokoh-tokoh seperti dayang, abdi dalem, atau pengikut setia sering kali memiliki posisi tersendiri dalam masyarakat. Meskipun tidak dikenal secara luas, keberadaan mereka sering kali dianggap suci dan penuh jasa karena mendampingi tokoh utama dalam perjalanan spiritual atau politik.
Ziarah Lintas Budaya
Yang menarik, makam ini bukan hanya dikunjungi oleh warga lokal atau umat Islam. “Banyak orang yang datang untuk berziarah, entah tujuannya apa. Tapi yang jelas, ada juga orang Tionghoa yang berkunjung ke sini,” ungkap Wawan.
Ziarah lintas budaya ini menunjukkan adanya penghormatan terhadap tokoh-tokoh spiritual, terlepas dari latar belakang agama atau etnis. Di beberapa tradisi Tionghoa di Jawa Timur, misalnya, dikenal adanya praktik menghormati leluhur atau tokoh spiritual lokal yang dianggap memiliki kekuatan atau berkah tertentu. Ini membuktikan adanya akulturasi budaya dan spiritualitas yang kuat di wilayah ini.
Makam Sebagai Situs Warisan Budaya
Keberadaan makam kuno seperti ini seharusnya menjadi perhatian lebih dari pemerintah maupun pegiat sejarah. Kawasan Peneleh sendiri memiliki banyak situs bersejarah lain, seperti rumah masa kecil Bung Karno dan berbagai bangunan bergaya kolonial yang kini mulai lapuk termakan usia.
Namun sejauh ini, perawatan dan pelestarian situs-situs semacam ini masih sangat bergantung pada inisiatif warga.
“Kalau dari pemerintah belum ada bantuan. Kami warga cuma bisa rawat sebisanya. Kadang ada mahasiswa atau orang dari luar kota datang buat riset, itu kami senang karena artinya makam ini masih
dianggap penting,” kata Wawan.
Dengan potensi sejarah dan spiritual sebesar itu, Peneleh sebenarnya bisa menjadi kawasan wisata budaya yang unik. Selain nilai religi, kawasan ini juga bisa menjadi tempat belajar tentang urbanisasi, arsitektur, dan dinamika sosial masyarakat kota tua. Sayangnya, kawasan ini belum secara resmi ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh otoritas terkait.
Mengingat yang Terlupakan
Cerita Mbah Singo dan Mbah Panjang menjadi simbol bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh tokoh-tokoh besar. Di balik nama-nama besar seperti Sunan Ampel, terdapat tokoh-tokoh kecil yang perannya tak kalah penting. Mereka adalah penjaga nilai, pengikut setia, dan simbol ketekunan dalam memperjuangkan keyakinan—tokoh yang mungkin tak dikenal dunia, tetapi sangat dihormati oleh masyarakat sekitar.
Kampung Peneleh, dengan segala keheningannya, menjadi ruang reflektif bagi warga kota yang ingin menengok kembali akarnya.
Di antara batu-batu nisan tua dan lorong sempit berliku, tersimpan cerita yang lebih dari sekadar sejarah. Ia adalah warisan spiritual, budaya, dan identitas lokal yang menunggu untuk dikenali, dipahami, dan dilestarikan.
Sebagai kota pahlawan, Surabaya sejatinya tidak hanya menyimpan cerita tentang pertempuran fisik, tetapi juga tentang perjuangan nilai dan spiritualitas yang diwariskan dari generasi ke generasi salah satunya melalui jejak-jejak sunyi di makam Mbah Singo dan Mbah Panjang.
Carolina Esther & Patricia Valentina
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

