Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Kelelahan Kolektif: Kesehatan Mental di Tengah Perubahan Sosial ala Burnout Society

Kelelahan Kolektif: Kesehatan Mental di Tengah Perubahan Sosial ala Burnout Society

Akhsaniyah1 Januari 2026
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Akhsaniyah, Mahasiswa S3 Ilmu Sosial, Fisip, Universitas Airlangga sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Di era teknologi serba canggih saat ini, pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah dan bisa di mana saja. Meski begitu banyak orang merasa lelah, padahal pekerjaan dan kegiatan mereka sudah terbantukan oleh teknologi. Kelelahan itu berwujud perasaan cemas, marah, mudah tersinggung, sulit tidur, bahkan sampai ada yang kehilangan semangat hidup.

Fenomena tersebut bisa dialami oleh siapa pun dan di mana pun, terutama di kota-kota besar. Burnout istilahnya, untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami perasaan tertekan oleh banyak hal di sekelilingnya. Kelelahan ini menjadi problem kesehatan mental, yang seringkali dianggap sebagai masalah atau kegagalan individu. Padahal sebenarnya itu merupakan gejala sosial yang lahir akibat adanya perubahan sosial.

Byung Chul Han, seorang filsuf Korea – Jerman, dalam buku karyanya The Burnout Society (2024), mengupas kritis tentang fenomena kelelahan kolektif. Menurutnya, perubahan masyarakat modern berhasil menggeser masyarakat disipliner menjadi masyarakat prestasi (achievement society). Konsep eksploitasi juga mengalami perubahan. Dulu, eksploitasi berwujud penindasan, berasal dari eksternal, berupa dominasi kekuasaan yang menjelma sebagai perintah, aturan, dan sanksi.

Namun saat ini, eksploitasi berasal dari dalam diri, tidak ada paksaan tapi terdorong untuk terus mampu dan bisa produktif. Maka pada masyarakat prestasi muncul istilah individu menjadi tuan dan budak bagi dirinya sendiri. Mengapa seperti itu, karena eksploitasi yang dialami pekerja adalah kesukarelaan, bukan paksaan.

Menurut Han, institusi yang dibutuhkan untuk memaksa para individu pekerja bukan lagi penjara dan aparat. Mereka dipaksa oleh hal-hal yang dapat menyegarkan pikiran, seperti tempat wisata, spa, mall, ceramah agama, hingga ke psikolog.

Dengan dalil meraih kesuksesan dan pengembangan diri, individu memaksakan diri untuk bekerja di luar batas kemampuannya. Sebuah paradoks, di tengah ambisi meraih kesuksesan dan kebahagiaan, tapi malah menjadikan pekerja kelelahan, ketidakpuasan, kecemasan, hingga depresi.

Tumbuh cara pandang “kita pasti bisa” (can), bukan lagi “kita harus bisa” (Should). Sebuah sikap yang mendorong individu-individu untuk saling berlomba demi pencapaian. Sering kita mendengar lontaran kalimat “hari ini aku tidak produktif sama sekali” diikuti perasaan bersalah, hanya karena berlama-lama bermain games, menonton TV sambil bermalas-malasan. Individu atau pekerja akan menyalahkan dirinya jika mengalami kegagalan. Maka untuk meraih sukses mereka akan terus kerja dan kerja, hingga kelelahan dan depresi.

Setiap zaman memiliki ciri khas penyakitnya. Menurut Han, di abad 21 penyakit ditentukan oleh neuron, bukan lagi oleh bakteri dan virus. Gangguan neurologis itu berupa depresi, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), borderline personality disorder (BPD), dan sindrom kelelahan (burnout syndrome), yang berasal dari kelebihan tuntutan dalam diri.

Dalam Burnout Society, tidak produktif dan tidak bekerja keras akan dianggap sebagai sebuah penyakit yang harus dihindari karena menjauhkan diri dari kesuksesan. Budaya neoliberal telah menormalisasi perilaku eksploitasi diri, berakibat berkembangbiaknya masalah psikologis yang menjadikan individu kelelahan dan depresi.

Meskipun burnout menyerang individu, tetapi bisa disebut sebagai gejala sosial. Muncul pada tatanan sosial yang memiliki struktur kerja tanpa batas dan menciptakan budaya kompetisi. Masyarakat prestasi memuji kesibukan karena dianggap sebagai tolak ukur keberhasilan. Sementara istirahat dianggap sebagai sebuah kemalasan. Hal ini berbeda dengan masa lalu saat kerja keras identik dengan paksaan dari eksternal.

Perubahan sosial secara tidak langsung bisa mempengaruhi kesehatan mental. Fleksibelitas di dunia pekerjaan terjadi semenjak hadirnya smartphone di masyarakat. Pekerjaan bisa dilakukan di mana saja, waktu kerja semakin kabur. Ini karena pekerjaan bisa datang kapan saja, tidak lagi mengenal jam kantor. Bahkan seringkali waktu untuk keluarga juga tersita.

Peran media sosial sebagai ruang digital, merupakan arena baru untuk menunjukkan prestasi produktivitas serta berlomba menampilkan kesuksesan dan kebahagiaan. Survei tentang kesehatan mental yang dilakukan di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan kecemasan dan depresi sebanyak 15,5 juta jiwa pada generasi muda (Rumah Sakit Mentari, n.d.). Banyak kaum muda yang merasa gagal dan tidak merasa cukup baik dari yang lain, meskipun sudah bekerja keras. Sementara media sosial semakin menunjukkan kinerja orang yang lebih cepat dan berhasil. Burnout bisa hadir dari ruang digital ini, kesehatan mental terganggu bukan lagi dari kantor tapi dari layar smartphone.

Hadirnya media sosial yang sebelumnya sudah menjadi penyebab renggangnya hubungan sosial, saat ini diperparah dengan perannya sebagai arena kontestasi individu. Relasi sosial juga menjadi terpengaruh akibat kelelahan individu yang massif. Hubungan dengan manusia lain menjadi lebih fungsional dan minim empati, dikarenakan terlalu berat bertahan dan memikul beban pribadi. Han mengatakan bahwa masyarakat akan kehilangan kedalaman, ketika tidak bisa berhenti dan mencoba merenung. Ketika performa menjadi tolok ukur, maka manusia akan menjadi robot yang diminta untuk terus produktif. Pada kondisi ini manusia akan mengalami kelelahan dan kesehatan mental terganggu.

Mengatasi kelelahan pada individu tidak cukup dengan masuk ruang terapi, meditasi, managemen waktu atau bahkan mengikuti motivator handal. Tetapi juga harus ada perubahan struktur, kebijakan kerja yang manusiawi. Negara ikut andil di dalamnya untuk serius memperhatikan berbagai item regulasi perusahaan, termasuk jam kerja dan jaminan sosial. Edukasi kesehatan mental sebagai isu publik juga harus ditingkatkan, agar sadar bahwa kelelahan itu diciptakan bersama.

The Burnout Society mengajak kita untuk mempertanyakan nilai-nilai yang ditanamkan pada individu diterima begitu saja tanpa ada kritikan. Kelelahan kolektif adalah gambaran dari perubahan sosial yang justru dianggap sebagai kemajuan. Maka untuk melawan burnout, yang dibutuhkan adalah berani “berhenti dan berkata cukup” untuk sejenak diam mengendapkan esensi kemanusiaan kita.

*) Akhsaniyah
Mahasiswa S3 Ilmu Sosial, Fisip, Universitas Airlangga sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Burnout Kesehatan Mental Universitas Airlangga Universitas Katolik Widya Mandala
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026

Kimberly Tjoa Hidupkan Sosok Aurora dalam ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Aulia Azzahra Annisa Faiha Hidupkan Sosok Dona dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Optimalisasi System Perpajakan Melalui Penerapan Coretax

27 April 2026

Sustainably Speaking, Trashy Acting: Menagih Komitmen Hijau di Lantai Expo

15 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.