Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Sustainably Speaking, Trashy Acting: Menagih Komitmen Hijau di Lantai Expo

Sustainably Speaking, Trashy Acting: Menagih Komitmen Hijau di Lantai Expo

Erryx Setiawan15 April 2026
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Foto Ilustrasi: Meta AI

Dalam dunia akademik, kita mengenal istilah decoupling sebuah kondisi di mana kebijakan yang disampaikan secara formal seringkali terputus dari praktik teknis di lapangan.

Fenomena ini saya saksikan secara telanjang pada pameran Masyarakat Kelistrikan baru-baru ini. Di satu sisi, kita melihat korporasi berlomba memamerkan green process: bagaimana bahan baku diolah menjadi energi bersih seperti angin, panas bumi, hingga air. Namun, jika kita melihat ke bawah kaki kita, di lantai pameran tersebut, realitasnya berbicara lain.

Ada kontradiksi yang mengganggu nalar. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan yang menjual narasi keberlanjutan (sustainability), justru memamerkan narasinya di atas panggung custom booth yang 90% materialnya adalah kayu sekali pakai, cat kimia, dan residu yang akan menjadi sampah dalam 72 jam?

 Krisis Otentisitas

Sebagai praktisi di Skywork Indonesia sekaligus orang yang berkecimpung di dunia akademik, saya melihat ada “kebutaan desain” di industri MICE kita. Kita masih terjebak pada definisi megah yang kuno: semakin banyak material yang dibuang, semakin dianggap prestisius.

Padahal, secara teori pemasaran dan manajemen stratejik, sustainability harusnya bersifat end-to-end. Bukan hanya pada produk yang dipajang, tapi juga pada media penyampai pesannya. Saat sebuah perusahaan energi terbarukan menggunakan jasa kontraktor booth konvensional yang menghasilkan tonase limbah triplek, mereka sedang melakukan penghancuran terhadap kredibilitas merek mereka sendiri. Ini adalah visual dissonance.

Menawarkan Solusi Sirkular

Kita tidak bisa lagi hanya mengkritik tanpa memberikan jalan keluar. Problem utamanya selama ini adalah biaya dan fleksibilitas. Namun, teknologi material saat ini sudah mampu menjawab tantangan tersebut.

Ada beberapa poin yang bisa menjadi standar baru:

Material Substitusi: Penggunaan panel dinding dari plastik daur ulang (recycled plastic board) sebagai pengganti triplek. Material ini bukan hanya kuat, tapi memiliki siklus hidup yang panjang karena bisa dibongkar-pasang tanpa merusak strukturnya.

Sistem Modular yang Terintegrasi: Menggeser paradigma dari “Custom-Built” ke “Custom-System”. Artinya, bentuk tetap bisa unik dan beragam, namun menggunakan basis struktur yang bisa kembali ke gudang, bukan ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Efisiensi Biaya: Secara riset operasional, penggunaan bahan reusable mungkin memiliki biaya investasi awal yang sedikit lebih tinggi, namun secara jangka panjang akan menekan biaya variable penggunaan bahan habis pakai.

Namun ada satu tantangan baru, yaitu kesepakatan antara kontraktor dan exhibitor yang ingin menampilkan perusahaan menggunakan booth custom, ada dua pandangan yang harus disamakan, karena pemikiran sustainbility cendereng tinggi dari segi biaya, pandangan perusahaan ingin booth yang berbahan biasa dan mudah di bentuk serta harga murah, kontraktor memiliki pandangan produk sustain dan dapat digunakan terus menerus tetapi harga mahal jika menggunakan bahan ramah lingkungan karena sulit di bentuk, seringkali terjadi perdebatan terkait hal ini.

Padahal jika dilihat dari sudut pandang keberlangsungan dan kepedulian terhadap lingkungan, biaya menjadi hal yang jauh lebih kecil nilainya, sehingga perusahaan dapat mengenalkan diri sebagai salah satu pioner corporate net zero emission dari segala lini, baik proses maupun cara mengenalkan perusahaan kerana publik.

Erryx Setiawan
Mahasiswa Program Doktoral Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga dan Praktisi di Bidang MICE

Expo UNAIR
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026

Kimberly Tjoa Hidupkan Sosok Aurora dalam ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Aulia Azzahra Annisa Faiha Hidupkan Sosok Dona dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Optimalisasi System Perpajakan Melalui Penerapan Coretax

27 April 2026

Kunci Literasi Digital, Alternatif Gembok Media Sosial

7 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.