Keberadaan pekerja migran Indonesia yang bekerja ke berbagai negara selalu melahirkan dan dikuti beragam kisah, kisah baik maupun sebaliknya.
Kisah baik terbukti sebagaimana mereka para pekerja migran sangat membantu mengatasi masalah perekonomian dan bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga, sementara kisah sebaliknya cenderung tidak menyurutkannya, itu fenomena.
Kecenderungan itu tampak dimana pilihan sebagai pekerja migran masih menarik bagi masyarakat Indonesia, termasuk di Jember, Bondowoso dan Banyuwangi. Berdasarkan data BP2MI pada Juni 2023 tercatat 135791 Pekerja Migran Indonesia bekerja di berbagai negara di dunia.
BACA JUGA:Jombang Fest 2024 Makan Korban, Pengunjung Dilarikan ke RSUD Akibat Terkena Petasan
Pertimbangan pilihan menjadi PMI karena dinilai itu berkontribusi positif bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga. Namun dibaliknya, itu menyisakan sejumlah masalah yang dihadapi keluarga PMI yang ditinggalkan, termasuk masalah pengasuhan anak. Yang mana keadaan itu menyebabkan anak harus menghadapi resiko multi-kerentanan dalam pengasuhan dari berbagai segi, baik akses pendidikan (putus sekolah), kesehatan (tidak terjaganya pola hidup bersih dan sehat), sosial (salah pergaulan, kekerasan, perkelahian, penyalahgunaan narkoba, kehamilan yang tidak diinginkan) dan perencanaan masa depan (nikah di usia anak).
Di tengah problematika situasi pengasuhan anak tersebut, sejak tahun 2009 Tanoker Ledokombo merespons dengan mengembangkan satu model pengasuhan, Pengasuhan Gotong Royong. Yakni pengasuhan yang berbasis komunitas, dengan keterlibatan semua elemen dan kehadiran negara di dalamnya yang mana kemudian kepengasuhan anak tidak lagi terbatas hanya dilakukan keluarga, melainkan dilakukan bersama-sama dan berkembang menjadi tanggungjawab bersama. Model pengasuhan ini telah implementatif dan diterapkan secara adaptif di banyak tempat termasuk beberapa pesantren, antara lain di Pesantren At-Tanwir, Jember, Pesantren Nurussalam, Bondowoso dan Pesatren As-Shofiyah, Banyuwangi.
Pengalaman mengembangkan pengasuhan gotong royong dengan berbagai setting dan latar belakang komunitas itu menginsipirasi Tanoker untuk mendokumentasikannya dalam bentuk buku, video dan film sebagai prasarana pembelajaran bersama yang inklusif. Proses pendokumentasian tersebut telah rampung diselesaikan dengan beragam cerita pengalaman yang menarik di dalamnya sebagai jejak upaya menggerakkan perubahan dari desa. Selain itu pendokumentasian ini juga memberikan solusi alternatif dalam pengasuhan pada anak yang ditinggalkan orang tuanya sebagai PMI. Di sisi lain hal tersebut dapat memperkaya khazanah pola pengasuhan anak, yang dapat direplikasi di daerah lain secara adaptif.
Dengan telah tuntasnya pendokumentasian pengalaman pengasuhan gotong royong dalam bentuk buku, video dan film itu, maka launching akan diselenggarakan selanjutnya. Acara akan semarak dengan pergelaran karya karya yang lain, dari jambore/festival karya orang muda Power to Youth, produk Kampung Wisata Damai, dan para eyang. Dari muda sampai lansia.
Launching buku ini menandai rekam jejak perjuangan Tanoker bersama Lembaga Pesantren dan masyarakat dalam mengukir ketangguhan dan menyerbuk perubahan dari desa. Mewujudkan pemuliaan desa damai yang memberikan ruang aman dan nyaman bagi perempuan, anak, disabilitas dan lansia, yang mengejawantah, sejalan dengan program KemenPPPA dalam bentuk Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).
Jambore Orang Muda dapat menjadi sarana apresiasi dan rekognisi unjuk karya orang muda yang menggambarkan inisiatif dan kepeloporan mereka dalam menggerakkan perubahan di tengah masyarakat menuju zero perkawinan anak. Juga sebagai ruang dan kesempatan bagi orang muda untuk membagi dan menunjukkan karya-karya yang telah dihasilkan untuk didiseminasikan dan diiinformasikan kepada khalayak pengunjung sebagai pembelajaran bersama. Sementara produk Kampung Wisata Damai dan Sekolah Eyang menjadi refleksi pemuliaan desa damai.
Acara gelar karya ini diharapkan secara kualitatif dapat menambah bobot kesemarakan dengan ragam sajian acara yang advokatif dan edukatif. Sedangkan secara kuantitatif dapat menarik minat pengunjung dari lintas usia dan generasi. Sehingga peluncuran ini akan menjadi tempat perjumpaan yang membahagiakan semua orang dari bermacam latar belakang yang berbeda, baik masyarakat umum, orang muda, pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha serta media dan lainnya.
Secara spesifik acara ini bertujuan untuk merayakan peluncuran/launching buku, film dan video pendokumentasian pengalaman dan praktek baik dalam mengembangkan pengasuhan gotong royong; menyebarluaskan produk pendokumentasian pengasuhan gotong royong kepada masyarakat dan para pihak; memberi kesempatan bagi orang muda untuk menunjukkan peran kepeloporan dan keragaman karya yang telah dihasilkan sebagai proses pembelajaran bersama.
BACA JUGA:Cuaca Malang Hari Ini Selasa 15 Oktober 2024: Cerah Berawan
Dan dengan acara ini diharapkan makin menguatnya komitmen dari masyakat dan para pihak untuk menerapkan pengasuhan gotong royong sehingga dapat mewujudkan visi pemuliaan desa damai dalam bingkai DRPPA (Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak); menyebarluasnya informasi mengenai pendokumentasian pengalaman dan praktek baik dalam mengembangkan pengasuhan gotong dalam bentuk buku, film dan video yang dapat menjangkau semua usia dan lintas generasi; menguatnya kemauan orang muda untuk terus berkarya dan berinovasi serta mengembangkan diri untuk meningkatkan kualitas kepeloporan yang bermanfaat bagi sesama.
Acara yang akan dilaksanakan pada hari Selasa, 15 Oktober 2024 ini dihadiri oleh segenap lapisan dan stratifikasi sosial masyarakat serta unsur pemerintah, Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya, tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, organisasi masyarakat sipil, lembaga pendidikan, media, kaum muda serta pemerhati isu Pekerja Migran Indonesia yang datang dari 3 kabupaten, yakni Jember, Bondowoso dan Banyuwangi.
Dimulai sejak pukul 08.00 sampai 12.00 WIB di Tanoker, Jl. Bungur 73 Ledokombo, kegiatan diawali pemutaran video Tanoker dan pameran karya. Acara dibuka dengan lagu kebangsaan, lalu penampilan tari egrang dan sambutan dari Pembina Tanoker, dari Pemerintah Kabupaten dan dari KemenPPPA. Kemudian sambutan sekapur sirih dari penulis buku dan pembuat video pengasuhan dilanjutkan pemutaran video Pengasuhan Gotong Royong dan penampilan dari Forum Anak Desa.
Sebelum penutup, digelar talkshow bedah buku dan video bersama Yuniyanti Chuzaifah, Septi Peni Wulandari dan Kalis Mardiasih sebagai penanggapnya, Eko Novi Arianti sebagai pembahasnya dan Redy Saputro menjadi host.
Penulis: Farha Ciciek (Tanoker)

