Malang – Bertepatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2568 BE, 23 Mei 2024, Greja Kristen Jawi Wetan Jemaat Lawang (GKJW Lawang), Kabupaten Malang, Jawa Timur, merayakan usia ke 59 tahun.
Perayaan yang bertepatan dengan hari libur nasional itu diawali dengan kebaktian pukul 06.00 dipimpin Pendeta, Sevi Niasari, S.Si, Teol.
“Jemaat, GKJW Lawang patut bersorak-sorai, bekerja untuk Tuhan dengan sukacita, dan merayakan kasih setia Tuhan karena kita bisa memperingati gereja kita yang berusia 59 tahun.” demikian pesan Sevi Niasari dalam kotbahnya.
Puncak peringatan 59 tahun GKJW Lawang adalah pemotongan tumpeng yang dilakukan Pendeta Sevi yang diberikan kepada perwakilan sesepuh warga, majelis, pemuda, wanita, juga anak-anak.
Para perwakilan warga jemaat ini, masing-masing menyampaikan harapan dan semangat untuk setia melayani masa depan GKJW Lawang yang lebih baik.
Sosok yang mewakili sesepuh jemaat, Supriyanto, yang masuk GKJW Lawang tahun 1971, menceritakan bahwa tahun awal bergereja di Lawang, jemaat yang ikut ibadah Minggu hanya 8-15 orang saja.
Untuk menggairahkan semangat jemaat, dilakukan kunjungan ke rumah-rumah warga yang belum aktif.
Maka kalau saat ini setiap ibadah Minggu dihadiri ratusan orang, tentu sebuah hasil perjalanan panjang para pendahulu.
Kesaksian Supriyanto ini dikuatkan Suko Waluyo, jemaat dari kelompok dua yang dibabtis masa anak-anak tahun 1961. Ia mengingat bahwa tahun-tahun itu yang beribadah Minggu di gereja memang paling banyak limabelas orang saja.
Karena itu, menurut Suko Waluyo, para sesepuh gereja perlu menyampaikan pengalaman masa lalu agar diketahui generasi masa kini. Bila perlu, dia berharap, dilakukan penggalian sejarah GKJW Lawang dengan membentuk tim yang akan menelusuri cerita-cerita yang berkait pembentukan GKJW Lawang.
Melengkapi peringatan 59 tahun GKJW Lawang ini juga diadakan jalan sehat, basar, pembagian hadiah, juga panggung gembira.
Maka seusai ibadah, Pendeta Sevi melepas seluruh jemaat mengikuti jalan sehat dan menikmati udara segar Kota Lawang di area wisata Tawon yang berada di belakang gereja. Warga jemaat pun berjalan kaki saling bercengkrama satu sama lain dan saat sampai di lokasi langsung menyerbu lapak-lapak basar untuk sarapan pagi.
[irp posts=”1158834″ ]
Kegembiraaan jemaat GKJW Lawang ini juga didukung Perum Pegadaian Lawang dengan mempersembahkan hadiah utama dua koin emas senilai Rp 700 ribu.
Perwakilan dari Pegadaian Lawang, dalam sambutannyamenyampaikan selamat ulang tahun untuk GKJW Lawang.
Tak lupa, juga mensosialisasikan kemudahan tentang tabungan emas di Pegadaian.
Selain itu juga diadakan berbagai lomba antar kelompok jemaat sebagai wujud kebersamaan warga. Acara usai pukul 11.30 dan dalah satu coin emas 0,5 gram dibawa pulang Ibu Agus Pitolius dari kelompok dua.
ASAL-USUL GKJW LAWANG
Sepenggal cerita asal-usul Greja Kristen Jawi Wetan Jemaat Lawang (GKJW Lawang)tertulis dalam akta hibah Jaman Belanda.
Surat akta hibah itu diketik dalam dua bahasa, Belanda dan Indonesia ejaan lama, yang disusun dalam dua kolom. Meski menggunakan Bahasa Indonesia ejaan lama, surat perjanjian hibah itu masih bisa dimengerti maksudnya.
…..fihak kesatoe, seorang perempoan Djawa, telah kawin dengan marhoem Toean Franz Lois Hellfach, jang mempoenjai hak atas sebidang tanah kosong, terletak disebelah djalan besar Soerabaja-Lawang, kira-kira disebelah oetara dari perceel Ver.No.1923 pandjangnya menoeroet djalan besar 22,25 Meter, lebar kira-kira 19,35 Meter, sebagai terloekis dalam gambar tanah terlampir, yang dianoegerahkan seharga f1,- (satoe roepiah), oeang mana soedah diterimanja, jang dinjatakan dengan soerat ini, oentoek djemaat Kristen Djawa di Malang….
Itu salah satu petikan isi surat hibah yang sepertinya ditandatangani di kantor Desa Kalirejo tanggal 23 Maret 1933. Saat itu, Kalirejo masih berupa pemerintahan desa, seperti ditulis dalam akta yang diberi jdul SOERAT KETERANGAN PENJERAHAN, tertulis,…. Ini hari, hari boelan 23 Maart 1933 dimoeka Petinggi desa Kaliredjo, onderdistr.Lawang, distr.Poerworedjo, reg.Bangil, res. Malang….
Dalam isi surat hibah tersebut diceritakan soal penandatanganan penyerahan tanah yang sekarang berdiri Greja Kristen Jawi Wetan Jemaat Lawang.
Tanah ini milih Mas Ajeng Koesminah, perempuan Jawa beragama Kristen, janda dari Almarhum Franz Louis Hellfach. Dalam akta tersebut, Mas Ajeng Koesminah disebut sebagai pihak ke satu. Sementara pihak kedua sebagai penerima mandat dari Jemaat Kristen Djawa di Malang yaitu Mas Wiejasoedjana, Mas Moelyadihardja, Mas Wirjasoesastra.

Dalam surat hibah tersebut juga disertakan gambar denah lokasi dengan keterangan tulisan tangan berbahasa Belanda. Posisi tanah berada di tepi jalan besar, dalam denah ditulis Groote Weg Soerabaja naar Malang. Juga ada catatan berupa tulisan tangan yang menerangkan status tanah-tanah di sekitarnya.
Melihat denah gambar pada surat hibah tersebut dan membandingkan dengan posisi GKJW Jemaat Lawang saat ini, bisa dipastikan bahwa akta hibah yang terbit di jaman Belanda tersebut merupakan cikal bakal berdirinya bangunan GKJW Jemaat Lawang.
Kalau pun kondisi wilayah saat ini sudah banyak bangunan, tentu masing-masing memiliki riwayat yang tercatat.
Namun masih ada misteri yang perlu diungkap, apakah gereja Kristen Jawa di Lawang saat itu sudah ada? Atau, setidaknya sudah ada orang Kristen Jawa yang melakukan ibadah rutin dan Mas Ajeng Koesminah adalah salah satu jemaat saat itu? Jika saja surat hibah tersebut dipakai sebagai titik nol, tahun 1933, maka usia GKJW Jemaat saat ini adalah 91 tahun.(ted)
Fardique
Wargo GKJW Lawang Jawa Timur

