Surabaya — Keberadaan polisi cepek di sejumlah titik jalan padat di Surabaya, termasuk di kawasan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), memunculkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Sebagian pengendara menganggap kehadiran mereka membantu kelancaran lalu lintas, namun tidak sedikit pula yang menilai mereka justru mengganggu dan membahayakan pengguna jalan.
Mansur (57), salah satu polisi cepek yang sudah tiga tahun berjaga di sekitar UNESA sejak masa pandemi COVID-19, mengaku hanya ingin membantu pengaturan lalu lintas.
“Saya kan cuma mbantu aja, mau kasih monggo, nggak ya nggak papa, sing penting ikhlas, gitu aja,” ujarnya, Rabu (8/5/2025).
Menurut Mansur, ia dan lima rekannya berjaga secara bergiliran dalam sistem tiga jam per orang. Ia mengaku penghasilannya tidak menentu, tergantung dari keikhlasan para pengendara.
“Kadang bisa mencapai seratus, kadang ya lima puluh, namanya rejeki. Hari-hari penting agama biasanya ada yang sampai 300, 500,” ungkapnya.
Namun, tidak semua pihak merasa terbantu. Beatrice Kerenhapukh Handoko (31), pengendara mobil, menyampaikan bahwa kehadiran polisi cepek sering kali justru mengganggu.
“Khususnya di area putar balik, mereka berdiri di sisi kanan, padahal kendaraan datang dari kiri. Saya malah harus memutar lebih jauh agar tidak mengenai mereka,” jelasnya.
Di sisi lain, Audri Mythifany (52), pengguna sepeda motor, merasa terbantu dengan keberadaan mereka. “Membantu sih ya, karena kalau kita mau putar balik pun susah kadang ya, orang-orang nggak ada yang mau berhenti,” ujarnya.
Fenomena polisi cepek sendiri belum memiliki payung hukum yang jelas. Mereka bukan aparat resmi, namun keberadaannya kerap ditoleransi oleh aparat dan masyarakat setempat karena dinilai membantu di area rawan macet yang tidak dijaga polisi.
Hingga kini, belum ada regulasi khusus dari pihak berwenang mengenai legalitas atau pelatihan bagi para polisi cepek. Keberadaan mereka pun terus menuai perdebatan: apakah mereka adalah solusi alternatif untuk lalu lintas yang semrawut, atau justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri.
Penulis: Cathlin Keisha Andrea
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

