Pasar tradisional identik dengan aktivitas jual beli yang ramai sejak dini hari. Namun, di balik hiruk pikuk para pedagang dan pembeli, terdapat pemandangan lain yang hampir selalu dijumpai, yakni kucing-kucing yang berkeliaran di lorong pasar, bersembunyi di bawah lapak, atau mencari sisa makanan di sekitar tempat sampah.
Bagi sebagian orang, pemandangan tersebut mungkin sudah menjadi hal yang lumrah. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa sebagian dari kucing tersebut diduga merupakan hewan peliharaan yang sengaja ditelantarkan oleh pemiliknya.
“Kucing itu tiba-tiba ada. Kadang sudah ditaruh di satu kardus terus ditinggal,” ujar Abu, penjaga Pasar Manyar Melati, kepada beritajatim.com.
Menurut Abu, kejadian itu sudah berulang kali ia temui. Kucing yang baru dibuang biasanya muncul begitu saja tanpa diketahui siapa pemiliknya. Meski sempat diusir pada malam hari, keesokan paginya kucing-kucing itu kembali terlihat berkeliaran di area pasar. .
Fenomena serupa juga terjadi di Pasar Semolowaru. Mulyono, pedagang telur yang telah lama berjualan di pasar tersebut, mengaku pernah menyaksikan langsung seseorang meninggalkan seekor kucing di area pasar.
“Menurut saya, justru mereka tidak mengganggu. Malahan si pembuang yang mengganggu,” katanya.
Pernyataan kedua pedagang tersebut sejalan dengan pengalaman Komunitas Penyelamat Kucing Terlantar Surabaya (KPKTS) yang selama bertahun-tahun menangani laporan kucing terlantar di berbagai wilayah Kota Surabaya.
Founder KPKTS, Evi, mengatakan hampir seluruh pasar tradisional di Surabaya memiliki persoalan serupa.
“Menurut saya, hampir semua pasar itu adalah tempat buangan kucing. Hampir semua relawan yang ada di pasar-pasar mengeluhkan hal yang sama, yaitu overpopulasi karena orang membuang kucing,” ujarnya.
Menurut Evi, pasar dipilih karena banyak orang beranggapan bahwa kucing masih memiliki peluang bertahan hidup di lokasi tersebut. Ramainya aktivitas manusia serta melimpahnya sisa makanan membuat sebagian pemilik merasa kucing yang dibuang tetap dapat mencari makan sendiri.
Selain itu, tidak sedikit masyarakat yang memilih membuang kucing ketika jumlah peliharaan di rumah sudah terlalu banyak atau mereka tidak lagi sanggup merawatnya.
“Kalau teman-teman atau cat lovers sudah overload memelihara kucing, kecenderungannya memang dibuang ke pasar. Bukan hanya mereka, warga juga sering begitu,” jelasnya.
Meski dianggap masih bisa hidup di lingkungan pasar, kenyataannya tidak semua kucing mampu beradaptasi.

Tidak Semua Kucing yang Dibuang Mampu Bertahan
Evi menjelaskan bahwa masyarakat sering menyamakan seluruh kucing jalanan sebagai kucing liar. Padahal, terdapat perbedaan antara kucing feral, yang sejak lahir hidup di alam bebas, dan kucing terlantar, yakni kucing peliharaan yang sengaja dibuang.
Berbeda dengan kucing peliharaan, kucing feral sejak lahir terbiasa hidup di alam bebas sehingga memiliki naluri bertahan hidup yang lebih kuat. Mereka terbiasa mencari makan sendiri, menghindari manusia, serta mengenali wilayah tempat tinggalnya.
Sebaliknya, kucing rumahan yang terbiasa hidup bersama manusia justru mengalami kesulitan ketika tiba-tiba berada di lingkungan asing.
“Kucing rumahan sejak kecil tidak pernah belajar bagaimana hidup di luar. Ketika dibuang, dia stres, tidak tahu bagaimana cara berburu,” kata Evi.
Menurutnya, kucing yang baru ditelantarkan umumnya akan bersembunyi karena ketakutan. Dalam kondisi tersebut, banyak yang tidak makan selama beberapa hari sehingga daya tahan tubuhnya menurun.
“Mereka sembunyi, stres, imun turun. Dalam kondisi seperti itu biasanya mereka sakit. Bahkan ada yang akhirnya mati,” ungkapnya.
Sementara itu, kucing dengan karakter lebih dominan memang memiliki peluang beradaptasi lebih cepat. Namun, bagi kucing yang penakut dan sejak kecil hanya hidup di dalam rumah, proses penyesuaian terhadap lingkungan baru menjadi jauh lebih berat.
Menurut Evi, upaya penyelamatan saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan kucing terlantar di Surabaya.
“Rescue tanpa steril itu sia-sia. Pekerjaan rescue tidak akan selesai dan tidak ada ujungnya kalau sumber masalahnya tidak diselesaikan,” tegasnya.
Evi menambahkan harapan KPKTS untuk kucing terlantar di Surabaya untuk pemerintah lebih proaktif dan memberi aturan pada para pelaku briding, agar kucing yang cacat tu tidak dibuang.
Di balik setiap kucing yang ditemukan di sudut pasar, ada keputusan manusia yang mengubah seluruh hidupnya. Karena itu, penyelamatan saja tidak cukup tanpa kesadaran untuk memelihara hewan secara bertanggung jawab, termasuk melalui sterilisasi dan komitmen merawatnya hingga akhir hayat.
Sebab, bagi banyak orang, seekor kucing mungkin hanya menjadi bagian kecil dari keseharian. Namun bagi kucing yang dipelihara, manusialah tempat mereka bergantung sepanjang hidupnya.(*/mg)

