Polemik yang muncul pasca Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026 menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat.
Berbagai tanggapan bermunculan dari pelaku seni, budayawan, akademisi, pemerhati budaya, hingga masyarakat umum yang selama ini memiliki perhatian besar terhadap perkembangan Reog Ponorogo.
Bagi sebagian orang, polemik dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Namun dalam perspektif kebudayaan, perbedaan pandangan sesungguhnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seni itu sendiri. Perdebatan, kritik, dan evaluasi adalah tanda bahwa sebuah kesenian masih hidup, masih dicintai, dan masih dianggap penting oleh masyarakatnya.
Di tengah berbagai perbedaan pandangan yang berkembang, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: Reog Ponorogo jauh lebih besar daripada polemik yang sedang terjadi.
Dalam telewicara yang dilakukan pada Kamis, 18 Juni 2026, Ketua Dewan Kesenian Ponorogo periode 2024–2029, Wisnu HP, menyampaikan bahwa polemik yang muncul seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan festival.
Menurut Wisnu HP, pemerintah pada dasarnya memiliki fungsi strategis sebagai pembina, pengayom, dan pendamping bagi kelompok-kelompok seni yang tumbuh di masyarakat. Oleh karena itu, berbagai pertanyaan yang muncul di ruang publik perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika masyarakat yang peduli terhadap masa depan Reog Ponorogo.
“Pada prinsipnya pemerintah hadir untuk membina dan mengayomi. Karena itu ketika muncul berbagai persepsi di masyarakat, saya kira yang dibutuhkan adalah ruang dialog dan penjelasan yang terbuka agar tidak berkembang menjadi kesalahpahaman,” ujarnya.
Wisnu HP menegaskan bahwa pandangannya tidak ditujukan untuk meragukan kualitas karya yang ditampilkan dalam festival. Bahkan menurutnya, berbagai pertunjukan yang hadir pada FNRP tahun ini menunjukkan kualitas artistik yang sangat baik dan membuktikan bahwa Reog terus berkembang mengikuti dinamika zaman.
Namun demikian, menurutnya perkembangan tersebut tetap perlu diiringi dengan diskusi yang sehat mengenai tata kelola festival, posisi institusi, serta arah pengembangan Reog di masa mendatang.
“Secara pertunjukan banyak karya yang luar biasa. Yang perlu kita bicarakan bersama adalah bagaimana tata kelolanya ke depan sehingga semua pihak merasa memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi,” kata Wisnu HP.
Dalam kesempatan tersebut, Wisnu HP juga menyoroti pentingnya pelibatan berbagai unsur kebudayaan dalam proses perencanaan dan evaluasi festival. Sebagai lembaga yang menjadi mitra pemerintah daerah dalam bidang kesenian, Dewan Kesenian Ponorogo menurutnya memiliki pengalaman dan perspektif yang dapat menjadi masukan dalam pengembangan festival.
Ia mengaku selama ini ruang dialog yang melibatkan berbagai unsur kebudayaan masih perlu diperkuat. Menurutnya, komunikasi yang terbuka akan membantu mempertemukan berbagai pandangan sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan festival.
“Kami berharap ke depan ada forum yang lebih luas untuk berdiskusi. Bukan sekadar membahas hal-hal teknis, tetapi juga membicarakan arah pengembangan Reog sebagai warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sesungguhnya menyentuh persoalan yang lebih mendasar. Festival budaya tidak hanya berbicara mengenai kompetisi dan penentuan juara. Festival budaya juga merupakan ruang perjumpaan gagasan, ruang pelestarian nilai, dan ruang refleksi mengenai masa depan kebudayaan itu sendiri.
Dalam konteks itulah, kehadiran forum sarasehan budaya menjadi sangat penting. Sarasehan bukanlah ruang untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, melainkan ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif yang berkembang di tengah masyarakat.
Melalui dialog yang sehat, para seniman dapat menyampaikan pengalaman dan kegelisahannya. Dewan juri dapat menjelaskan perspektif penilaiannya. Pemerintah dapat menjelaskan kebijakan dan arah pengembangannya. Akademisi dapat memberikan kajian ilmiah, sementara masyarakat dapat menyampaikan harapan mereka terhadap masa depan Reog Ponorogo.
Budaya dialog seperti inilah yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Ponorogo.
Di sisi lain, polemik yang berkembang juga mengingatkan kita akan pentingnya keberpihakan terhadap para pelaku seni. Di balik setiap penampilan yang memukau di atas panggung, terdapat proses panjang yang sering kali luput dari perhatian publik.
Para seniman berlatih berbulan-bulan. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya pribadi demi menghadirkan pertunjukan terbaik. Mereka bekerja dalam sunyi, jauh sebelum tepuk tangan penonton terdengar di arena festival.
Karena itu, pembangunan kebudayaan tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan acara semata. Pembangunan kebudayaan harus mampu menciptakan ekosistem yang sehat, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi seluruh pelaku seni.
Wisnu HP mengingatkan bahwa perhatian pemerintah terhadap kesenian hendaknya dapat dirasakan secara luas oleh para pelaku budaya, bukan hanya oleh sebagian kelompok tertentu. Menurutnya, semangat pengayoman dan pemberdayaan harus menjadi landasan utama dalam pembangunan kebudayaan.
“Pemerintah harus hadir untuk seluruh seniman. Yang kita pikirkan bersama adalah bagaimana kesenian terus berkembang dan para pelaku budaya merasakan manfaat dari pembangunan kebudayaan itu sendiri,” katanya.
Lebih jauh lagi, perkembangan Reog yang semakin pesat menuntut adanya kesepahaman baru mengenai arah pengembangannya. Modernisasi dan inovasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun perkembangan tersebut tetap harus berpijak pada nilai-nilai budaya yang menjadi identitas Reog Ponorogo.
Kita tentu menginginkan Reog tampil semakin megah, semakin dikenal, dan semakin diterima oleh generasi muda. Akan tetapi, kemajuan tersebut harus tetap menjaga ruh Ponorogo yang selama ini menjadi fondasi utama kesenian tersebut.
Pada akhirnya, polemik yang terjadi hari ini hendaknya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk melakukan perbaikan. Tidak ada festival yang sempurna. Tidak ada sistem yang bebas dari kritik. Yang terpenting adalah adanya kemauan untuk mendengar, mengevaluasi, dan memperbaiki.
Masyarakat Ponorogo tidak sedang menunggu siapa yang kalah dalam perdebatan ini. Masyarakat sedang menunggu hadirnya solusi, keterbukaan, dan semangat kebersamaan dalam menjaga warisan budaya yang telah menjadi identitas daerah selama berabad-abad.
Karena itu, sudah saatnya seluruh elemen yang terlibat dalam FNRP duduk bersama. Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, penyelenggara, dewan juri, Dewan Kesenian, akademisi, pelaku seni, media, dan masyarakat perlu membangun ruang dialog yang sehat demi masa depan Reog Ponorogo.
Sebab pada akhirnya, festival boleh menghasilkan juara. Perbedaan pendapat boleh saja terjadi. Polemik pun suatu saat akan berlalu.
Namun di atas semua itu, yang harus tetap menjadi pemenang adalah Reog Ponorogo
Suyadi
Dosen Institut Media Digital Emtek (IMDE), seniman, dan pemerhati budaya Ponorogo

