Surabaya – Massa menggelar aksi Kamisan di Taman Apsari, depan gedung Grahadi, Surabaya. Dalam aksi ini, para peserta menyuarakan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB tersebut dihadiri oleh belasan peserta dan para aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), serta berbagai kelompok masyarakat sipil lainnya.
Bagi mereka, Aksi Kamisan merupakan sebuah forum yang mewadahi suara rakyat yang tertindas dengan harapan pemerintah dapat mendengarkan aspirasi-aspirasi masyarakat sipil.
Topik yang diangkat pada Aksi Kamisan berbeda setiap pekan. Pada gelaran Aksi Kamisan ke-888 Kota Surabaya kali ini, tema utama adalah isu kekerasan terhadap perempuan.
Para peserta hadir mengenakan pakaian serba hitam sambil membawa spanduk, payung hitam hingga poster berisi pesan penolakan kekerasan terhadap perempuan. Secara bergantian, peserta turut menyampaikan orasi mengenai ketidakadilan yang masih dihadapi perempuan.
Anisa Eka, salah satu koordinator lapangan Aksi Kamisan Surabaya menjelaskan bahwa kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan secara berlangsung mulai dari 25 November hingga 10 Desember, bertepatan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM).
“Kekerasan berbasis gender ini di Indonesia baru diadaptasi tahun 2001. Ini menjadi semacam open ceremony sebelum hari Hak Asasi Manusia di tanggal 10 Desember nanti.” Jelas Eka, Kamis (27/11/2025).
Koordinator lapangan lainnya, Adit, menyampaikan bahwa selain memperingati kampanye internasional, tema ini dipilih karena angka kekerasan berbasis gender di Indonesia menyentuh angka yang masih sangat tinggi setiap tahun.
Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) angka kekerasan di Indonesia pada tahun 2025 tercatat 28.860 kasus kekerasan dan sebanyak 24.623 korban merupakan perempuan dari berbagai kelompok usia.
Adit menambahkan bahwa tingginya angka kekerasan diperparah oleh belum optimalnya legitimasi hukum dalam mengakomodasi tindak kejahatan terhadap perempuan. Hal tersebut menjadi salah satu alasan utama pemilihan tema untuk Aksi Kamisan ke-888.
Isu kekerasan ini terus mendapat sorotan karena perempuan masih kerap mengalami kekerasan dari berbagai bentuk, baik verbal, nonverbal, maupun fisik. Bougen, salah satu peserta aksi, membagikan pengalamannya terkait ketidakadilan di dunia kerja.
“Saya bekerja di industri yang 98% adalah perempuan. Ada teman-teman di kantor yang tidak diperbolehkan naik jabatan karena ayahnya tidak mengizinkan. Kalau di kehidupan sehari, ada kekerasan ke arah verbal dan ada juga seksual,” kata Bougen, peserta Aksi Kamisan.
Aksi Kamisan kali ini berlangsung selama sekitar satu jam. Sejumlah warga yang melintas di Taman Apsari tampak menyempatkan diri membaca poster dan spanduk yang dipajang peserta.
Sekitar pukul 17.30 WIB, aksi tersebut selesai dan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama dengan para peserta lainnya mengenai pokok pembahasan yang telah dibahas.
Elvina Manuella Simanjuntak
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

