Ponorogo (beritajatim.com) – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota yang sering mendominasi panggung pemberitaan, ada satu kisah tenang namun sarat makna yang lahir dari desa. Tepatnya dari Desa Tumpakpelem, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo.
Sebuah desa yang perlahan tapi pasti menunjukkan bahwa kemajuan tak harus selalu berangkat dari pusat kota. Bahwa kemandirian bisa ditumbuhkan dari akar rumput, dari tangan-tangan warga desa sendiri. Yakni lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Jaya. Badan usaha ini, menghadirkan layanan terpadu bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya masyarakat Desa Tumpakpelem saja, namun juga warga desa-desa sekitar yang membutuhkan.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa, Atik Sumiati, dan Direktur Agus Subiyantoro, BUMDes Makmur Jaya berhasil menjelma menjadi pusat layanan yang menjawab kebutuhan riil masyarakat. Menyediakan berbagai jenis pelayanan, mulai dari fotokopi dan alat tulis kantor (ATK), agen BNI46, penyaluran bantuan sosial seperti PKH dan BPNT, hingga persewaan molen bangunan dan Griya Bayar Pajak Kendaraan. Semua hadir dalam jangkauan warga desa.
BUMDes Makmur Jaya beroperasi dari pagi hingga sore setiap hari kerja. Tak ada kemewahan dalam jam operasional itu, tetapi justru di situlah letak kekuatan mereka, yakni melayani dengan konsisten. Kehadiran layanan Griya Bayar Pajak Kendaraan dapat memudahkan warga untuk mengurus pembayaran pajak, tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kabupaten. Bahkan, pelaku usaha kecil bisa menekan biaya proyek karena adanya persewaan molen bangunan yang dikelola desa. Sebuah ekosistem kecil yang saling menopang dan itulah sejatinya pembangunan berbasis komunitas.
Tak ada aduan pelayanan hingga kini bukan berarti mereka sempurna, melainkan karena mereka terbuka terhadap masukan dan terus belajar untuk menjadi lebih baik. Karena tujuan utama adalah memberdayakan desa dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Dengan semangat inklusif dan komitmen pada transparansi, BUMDes Makmur Jaya membuktikan perannya sebagai mitra strategis dalam pembangunan desa. Dari urusan administrasi ringan seperti fotokopi hingga layanan finansial dan penyaluran bansos, warga desa kini bisa menikmati beragam fasilitas tanpa harus meninggalkan lingkungan desa mereka. (Aldo
Ditulis Oleh: Frans Geraldo Hetaria
Mahasiswa PDKU Ponorogo Universitas Merdeka Malang

