Surabaya – Peringatan Hari Buruh Internasional di Surabaya tahun ini ditandai dengan aksi unjuk rasa bertajuk “Mayday Maylawan” yang berlangsung di depan Gedung Negara Grahadi,.
Aksi ini menyedot perhatian publik karena diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk serikat buruh, mahasiswa, serta sejumlah komunitas sipil.
Demo dimulai sejak pukul 15.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 17.00 WIB. Dalam orasinya, massa menyuarakan berbagai tuntutan yang berkaitan dengan perlindungan hak-hak buruh, penolakan terhadap Omnibus Law, serta sorotan terhadap kebijakan pemerintah.
Aksi dimulai dengan pembakaran patung babi yang mengenakan pakaian menyerupai pejabat negara, sebagai simbol protes terhadap korupsi dan penindasan.
Selanjutnya, demonstrasi diwarnai dengan pertunjukan teatrikal dan monolog dari mahasiswa yang menggambarkan keresahan rakyat.
Jaka, salah satu perwakilan mahasiswa, menyampaikan bahwa isu yang diangkat dalam aksi ini merupakan lanjutan dari demonstrasi sebelumnya terkait RUU TNI dan UU Cipta Kerja.
“Isu yang kami angkat di demo kali ini merupakan lanjutan dari demo RUU TNI kemarin, lalu kita juga menyoroti hak-hak buruh terkait UU Cipta Kerja, eksploitasi hak buruh, dan kekerasan terhadap buruh,” ujarnya, Kamis (1/5/2025).
Sementara itu, Anthony Mantodang selaku Humas dan perwakilan dari serikat buruh menegaskan bahwa mereka mendesak pencabutan kebijakan kontroversial.
“Tuntutan utama kami hari ini ialah pencabutan Omnibus Law, fungsional pemerintah, terkait isu pelanggaran HAM yang terus kami suarakan,” tegasnya.

Dalam pernyataan penutupnya, Jaka juga berharap agar para pejabat pemerintah membuka ruang dialog dan benar-benar mendengar suara rakyat.
“Kalau saya berharap, mereka mau mendengarkan dan duduk bersama kami. Lalu ketika kita sedang melaksanakan aksi, saya tidak mau teman-teman membawa benderanya masing-masing, akan tetapi melebur menjadi satu, demi masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Ribuan demonstran memadati kawasan depan Gedung Grahadi, membawa berbagai spanduk, poster, dan gambar satir sebagai bentuk kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di antara atribut tersebut, tampak karikatur animasi menyerupai Presiden yang disertai kalimat-kalimat bernada sindiran.
Sepanjang aksi, para peserta demo secara bergantian menyampaikan orasi – dari kalangan mahasiswa, buruh, aktivis komunitas hingga jurnalis – menyoroti isu-isu seperti pelanggaran HAM, kebebasan pers, hingga maraknya eksploitasi pekerja.
Tak jarang pula terdengar teriakan protes dengan nada keras yang menyebut nama presiden, sebagai bentuk kekecewaan atas kebijakan yang dinilai merugikan rakyat.
Pihak kepolisian tampak siaga mengamankan jalannya aksi dengan menutup Jalan Gubernur Suryo dan mengawal massa hingga demo berakhir. Aksi damai tersebut selesai pada pukul 17.00 WIB, setelah seluruh aspirasi dan tuntutan disampaikan secara terbuka di depan gedung pemerintahan.
R. Josaphat B. N. B
Mahasiswa Fikom Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS)

