Surabaya – Untuk memperingati Hari Jadi Kota Surabaya ke-732 tahun, Pemerintah Kota Surabaya menggelar Surabaya Vaganza 2025, sebuah parade budaya yang menjadi acara tahunan dan telah berlangsung selama 20 tahun lamanya.
Di tahun ini, parade budaya mengangkat tema “The Magical of Folktales”, yang menampilkan indahnya kisah dongeng dan cerita rakyat untuk merangkul semua generasi dan bernostalgia bersama.
“Dengan cerita rakyat ini, saya yakin semua yang hadir akan semakin memiliki cinta kepada kota Surabaya, akan menunjukkan bahwa inikah ciri khas kota Surabaya, yang selalu menghargai pendahulu-pendahulunya. Semoga ada inspirasi yang kita lakukan di Surabaya Vaganza ini memberikan memberikan motivasi bagi anak-anak muda untuk tetap mencintai cerita-cerita rakyat, dan sebagai penyemangat, motivasi dalam membangun kota Surabaya.” kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam sambutannya.
Parade ini dimulai pada pukul 13.00 WIB yang berlokasi di Tugu Pahlawan. Rute parade untuk tahun ini juga dibuat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Di tahun ini, parade budaya Surabaya Vaganza memilih melalui Jalan Pahlawan (kecil) yang berada di sebelah kanan Jalan Kramat Gantung, lalu berjalan lurus menuju Jalan Tunjungan-Siola, dan berakhir di Balai Pemuda Surabaya.
Sejumlah 43 kelompok hadir untuk memeriahkan acara parade budaya Surabaya Vaganza ini, yang terdiri dari peserta pawai dan mobil hias.
Para peserta pawai yang meramaikan parade budaya ini hadir dari berbagai macam latar. Beberapa diantaranya adalah Perangkat Daerah (PD) di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya, seniman, perusahaan, komunitas, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum.

Selain para peserta pawai yang memberikan penampilan terbaik mereka, mobil hias yang ikut memeriahkan parade ini juga tak kalah menarik.
Dalam parade ini, mobil hias yang ada juga harus tetap mengikuti tema besar Surabaya Vaganza tahun ini yang menampilkan kisah rakyat di Indonesia ataupun dongeng internasional.
Sebagai salah satu peserta pawai, Kelompok Pelindo mengambil tema Nyi Roro Kidul, Penguasa Ratu Pantai Selatan. Pada sesi wawancara yang dilakukan bersama Ega, alasan Pelindo memilih tema tersebut adalah karena mereka bergerak dalam bidang pelabuhan, serta ingin mengkampanyekan agar masyarakat lebih peduli dengan lingkungan hidup.
Parade budaya ini mendapat banyak perhatian dari ribuan masyarakat dalam maupun luar Kota Surabaya. Antusias masyarakat ditunjukkan dengan padatnya jumlah penonton sepanjang rute.
Sebagai salah satu pengunjung Surabaya Vaganza tahun ini, Irmina mengatakan bahwa parade budaya ini merupakan salah satu cara pemerintah Kota Surabaya dalam memperkuat perekonomian melalui UMKM yang ada, memajukan sektor pariwisata, dan memperkuat berbagai elemen masyarakat.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

