Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Mewaspadai “Brain Rot” Generasi Muda: Ancaman Nyata bagi UMKM dan Ekonomi Indonesia di Tengah Cita-cita Indonesia Emas 2045

Mewaspadai “Brain Rot” Generasi Muda: Ancaman Nyata bagi UMKM dan Ekonomi Indonesia di Tengah Cita-cita Indonesia Emas 2045

Redaksi22 April 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Foto BeritaJatim.com
Dr Abid Muhtarom.

Indonesia saat ini tengah menyiapkan diri menyongsong sebuah cita-cita besar: menjadi negara maju pada tahun 2045, tepat 100 tahun sejak kemerdekaan. Visi ini dikenal luas sebagai *Indonesia Emas 2045*. Namun, di tengah semangat pembangunan dan transformasi digital yang terus didorong, muncul sebuah kekhawatiran yang patut menjadi perhatian seluruh elemen bangsa: tumbuhnya generasi muda yang terjebak dalam fenomena “brain rot” – kondisi menurunnya kemampuan berpikir kritis, kehilangan fokus, dan dominasi gaya hidup instan akibat konsumsi berlebihan terhadap konten digital tanpa filter dan arah.

Fenomena ini tidak hanya menjadi ancaman terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), tetapi juga berpotensi menggerus pilar-pilar utama perekonomian nasional, khususnya sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Padahal, UMKM selama ini merupakan fondasi ekonomi kerakyatan dan penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Ketika Digitalisasi Menjadi Pedang Bermata Dua

Kita tidak bisa menafikan bahwa teknologi telah membawa perubahan besar dalam lanskap ekonomi dan kehidupan masyarakat. Digitalisasi menjadi tulang punggung percepatan layanan, efisiensi produksi, hingga transformasi pasar melalui platform daring dan media sosial. Generasi muda sebagai digital native pun seharusnya menjadi motor penggerak utama inovasi ini.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Banyak anak muda yang lebih larut dalam tren-tren hiburan digital yang bersifat dangkal dan sesaat. Alih-alih menjadikan media sosial sebagai alat produktif, mereka justru menghabiskan waktu berjam-jam dalam konsumsi konten yang bersifat pasif dan tidak mendidik. Ini menandai kemunculan generasi dengan gejala *brain rot*—generasi yang cepat bosan, tidak tahan tekanan, kurang semangat berjuang, dan enggan berpikir kritis.

Dalam konteks ini, teknologi menjadi pedang bermata dua. Jika tidak disikapi dengan bijak, maka digitalisasi justru menjadi jebakan yang memperlemah daya saing SDM Indonesia di tengah persaingan global.

Dampaknya Terhadap UMKM

Sektor UMKM selama ini menjadi garda depan perekonomian Indonesia. Kontribusinya mencapai lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Namun dalam beberapa tahun terakhir, banyak pelaku UMKM menghadapi tantangan dalam merekrut dan mempertahankan tenaga kerja muda yang memiliki integritas, kreativitas, dan daya tahan tinggi.

Banyak pemuda yang melamar kerja di sektor UMKM datang tanpa kesiapan mental, enggan belajar dari bawah, dan lebih memilih pekerjaan yang terlihat glamor di media sosial. Sementara itu, pelaku UMKM juga dihadapkan pada tantangan regenerasi pengusaha muda yang benar-benar serius menekuni usaha secara konsisten. Banyak usaha rintisan anak muda yang tumbuh dengan cepat karena mengikuti tren, namun kemudian mati suri karena tidak dibangun dengan strategi yang matang.

Fenomena *brain rot* membuat generasi muda enggan mengembangkan inovasi yang mendalam dalam UMKM. Mereka lebih sibuk menciptakan gimmick viral daripada membangun fondasi usaha yang berkelanjutan. Jika ini terus terjadi, maka sektor UMKM akan kesulitan dalam menciptakan inovasi dan melakukan ekspansi, yang pada akhirnya bisa mengganggu struktur ketahanan ekonomi nasional.

Bonus Demografi yang Terancam Menjadi Beban

Indonesia diprediksi akan mengalami puncak bonus demografi pada periode 2030–2040, di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia non-produktif. Ini sejatinya adalah peluang emas untuk meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, bonus demografi hanya akan menjadi berkah jika ditopang oleh SDM unggul. Jika tidak, ia justru bisa menjadi bencana demografi—jumlah besar angkatan kerja tanpa kualitas yang memadai.

Fenomena generasi “brain rot” secara langsung bertentangan dengan semangat Indonesia Emas 2045. Jika generasi muda tidak segera diarahkan kembali pada nilai-nilai produktif dan edukatif, maka kita akan menghadapi generasi yang tidak siap kerja, tidak siap berwirausaha, dan tidak mampu bersaing secara global.

Peran Strategis Pendidikan dan Organisasi Sosial

Mengatasi tantangan ini membutuhkan intervensi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, pelaku usaha, hingga organisasi sosial dan keagamaan. Dalam konteks ini, kampus tidak boleh sekadar menjadi tempat pengajaran formal. Ia harus menjadi ruang pembentukan karakter, pelatihan kepemimpinan, serta pembinaan semangat kewirausahaan sejak dini.

Sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Lamongan (UNISLA), saya melihat pentingnya mengintegrasikan kurikulum yang tidak hanya mengajarkan teori ekonomi, tetapi juga membentuk karakter tangguh, jujur, dan pekerja keras. Mahasiswa harus dikenalkan pada realitas dunia usaha dan diberi kesempatan magang langsung di UMKM agar memahami tantangan dan solusi nyata dalam dunia kerja.

Selain itu, organisasi sosial seperti GP Ansor memiliki peran strategis dalam membentengi generasi muda dari kerusakan moral dan intelektual. Melalui kaderisasi, pelatihan kewirausahaan, serta gerakan literasi digital, GP Ansor di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Lamongan, berkomitmen mencetak kader-kader muda yang religius, nasionalis, sekaligus produktif dalam bidang ekonomi.

Teknologi Sebagai Sarana, Bukan Tujuan

Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi. Namun kita harus memastikan bahwa generasi muda tidak diperbudak oleh teknologi. Mereka harus memahami bahwa media sosial, artificial intelligence, dan berbagai perangkat digital adalah alat bantu, bukan tujuan akhir. Pendidikan karakter, etika digital, dan literasi media harus terus ditanamkan agar generasi muda bisa memfilter informasi dan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bernilai tambah.

Pelatihan kewirausahaan berbasis digital juga perlu diperluas. Pemerintah daerah dapat bermitra dengan kampus dan komunitas lokal untuk memberikan pelatihan praktis seputar pemasaran daring, manajemen keuangan UMKM, hingga pemanfaatan AI untuk riset pasar. Semakin banyak anak muda yang melihat potensi bisnis dari sisi produktif, maka semakin kuat pula sektor UMKM kita ke depan.

Menatap Masa Depan dengan Kritis dan Optimis

Indonesia Emas 2045 hanya akan terwujud bila ditopang oleh generasi yang kuat secara moral, tajam secara intelektual, dan tangguh secara mental. Kita tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan ekonomi atau pembangunan infrastruktur. Pembangunan manusia—khususnya generasi muda—harus menjadi prioritas utama.

Fenomena generasi “brain rot” memang nyata dan mengkhawatirkan, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan kolaborasi antara lembaga pendidikan, pelaku UMKM, organisasi kepemudaan, dan dukungan kebijakan pemerintah, kita bisa membentuk generasi muda yang sadar arah, cinta tanah air, dan siap bersaing dalam ekonomi digital yang semakin kompleks.

Mari kita jadikan momentum ini sebagai refleksi bersama. Indonesia memiliki peluang besar, dan masa depan itu ada di tangan generasi muda hari ini. Tugas kita adalah memastikan mereka tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tapi juga mampu menjaga akal sehat, nurani, dan semangat gotong royong sebagai warisan luhur bangsa.

Dr. Abid Muhtarom,
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA dan Wakil Ketua Pengurus Harian GP Ansor Kabupaten Lamongan

Indonesia Emas 2045
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026

Kimberly Tjoa Hidupkan Sosok Aurora dalam ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Aulia Azzahra Annisa Faiha Hidupkan Sosok Dona dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Optimalisasi System Perpajakan Melalui Penerapan Coretax

27 April 2026

Sustainably Speaking, Trashy Acting: Menagih Komitmen Hijau di Lantai Expo

15 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.