Surabaya – Festival Budaya Lintas Disabilitas 2025 kembali digelar dengan semarak. Bertempat di Taman Budaya Cak Durasim pada Minggu, 7 Desember 2025, acara ini dimeriahkan dengan pertunjukkan seni seperti band, pertunjukkan wayang kulit, tari tradisional, dan lomba melukis. Acara dimulai pukul 08.00-21.00.
Acara yang diprakarsai oleh Istana Karya Difabel (IKD) Pusat Surabaya sebagai wujud memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh setiap tanggal 3 Desember.
Dihadiri oleh 113 teman-teman penyandang disabilitas dari berbagai SLB di Surabaya. Festival Budaya Lintas Disabilitas ini merupakan acara tahunan setiap bulan Desember.
“Kami punya visi dan misi bahwa anak-anak disabilitas di usia 20 tahun harus punya jiwa mandiri dan punya penghasilan. ” tutur Bunda Yoesi, pembina IKD Surabaya.
Orang tua dari teman-teman penyandang disabilitas mengapresiasi acara ini karena dari acara seperti ini para orang tua bisa menemukan kebersamaan dengan orang tua penyandang disabilitas lain.
“Ya, kebersamaan gitu. Sebagai orang tua (yang) punya anak-anak seperti ini kita masih punya teman masih punya saudara. “ ujar Ibu Rohma (54), orang tua Gumelar Bagus Rahmatullah, disabilitas Tunagrahita.
Selain itu, acara ini dinilai mampu untuk membantu perkembangan mental, sosial, serta kepercayaan diri dari teman-teman penyandang disabilitas. Bu Rohma menyampaiakn bahwa dengan acara seperti ini anak-anak disabilitas bisa bermain dan bertemu temannya.
“Soalnya sekarang kan sudah tidak sekolah, sudah lulus. Jadi saya berupaya biar anak saya engga diam. Iya, sangat membantu. “ ujar Bu Rohma.
Orang tua peserta Festival Budaya Lintas Disabilitas 2025 mengungkapkan bahwa ada rasa bangga bisa ikut mendukung anak-anaknya untuk bisa berani tampil di atas panggung. Seperti yang disampaikan Ibu Ami (64) bahwa beliau harus bisa mendukung anaknya untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi kedepannya. Bu Ami juga menyampaikan rasa bangganya karena anaknya bisa berani tampil di atas panggung.
“Ya saya harus men-support untuk dia bisa membuktikan mimpi-mimpinya. “ ujar Bu Ami.
“Tentunya bangga karena itu juga suatu hadiah buat saya. Dia bisa berani tampil di atas panggung itu sudah luar biasa. “ pungkasnya.
Bu Ami turut menyampaikan harapannya terhadap pemerintah agar lebih memperhatikan juga mendukung untuk kemajuan anak-anak disabilitas.
Menutup pernyataannya, Bunda Yoesi menegaskan bahwa mereka tidak ingin diapresiasi karena kesedihan, tapi diapresiasi karena prestasi mereka.
“Kami tidak ingin diapresiasi oleh kesedihan, tapi kami ingin diapresiasi oleh prestasi mereka. “ pungkasnya.
Hadirnya acara Festival Budaya Lintas Disabilitas 2025 ini menjadi cerminan bahwa mereka yang terlihat berbeda, mereka tidak berbeda. Teman-teman disabilitas lewat IKD ingin menunjukkan bahwa mereka juga punya talenta dan kemampuan yang sama dengan orang lain.
Acara ini juga sebagai sentilan kepada pemerintah agar bisa lebih memperhatikan dan mendukung penuh teman-teman penyandang disabilitas.
Benedicta Mauren Erwani Prima Adventia
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

