Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Panti Asuhan Samaria Wiyung, Tempat Anak Korban Kekerasan Bisa Kembali Bahagia

Panti Asuhan Samaria Wiyung, Tempat Anak Korban Kekerasan Bisa Kembali Bahagia

Redaksi30 Mei 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Foto BeritaJatim.com

Surabaya – Di sebuah sudut tenang kawasan Wiyung Indah 8 No. 2, Surabaya, berdiri sebuah rumah sederhana namun penuh kehangatan dan cinta.

Rumah itu bukan sekadar tempat berlindung dari hujan dan panas, melainkan tempat yang memeluk luka-luka masa lalu dan mengubahnya menjadi harapan.

Di sanalah Panti Asuhan Samaria berdiri sebuah rumah bagi puluhan anak yang tengah tumbuh dengan kasih sayang, pendidikan, dan nilai-nilai kehidupan.

Panti Asuhan Samaria didirikan pada tahun 2000 oleh pasangan suami istri,  Samuel D.H. Matahelumual dan istrinya.

Pak Samuel adalah pria asal Ambon yang besar di tanah Jawa. Saat kerusuhan Maluku, ia merasakan duka mendalam terhadap anak-anak yang kehilangan keluarga akibat konflik.

Saat itu, ia berada di Surabaya dan tergerak untuk bertindak. Ia dan istrinya mulai merawat delapan anak pertama yang seluruhnya berasal dari Ambon.

Dari sinilah cikal bakal keluarga besar Samaria bermula rumah yang lahir dari empati dan kasih tanpa batas.

Seiring waktu, jumlah anak yang tinggal di Panti Samaria terus bertambah. Kini ada 31 anak, dan dua lagi akan segera bergabung.

Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia, diantaranya Madura, Nusa Tenggara Timur, dan wilayah-wilayah terpencil lainnya.

Latar belakang mereka pun beragam. Ada yang yatim piatu, ada pula yang masih memiliki keluarga namun harus dititipkan karena kondisi ekonomi. Beberapa bahkan berasal dari lingkungan terpencil, di mana akses pendidikan dan pengasuhan layak sulit didapat.

“Kami tidak hanya memberi tempat tinggal, tapi juga kasih sayang dan nilai-nilai hidup,” tutur Pak Samuel.

Ia tak sekadar menjadi pengasuh, tetapi juga sosok ayah yang sabar, tegas, dan penuh perhatian bagi anak-anaknya.

Keseharian di panti dimulai sejak pukul 04.00 pagi. Anak-anak bangun, berdoa, bersiap ke sekolah, memasak, dan membersihkan rumah secara bergantian. Disiplin menjadi fondasi, namun bukan berarti kaku. Mereka belajar hidup bersama, saling menghargai, dan membangun keluarga baru dengan kebersamaan sebagai inti.

Fasilitas di Panti Samaria terus diupayakan agar anak-anak tak merasa tertinggal. Ponsel, laptop, dan monitor tersedia demi menunjang pendidikan mereka.

Bahkan, beberapa di antara mereka kini sudah sukses ada yang menjadi chef, dosen, pengusaha, dan profesional di berbagai bidang. Bukti nyata bahwa kasih yang tulus bisa mengantar siapapun meraih mimpi.

Yang membanggakan, beberapa anak kini memiliki orang tua asuh, termasuk Ima, siswi kelas 3 SMP yang tengah mempersiapkan langkah besarnya: melanjutkan pendidikan tinggi di Australia bersama keluarga angkatnya.

Namun, di tengah semua pencapaian itu, satu hal yang selalu ditanamkan Pak Samuel: rendah hati dan tetap jadi diri sendiri.

“Pak Samuel itu tegas banget. Kalau kami salah, ya pasti dimarahi. Tapi habis itu, beliau malah ngajak ngobrol, kadang becanda juga. Jadi kami tahu marahnya bukan karena benci, tapi karena sayang,” ucap Ima sambil tersenyum.

Bagi Ima dan anak-anak lain, Pak Samuel lebih dari sekadar pengasuh beliau adalah ayah yang membimbing dengan sabar, meski menghadapi karakter anak-anak yang berbeda-beda.

Perjalanan membesarkan anak-anak dari berbagai latar belakang tentu tak selalu mulus. Namun, di tengah segala tantangan, Pak Samuel dan istrinya terus hadir sebagai figur orang tua yang memberikan perhatian, kedisiplinan, dan cinta yang mereka butuhkan untuk tumbuh.

Panti Asuhan Samaria juga mendapat dukungan dari berbagai gereja dan masyarakat yang tergerak hatinya. Bantuan datang dalam berbagai bentuk makanan, perlengkapan sekolah, hingga dukungan moral. Semua bersatu demi masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Samaria.

Di tengah dunia yang kerap lupa pada mereka yang kehilangan, Panti Asuhan Samaria hadir sebagai pengingat: bahwa cinta tanpa syarat, ketulusan, dan komitmen bisa menciptakan keajaiban. Di rumah kecil itu, setiap anak menemukan kembali arti keluarga bukan karena darah, tapi karena kasih.

Penulis: Kharis Niatwati Gea
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Univeritas Katolik Widya Mandala Surabaya

 

Fikom UKWM Panti asuhan Panti Asuhan Samaria
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026

Kimberly Tjoa Hidupkan Sosok Aurora dalam ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Aulia Azzahra Annisa Faiha Hidupkan Sosok Dona dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Optimalisasi System Perpajakan Melalui Penerapan Coretax

27 April 2026

Sustainably Speaking, Trashy Acting: Menagih Komitmen Hijau di Lantai Expo

15 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.