Surabaya – Kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo kini menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya volume sampah plastik yang mengancam ekosistem dan keberlangsungan wisata alam tersebut.
Sampah yang menumpuk ini mayoritas tersangkut pada akar dan batang pohon mangrove, sehingga menghambat pertumbuhannya dan mencemari kawasan wisata.
Menurut pihak pengelola, tumpukan sampah ini bukan hanya berasal dari sekitar area wisata, tetapi juga terbawa aliran Sungai Brantas dari wilayah hulu seperti Malang, Jombang, dan Kediri.
Hal ini diperparah dengan posisi geografis Surabaya yang berada di hilir sungai. “Mangrove ini berperan sebagai filter alami, jadi tidak heran kalau sampah dari berbagai daerah menumpuk di sini,” ujar David, perwakilan pengelola Ekowisata Mangrove Wonorejo, Minggu (11/5/2025).
David juga menambahkan bahwa masalah utama sejak dimulainya penanaman mangrove pada tahun 2008 adalah persoalan dana dan sampah.
“Setiap hari kami bisa mengumpulkan hingga 70 karung sampah berukuran 25 kg,” ungkapnya.
Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, pengelola rutin melakukan pembersihan kawasan, dibantu oleh berbagai pihak eksternal, terutama dari sektor pendidikan. Sekolah dasar hingga perguruan tinggi diajak terlibat melalui pengajuan proposal kolaborasi.
“Kami terbuka terhadap dukungan eksternal. Banyak mahasiswa dan pelajar yang datang untuk membantu bersih-bersih,” terang David.

Tak hanya pengelola, peran aktif pengunjung juga sangat dibutuhkan dalam menjaga kebersihan kawasan. Salah seorang pengunjung tetap, Lukman, menyatakan bahwa secara umum fasilitas di Ekowisata Mangrove cukup baik, namun aspek kebersihannya masih perlu ditingkatkan. Ia menyoroti perilaku hewan liar yang turut menyebarkan sampah.
“Tadi saya lihat bukan manusianya yang buang sampah, tapi ada monyet yang mengorek tong sampah dan menghamburkan isinya,” ujarnya.
David menegaskan pentingnya menjaga kawasan mangrove sebagai benteng alami Surabaya dari bencana. “Tanaman mangrove harus dijaga dan dilestarikan, karena fungsi utamanya menjadi pelindung Surabaya dari datangnya puting beliung,” tegasnya.
Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, pengelola, pengunjung, dan masyarakat sekitar sangat penting untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove. Keberhasilan dalam mengatasi permasalahan sampah plastik tidak hanya berdampak pada keindahan dan kebersihan kawasan wisata, tetapi juga pada kelangsungan fungsi ekologis hutan mangrove sebagai pelindung lingkungan perkotaan.
Penulis: Vanya Gabrielle dan Felicia Evelyn
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

