Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Seri Diskusi Urban Farming: Dorong Gen Z Jadi Penggerak Pertanian Kota

Seri Diskusi Urban Farming: Dorong Gen Z Jadi Penggerak Pertanian Kota

Agathon Agnar20 Juli 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Surabaya – Di tengah situasi perekonomian yang masih lesu, Sekolah Alam Petani Muda Nusantara (SAMPUN) kembali menggelar Seri Diskusi Urban Farming yang kali ini menyasar generasi Z sebagai motor penggerak masa depan bangsa.

Acara ini digelar di Sekretariat SAMPUN yang berlokasi di Jl. Rungkut Menanggal 26, Surabaya, pada Sabtu (19/7), dan bekerja sama dengan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Komisariat ITATS. Belasan pemuda dari berbagai daerah hadir untuk mengikuti diskusi yang membahas potensi pertanian kota sebagai solusi nyata atas persoalan pangan, pengangguran, dan urbanisasi.

Ketua Komisariat GMKI ITATS, Andris Korompis, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman yang membuka wawasan baru bagi peserta, khususnya para pemuda dari daerah yang sedang menempuh pendidikan di kota.

“Banyak anak-anak daerah ketika belajar di kota cenderung larut dengan gaya hidup perkotaan. Kegiatan ini menjadi katalisator bahwa desa adalah sumber penopang negara,” ujarnya.

Pemuda asal Toraja, Sulawesi Selatan ini juga menambahkan bahwa diskusi kali ini menyadarkannya kembali akan potensi besar dunia agraris. Menurutnya, paradigma lama yang menganggap bahwa pekerjaan hanya terbatas pada menjadi karyawan atau pedagang perlu diubah.

“Selama ini kita menganggap dunia pertanian tidak bisa diharapkan atau tidak memiliki potensi. Kita tahu kerja itu jadi karyawan, atau berdagang pada umumnya. Paling apes buka kios, hahaha…” ujarnya sambil tertawa.

Sementara itu, pendiri SAMPUN, Evan Binsar Siahaan, menjelaskan bahwa urban farming adalah solusi menyeluruh yang ditawarkan untuk menjawab tantangan kota modern, mulai dari tingginya angka pengangguran pemuda, minimnya akses terhadap pangan sehat dan murah, hingga degradasi lingkungan.

“Kami tidak hanya menanam sayur atau beternak ayam. Kami sedang membangun roda kehidupan kota yang lebih sehat, adil, dan mandiri. SAMPUN adalah jawabannya,” tegas Evan dalam sesi diskusi tersebut.

SAMPUN sendiri mengembangkan ekosistem hidup berbasis empat pilar utama: ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan sosial. Dari sisi ekonomi, mereka memproduksi sayuran, belut, ayam, maggot, dan ikan dalam ember, serta mengolahnya menjadi produk seperti abon belut, telur herbal, dan kompos organik. Distribusinya dilakukan secara mandiri melalui koperasi dan pasar komunitas.

Dalam aspek pendidikan, SAMPUN mendirikan sekolah alam untuk anak-anak agar mengenal pangan dan lingkungan sejak dini. Mereka juga menyediakan pelatihan pertanian dan peternakan bagi pemuda NEET (Not in Employment, Education or Training), serta menghadirkan sistem mentor dari petani senior ke generasi muda. Di sektor lingkungan, program urban farming SAMPUN dilakukan di lahan tidur, pekarangan, dan rooftop, serta dilengkapi dengan sistem komposting dan air terintegrasi yang menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan mengurangi sampah organik.

Sedangkan pada aspek sosial, SAMPUN mendorong kegiatan seperti tukar hasil panen, dapur komunitas, gotong royong kebun warga, hingga klinik pertanian dan lomba inovasi lokal. Menurut data, lebih dari 22% pemuda Indonesia tergolong NEET, dan di kota besar seperti Surabaya, tingginya biaya hidup menjadi tantangan tersendiri. Melalui pelatihan praktis, beasiswa urban farming, dan inkubasi usaha kecil berbasis pangan kota, SAMPUN menargetkan pemberdayaan pemuda sebagai langkah nyata perubahan.

“Bagi kami, petani kota bukan sekadar profesi tapi gerakan perubahan. Anak-anak kota perlu tahu bagaimana menanam makanannya sendiri. Dan anak muda harus melihat tanah sebagai peluang, bukan keterbatasan,” pungkas Evan.

Anak Muda Bertani Edukasi Lingkungan Generasi Z Pertanian Kota Surabaya Urban Farming
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026

Kimberly Tjoa Hidupkan Sosok Aurora dalam ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Aulia Azzahra Annisa Faiha Hidupkan Sosok Dona dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

29 April 2026

Optimalisasi System Perpajakan Melalui Penerapan Coretax

27 April 2026

Sustainably Speaking, Trashy Acting: Menagih Komitmen Hijau di Lantai Expo

15 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026

Athira Rafsya Azzahra Hidupkan Peran Krusial di ‘Call 911’ Bersama Lady Nayoan Kjaernett”

2 Mei 2026

Di Balik Sikap Cueknya, Firzha Maulana Krishnanda Menjadi Kunci Misteri dalam Film “Call 911”

1 Mei 2026

Shaqila Zahfa Dafiana Hidupkan Sosok Karin dalam “Call 911” Bersama Lady Nayoan Kjaernett

30 April 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.