Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Kisah Grandong, Pemulung Kedondong Surabaya: Hidup dalam Keterbatasan

Kisah Grandong, Pemulung Kedondong Surabaya: Hidup dalam Keterbatasan

Gracia Metta Ongkowidjojo5 Juni 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Foto BeritaJatim.com
Grandong, warga Kedondong yang hidup sebatang kara dan bekerja sebagai pemulung, tampak tengah memindahkan sampah ke dalam mesin press bersama rekannya di tempat pengepulan sampah (TPS Kedondong, Surabaya). Kegiatan ini menjadi bagian dari rutinitasnya untuk bertahan hidup meski tanpa penghasilan tetap dan dalam kondisi hidup yang serba terbatas, Senin (02/06/2025). (Fotografer Michael Qavahnatanael/Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS).

Surabaya –  Hidup sebatang kara dan bekerja serabutan sebagai pemulung, itulah keseharian Arif Catur Kusuma atau yang akrab disapa Grandong, warga Kedondong 1 Nomor 30, Surabaya.

Pria berusia sekitar 29 tahun ini menjadi perhatian warga sekitar karena kehidupannya yang penuh keterbatasan, namun tetap bertahan tanpa banyak mengeluh.

Grandong tinggal di rumah peninggalan neneknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Atap rumah bocor, dinding kotor, dan banyak barang bekas yang menumpuk di dalam rumah.

“Banyak kecoak di dalam. Gentengnya bocor semua. Tapi dia betah tinggal di situ,” kata Mariati (47), tetangganya.

Menurut Mariati, Grandong dulunya tinggal bersama ibu dan neneknya. Namun setelah keduanya meninggal sekitar 12 tahun lalu, ia tinggal sendiri.

“Ibunya jarang pulang, kemudian sakit lama-lama meninggal. Sekarang tidak ada yang ngurus,” tambahnya.

Sehari-hari, Grandong bekerja sebagai pemulung dan pengangkut sampah. Ia biasa bekerja di sekitar TPS Kedondong, Bon Ami, hingga Taman Kartika sebagai rute mengangkut sampahnya. Aktivitasnya tidak teratur dan tergantung panggilan.

“Kalau ada yang nyuruh, baru bangun dan kerja. Kalau enggak, ya tidur,” kata Muhammad Rokhin (36), salah satu rekannya.

Pekerjaan Grandong tergolong berat. Ia mengumpulkan sampah, membawanya ke tempat pengepulan, lalu membantu memasukkan ke mesin press.

Meski begitu, ia tidak menerima gaji tetap. Penghasilannya tergantung dari seberapa banyak ia bekerja dalam sehari. “Kadang cuma cukup buat makan. Kalau enggak ada uang, ya gak makan,” ujar Bu Mariati.

Grandong tidak memahami nilai uang dengan baik. Ia hanya mengenali nominal secara kasar. “Kalau dikasih Rp10.000 ya diterima. Tapi dia gak tahu kembalian atau sisa uangnya. Kalau beli makanan, sering bingung,” ungkap Muryati. Bahkan saat diberi sembako, ia memilih menukarnya dengan uang agar lebih mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dari sisi pendidikan, Grandong hanya sempat sekolah hingga kelas dua SD. Ia juga tidak bisa membaca dan menulis dengan lancar. Sebelum menjadi pemulung, Grandong sempat mengamen dan menggembala kambing. Sekarang, ia bekerja di wilayah Dinoyo, mengikuti keponakannya.

Meski tinggal di lingkungan kumuh dan jarang mandi, Grandong dikenal warga sebagai sosok yang jarang sakit. “Gak pernah kena flu atau demam. Padahal tempat tinggalnya lembab dan kotor,” kata Rokhin.

Kepedulian warga sekitar menjadi penopang utama kehidupannya. Tetangga dan pengurus RT sesekali memberi bantuan berupa sembako, pulsa listrik, atau uang tunai. Namun tidak ada bantuan resmi dari pemerintah atau program sosial yang menyentuh kehidupannya secara berkelanjutan.

Kisah Grandong mencerminkan wajah lain Kota Surabaya, di mana masih ada warga miskin kota yang hidup dalam keterasingan dan keterbatasan. Ia adalah simbol bagaimana sistem sosial belum sepenuhnya merangkul mereka yang hidup di pinggiran, meskipun hanya beberapa kilometer dari pusat kota.

Penulis: Gracia Metta Ongkowidjojo
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Fikom UKWM Pemulung Surabaya
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026

Di Atas Polemik, Reog Harus Tetap Menjadi Pemenang

18 Juni 2026

Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

18 Juni 2026

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.