Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, membawa tumbler kini telah menjadi bagian dari gaya hidup modern, khususnya di kalangan generasi muda urban.
Dari kampus, kantor, pusat kebugaran, hingga coffee shop, tumbler tidak lagi dipandang sekadar wadah minum yang dapat digunakan ulang, melainkan simbol identitas sosial dan representasi gaya hidup berkelanjutan.
Banyak orang merasa lebih peduli lingkungan ketika membawa tumbler sendiri dibanding menggunakan gelas sekali pakai. Bahkan, tidak sedikit coffee shop dan merek gaya hidup yang menjadikan tumbler sebagai bagian dari strategi green branding untuk membangun citra ramah lingkungan di mata konsumen.
Namun di balik meningkatnya popularitas tumbler, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah penggunaan tumbler benar-benar mencerminkan perilaku hidup berkelanjutan, atau justru hanya menjadi bagian dari ilusi konsumsi hijau modern?
Fenomena tumbler hari ini menunjukkan bahwa keberlanjutan telah berubah menjadi bagian dari budaya konsumsi.
Produk reusable kini tidak hanya dipandang sebagai solusi lingkungan, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup, status sosial, dan identitas personal. Dalam budaya digital yang sangat visual, membawa tumbler tertentu sering kali memiliki makna sosial yang lebih luas daripada sekadar mengurangi sampah plastik.
Banyak generasi muda membawa tumbler ke coffee shop sambil mengunggahnya di media sosial, menjadikannya bagian dari aesthetic lifestyle yang identik dengan citra modern, sehat, produktif, dan sadar lingkungan. Dalam konteks ini, tumbler telah berubah menjadi symbolic consumption, yakni konsumsi yang dilakukan bukan hanya karena fungsi produk, tetapi karena makna sosial yang melekat di dalamnya.
Ironisnya, di sinilah paradoks keberlanjutan mulai muncul. Banyak konsumen percaya bahwa membeli tumbler otomatis berarti telah berkontribusi terhadap lingkungan. Padahal secara empiris, dampak lingkungan tumbler tidak sesederhana itu. Dalam kajian life cycle assessment (LCA), sebuah produk reusable baru dapat dikatakan lebih ramah lingkungan jika digunakan secara konsisten dalam jangka panjang.
Penelitian Cottafava et al. (2021) serta Eleni dan Boukouvalas (2025) menunjukkan bahwa tumbler harus digunakan berkali-kali sebelum benar-benar menghasilkan dampak lingkungan yang lebih rendah dibanding gelas sekali pakai. Break-even point tersebut bervariasi, mulai dari sekitar 20 hingga lebih dari 130 kali penggunaan, tergantung material produk, proses produksi, dan metode pencuciannya. Artinya, tumbler tidak otomatis menjadi solusi berkelanjutan hanya karena memiliki label reusable.
Fakta ini menjadi penting karena banyak konsumen justru membeli tumbler lebih sebagai bagian dari tren dibanding kebutuhan penggunaan jangka panjang. Tidak sedikit orang memiliki lebih dari satu tumbler dengan desain, warna, atau edisi berbeda. Fenomena ini memperlihatkan bahwa produk yang awalnya dirancang untuk mengurangi konsumsi justru dapat berubah menjadi objek konsumsi baru.
Dalam beberapa tahun terakhir, budaya koleksi tumbler berkembang sangat cepat, terutama melalui media sosial. Fenomena Stanley Cup pada periode 2022–2024 menjadi contoh paling nyata. Produk reusable yang seharusnya mendukung sustainability justru berubah menjadi lifestyle commodity yang diburu konsumen karena pengaruh influencer, limited edition drops, dan viral marketing.
Laporan The 19th News (2024) dan Frontier Group (2024) menunjukkan bagaimana tumbler berkembang menjadi simbol status sosial dan bagian dari budaya konsumsi visual. Banyak konsumen membeli tumbler bukan karena belum memiliki wadah minum reusable, tetapi karena ingin mengikuti tren, membangun identitas sosial, atau memperoleh pengakuan dalam komunitas digital tertentu.
Fenomena ini memperlihatkan paradoks besar dalam green consumerism modern. Produk yang dipromosikan untuk mengurangi limbah justru dipasarkan melalui logika konsumsi yang sama dengan fast fashion: limited edition, emotional branding, scarcity marketing, dan social desirability. Sustainability akhirnya berubah menjadi bagian dari ekonomi simbolik.
Di sisi lain, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa memiliki tumbler tidak selalu berarti konsumen akan menggunakannya secara konsisten. Nicolau et al. (2022), Herweyers et al. (2024), dan Alinejad et al. (2022) menemukan adanya gap antara niat dan perilaku dalam penggunaan produk reusable. Banyak konsumen sebenarnya memiliki kesadaran lingkungan dan ingin mengurangi sampah plastik, tetapi tidak selalu mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Hambatan praktis menjadi salah satu penyebab utama. Konsumen sering lupa membawa tumbler, merasa repot mencuci, atau menganggap penggunaannya kurang praktis dalam mobilitas harian. Selain itu, minimnya insentif dari coffee shop juga membuat banyak konsumen tetap memilih gelas sekali pakai. Kondisi ini menunjukkan bahwa perilaku berkelanjutan tidak hanya dipengaruhi oleh kesadaran ekologis, tetapi juga oleh kenyamanan, kebiasaan, dan sistem pendukung yang tersedia.
Lebih jauh lagi, penggunaan tumbler juga berkaitan erat dengan performativitas identitas hijau. Wild dan Schulze Heuling (2024) menunjukkan bahwa produk reusable dapat berfungsi sebagai social signal yang menandakan seseorang sebagai bagian dari komunitas “peduli lingkungan”. Dalam budaya media sosial, membawa tumbler sering kali menjadi simbol moral dan identitas gaya hidup tertentu.
Namun ketika sustainability lebih banyak dipertontonkan daripada dipraktikkan secara substantif, maka muncul apa yang disebut sebagai performative sustainability. Konsumen ingin terlihat sadar lingkungan, tetapi belum tentu benar-benar mengubah pola konsumsi mereka secara keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, keberlanjutan berisiko berubah menjadi estetika sosial semata.
Paradoks tersebut semakin diperkuat oleh konsep moral licensing dalam perilaku konsumen. Ketika seseorang merasa telah melakukan tindakan “baik” bagi lingkungan — misalnya menggunakan tumbler reusable — mereka dapat merasa memiliki legitimasi moral untuk tetap melakukan konsumsi berlebihan di area lain. Akibatnya, penggunaan tumbler justru dapat menciptakan ilusi keberlanjutan tanpa benar-benar mengurangi budaya konsumtif.
Tidak hanya itu, isu keamanan material tumbler juga mulai menjadi perhatian. Kontroversi mengenai kandungan timbal (lead) dalam segel vakum Stanley Cup pada tahun 2024 memunculkan pertanyaan baru mengenai keamanan produk reusable secara holistik. Laporan Lead Safe Mama dan Consumer Product Safety Commission (CPSC) menunjukkan bahwa produk reusable pun tetap memiliki risiko apabila transparansi material dan standar produksi tidak dijaga dengan baik.
Fakta ini memperlihatkan bahwa sustainability tidak bisa dipahami secara dangkal hanya melalui simbol “eco-friendly” atau reusable. Konsumen perlu memahami keseluruhan siklus hidup produk, mulai dari bahan baku, proses produksi, penggunaan, hingga dampak akhirnya terhadap lingkungan.
Dalam konteks Indonesia, fenomena tumbler menjadi semakin menarik karena berkembang bersamaan dengan budaya coffee shop, work-from-cafe, dan gaya hidup digital Generasi Z. Membawa tumbler kini telah menjadi bagian dari identitas urban modern. Banyak coffee shop bahkan menawarkan diskon khusus bagi konsumen yang membawa tumbler sendiri sebagai bagian dari strategi green marketing mereka.
Namun pertanyaan pentingnya tetap sama: apakah praktik tersebut benar-benar mencerminkan perubahan perilaku konsumsi menuju keberlanjutan, atau sekadar membangun citra hijau yang nyaman dipertontonkan di media sosial?
Pada akhirnya, fenomena tumbler memperlihatkan bahwa tantangan terbesar sustainability modern bukan hanya menciptakan produk ramah lingkungan, tetapi mengubah budaya konsumsi itu sendiri. Sebab keberlanjutan yang sejati tidak dibangun dari seberapa banyak produk reusable yang dimiliki, melainkan dari seberapa konsisten masyarakat mampu mengurangi konsumsi yang tidak perlu.
Tumbler mungkin memang dapat menjadi bagian dari solusi lingkungan. Namun ketika produk reusable berubah menjadi objek tren, koleksi, dan simbol status sosial, maka sustainability berisiko kehilangan makna substansialnya. Di titik inilah tumbler tidak lagi sekadar wadah minum, melainkan cermin dari paradoks gaya hidup berkelanjutan generasi modern.
Referensi
Alinejad, M., et al. (2022). Consumer adoption barriers toward reusable products and sustainable consumption behavior. Journal of Consumer Behaviour.
Cottafava, D., et al. (2021). Life cycle assessment of reusable and single-use beverage containers: Environmental break-even points and sustainability implications. Sustainable Production and Consumption.
Eleni, P., & Boukouvalas, C. (2025). Environmental and economic impacts of substituting single-use plastic straws: A life-cycle assessment for Greece. Polymers, 17(9), Article 1235. https://doi.org/10.3390/polym17091235
Frontier Group. (2024). The Stanley Cup phenomenon and the paradox of sustainable consumerism. Frontier Group Report.
Herweyers, L., et al. (2024). Understanding reusable cup adoption: Behavioral barriers, incentives, and sustainable consumption practices. Journal of Environmental Psychology.
Lead Safe Mama. (2024). Lead concerns in reusable tumbler products and consumer safety issues. https://tamararubin.com
Nicolau, J. L., et al. (2022). Incentives, behavioral intention, and reusable consumption practices in sustainable consumer behavior. Sustainability.
The 19th News. (2024). How Stanley Cups became a cultural phenomenon among consumers. https://19thnews.org
Wild, F., & Schulze Heuling, L. (2024). Green identity and performative sustainability in reusable product consumption. Consumption Markets & Culture.
*) Dewi Deniaty Sholihah, SE, MM, CSBA
Dosen Program Studi Manajemen UPN Veteran Jawa Timur

