Di antara riak ombak Selat Madura, membentang gagah sebuah mahakarya yang menghubungkan dua daratan: Pulau Jawa dan Madura.
Namanya, Jembatan Nasional Suramadu, jembatan terpanjang di Indonesia yang membelah lautan dengan panjang 5.438 meter.
Bagi warga Surabaya, Madura, dan sekitarnya, Suramadu bukan sekadar jalur penghubung, melainkan simbol kemajuan sekaligus destinasi wisata yang memikat hati, baik di bawah terik matahari maupun dalam dekapan cahaya malam.
Siang hari, Suramadu seperti sapuan garis tegas di atas kanvas biru laut. Dari balik kemudi, pengendara dapat melihat hamparan Selat Madura terbentang di kiri dan kanan, sementara di kejauhan, Patung Jalesveva Jayamahe dan Pantai Kenjeran berdiri sebagai latar megah. Terkadang, perahu-perahu nelayan terlihat melintas, menambah sentuhan hidup di panorama biru yang menyejukkan mata.
Namun, saat malam tiba, jembatan ini menjelma menjadi panggung cahaya. Lampu-lampu di menara utama memancarkan warna yang berpendar di langit gelap, menciptakan siluet elegan yang kerap diabadikan oleh kamera para pemburu momen. Suasana menjadi lebih intim, seolah setiap cahaya yang berkelip mengundang siapapun untuk singgah lebih lama.
Struktur Suramadu terbagi dalam tiga bagian: jembatan utama di tengah, dua jembatan penghubung menuju daratan Surabaya dan Madura, serta flyover yang menjadi akses awal. Panjang totalnya mencakup 1.458 meter di sisi Surabaya, 1.818 meter di sisi Madura, dan 627 meter jembatan penghubung. Pembangunannya menelan biaya fantastis, sekitar Rp4,5 triliun, menjadikannya salah satu proyek infrastruktur paling ambisius di negeri ini.
Bagi mereka yang ingin menikmati Suramadu dari perspektif berbeda, tersedia pilihan untuk berlayar di bawahnya.
Dari Pelabuhan Tanjung Perak, Kapal Cokroaminoto siap membawa wisatawan berkeliling selama sekitar satu jam.
Dengan kapasitas 20 penumpang, perjalanan laut ini menawarkan pengalaman intim: melihat Suramadu dari bawah, merasakan semilir angin laut, dan menyaksikan perpaduan air, baja, dan cahaya dalam harmoni yang sulit dilupakan.
Suramadu bukan hanya bentang baja dan beton. Ia adalah kisah perjalanan, pertemuan dua budaya, dan keindahan yang tak lekang waktu—baik di bawah langit biru siang, maupun dalam kilau malam yang tak pernah lelah memanggil kembali siapa saja yang pernah melintas. (ted)

