Tembang-tembang dolanan karya Sunan Giri seperti Turi-Turi Putih, Cublak-Cublak Suweng dan Padhang Bulan dapat dijadikan sebagai sarana dakwah. Tembang-tembang tersebut mengingatkan penulis bahwa tembang dolanan merupakan bagian dari kebudayaan Jawa yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Sejak zaman dahulu, tembang dolanan menjadi tembang yang akrab oleh kalangan anak-anak. Selain sebagai sarana dakwah, tembang dolanan merupakan warisan budaya dari para leluhur yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi lirik-liriknya mengandung nilai pendidikan yang mendalam. Melalui lirik-lirik yang sederhana dan berirama mudah dicerna, tembang ini mengajarkan akhlak, sopan santun, dan moral kepada anak-anak sejak usia dini.
Tembang dolanan diwariskan secara turun-temurun dan tetap hidup di tengah masyarakat. Tembang ini menjadi media yang tepat untuk mengenalkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak. Dalam praktiknya orang tua dan guru sering memanfaatkannya sebagai bahan ajar, karena tembang dolanan dapat menyampaikan pesan moral dengan cara yang halus dan menyenangkan kepada anak tanpa terasa menggurui.
Dengan demikian, salah satu cara yang efektif untuk membentuk karakter anak yaitu melalui pengenalan tembang dolanan. Pemaknaan lirik dalam lagu-lagu dolanan dapat menjadi sarana stimulasi yang positif bagi perkembangan perilaku anak. Melalui tembang, anak belajar mengendalikan tingkah laku dan menghindari kebiasaan yang kurang baik.
Tembang dolanan merupakan bagian dari sastra lisan yang berperan dalam mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda. Dalam tradisi Jawa, sastra lisan seperti dongeng, permainan anak, tembang, peribahasa, hingga pertunjukan wayang menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Berawal dari kebiasaan masyarakat yang sudah akrab dengan tembang dalam kehidupan sehari-hari, Sunan Giri menjadikan tembang dolanan sebagai sarana dakwah agar ajaran Islam lebih mudah diterima. Dengan memanfaatkan kesenian yang sudah dikenal masyarakat untuk menyampaikan pesan moral dan keagamaan dengan cara yang lembut dan menyenangkan.
Tidak hanya Sunan Giri, beberapa wali lain seperti Sunan Muria, Sunan Kalijaga, dan Sunan Bonang juga menggunakan tembang sebagai sarana dakwah. Melalui pendekatan ini, para wali berhasil menyebarkan ajaran Islam tanpa paksaan, melainkan melalui karya seni yang dekat dengan kehidupan rakyat.
Sunan Giri menyampaikan ajaran keagamaan kepada masyarakat melalui tembang-tembang dolanan Jawa. Salah satunya yaitu Turi-Turi Putih, Cublak-Cublak Suweng dan Padhang Bulan. dalam tembang-tembang dolanan ini beliau menanamkan pesan keagamaan dan nasihat hidup dengan cara yang lembut dan mudah diterima, terutama oleh anak-anak.
Tembang-tembang itu dahulu akrab dilantunkan orang tua kepada anaknya saat bermain atau menjelang tidur. Di sela-sela nyanyian sederhana, tersimpan nilai moral yang dalam: tentang kejujuran, kebersamaan, serta rasa syukur kepada Tuhan.
Namun kini, kebiasaan menyanyikan tembang dolanan mulai pudar. Anak-anak lebih mengenal lagu-lagu modern yang hanya memberi hiburan sesaat tanpa membawa nilai pendidikan.
Orang tua pun jarang memperkenalkan tembang daerah kepada anak-anaknya karena dianggap kuno dan tertinggal zaman. Padahal, di balik kesederhanaannya, tembang dolanan sendiri menyimpan kekuatan besar dalam membentuk karakter dan mengasah kepekaan batin anak.
Fenomena ini secara nyata menggambarkan bagaimana nilai-nilai budaya luhur perlahan terpinggirkan oleh pengaruh budaya modern yang serba instan. Tembang dolanan, yang dahulu menjadi wadah kedekatan antara orang tua dan anak, kini semakin jarang terdengar dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal, di dalamnya terkandung nilai-nilai moral dan spiritual seperti religiusitas, tanggung jawab, kejujuran, serta kasih terhadap sesama yang penting ditanamkan sejak dini. Jika tradisi ini terus dibiarkan memudar, yang hilang bukan hanya tembang dolanan itu sendiri, tetapi juga jati diri serta kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas budaya kita.
Dalam karya-karya tembang dolanan Sunan Giri yang berjudul Cublak-Cublak Suweng terdapat makna simbolis yang mendalam. Secara filosofis, tembang ini menggambarkan perjalanan manusia dalam mencari kebenaran dan kebijaksanaan hidup. Kata suweng (anting) melambangkan sesuatu yang berharga, bukan sekadar harta benda, melainkan ilmu, iman, dan kebajikan yang bernilai abadi.
Sementara itu, kata cublak yang berarti “tempat” atau “wadah” menggambarkan hati manusia sebagai tempat menyimpan nilai-nilai luhur tersebut. Bagian lirik “Sir-sir pong dele “kopong” menyiratkan peringatan agar manusia tidak menjadi hampa seperti kedelai kosong, artinya tidak boleh hanya mementingkan penampilan luar tanpa mengisi diri dengan ilmu dan akhlak. Kalimat “Golekna suwenge, suwenge ana ing dhadhane wong” bermakna bahwa kebenaran sejati tidak perlu dicari di luar diri, sebab berada di dalam hati manusia yang bersih dan ikhlas. Dengan demikian, tembang ini mengandung ajaran moral, spiritual, sekaligus religius: manusia harus introspektif, tidak tamak, dan senantiasa mencari nilai kehidupan sejati dalam dirinya.
Siapa sangka, sebuah tembang sederhana yang dahulu kerap dilantunkan oleh anak-anak ternyata mengandung nilai-nilai kehidupan yang begitu mendalam. Lantas, pantaskah tembang dolanan ini diabaikan begitu saja? Tentu tidak. Sudah sepatutnya tradisi tersebut dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai upaya mempertahankan identitas budaya serta memperkuat nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat.
Bermula dari sebuah tembang dolanan, kita dapat memahami bahwa karya sastra lisan bukan sekadar nyanyian pengiring permainan anak-anak, melainkan sarana pendidikan yang mempunyai nilai dan makna kehidupan. Di balik syair-syair sederhana, tersimpan pesan moral, spiritual, dan sosial yang mampu membentuk karakter serta kepekaan batin anak sejak dini.
Oleh karena itu, pembelajaran tidak hanya dapat diperoleh melalui bangku sekolah, tetapi juga melalui warisan budaya seperti tembang dolanan yang mengajarkan kebijaksanaan hidup dengan cara yang lembut dan menyenangkan. Maka, bukan saatnya kita melupakan atau mengabaikan tradisi ini. Sudah seharusnya tembang dolanan kembali dikenalkan kepada generasi muda sebagai bekal moral dan budi pekerti yang akan membimbing mereka menuju kehidupan yang lebih beradab dan bermakna.
Neila Hayuningsih
Mahasiswi PBJ 2022 STKIP PGRI Ponorogo

