Surabaya – Bagi siswa kelas 10 Santa Maria di Surabaya ini, musik bukan hanya alat untuk bersenang-senang, tetapi juga media untuk mengembangkan keterampilan, mengekspresikan diri, serta memberikan kontribusi pada masyarakat.
Ya, Gabriel Steven sukses mengatur kegiatan sekolah sambil menjalankan tugas sebagai pelayanan di Gereja Katedral Surabaya – Hati Kudus Yesus (HKY).
Selain menemani misa dan aktivitas keagamaan, ia secara teratur berlatih dan mempelajari teknik musik organ kontemporer, sehingga keterampilan musikalnya senantiasa meningkat.
Komitmen dan dedikasi yang kuat menunjukkan bahwa dengan dukungan lingkungan dan disiplin, seorang siswa dapat menggabungkan pendidikan formal dengan pengembangan bakat, seraya memberikan kontribusi positif untuk masyarakat.
Awal Ketertarikan pada Musik
Sejak kelas 3 SD, ia telah menunjukkan ketertarikan yang besar pada musik, terutama organ modern. Dorongan dari orang tua serta motivasi untuk belajar secara mandiri memacu dirinya untuk terus mengembangkan keterampilan dalam memahami nada, ritme, dan harmoni.
“Sejak kecil, saya mengajar diri sendiri, mengeksplorasi berbagai nada dan ritme, serta merasa senang saat bisa memainkannya dengan baik,” tuturnya.
Minat ini kemudian bertransformasi menjadi partisipasi aktif dalam pelayanan musik di gereja. Ketika kelas 5 SD, ia pertama kali membantu pelayanan musik di Gereja Katolik St. Philipus Wonodadi Srengat Blitar, pengalaman yang memberi dia rasa percaya diri dan keyakinan untuk tampil di hadapan umat.

Kegiatan ini mengasah keterampilan teknis sambil membangun disiplin, konsistensi, serta rasa tanggung jawab. Baginya, bermain organ tidak hanya sekadar hiburan, tapi juga sebagai bentuk ungkapan syukur, menggugah emosi jemaat, dan memperkuat ikatan rohani dengan komunitas gereja.
Menemukan Gaya dan Ekspresi Musik
Pada awal karirnya sebagai pemain organ, ia sering mempelajari gaya bermain para musisi lain sebagai acuan untuk memahami teknik dan irama.
Ia menjelaskan, “Pertama-tama saya mengamati cara mereka memainkan organ, berusaha menangkap gaya dan cara mereka mengekspresikan musik, kemudian menirunya sebisa mungkin.”
Seiring berjalannya waktu, ia mulai menciptakan gaya yang lebih sesuai dengan kenyamanan dan kepribadian dirinya, sehingga penampilannya menjadi semakin autentik dan ekspresif.
Lagu-lagu persembahan dan komuni menjadi pilihan utama karena memberikan ruang untuk mengekspresikan emosi serta menyampaikan makna melalui musik.
Bagi dia, musik adalah lebih dari sekadar susunan nada, tetapi juga alat komunikasi yang dapat menghubungkan dengan masyarakat. Dia merasa sangat senang ketika melihat reaksi jemaat berupa senyuman dan semangat saat menikmati musik yang dibawakannya.
“Momen-momen tersebut membuat saya memahami, bahwa bermain organ bukan hanya mengenai teknik, tetapi juga kemampuan untuk menyentuh perasaan orang lain melalui setiap nada dan ritme,” ujarnya.
Menyeimbangkan Sekolah dan Pelayanan
Menyeimbangkan waktu antara aktivitas sekolah dan pelayanan musik merupakan tantangan yang unik baginya.
Ia menyatakan bahwa dari hari Senin sampai Jumat sepenuhnya diarahkan untuk kegiatan akademis, sedangkan pada akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu, waktu keseluruhannya digunakan untuk menjalankan pelayanan musik di gereja.
“Saya perlu cerdas dalam mengatur waktu agar semua aktivitas dapat berlangsung dengan baik.” “Setelah pelayanan, saya sering langsung melanjutkan belajar untuk menyelesaikan tugas atau mempersiapkan ujian,” ujarnya.
Kelelahan, baik secara fisik maupun mental, sering kali muncul karena tingginya tingkat kegiatan. Namun, sokongan dari para guru serta teman-teman di sekolah memberikan motivasi ekstra yang membuatnya tetap bersemangat.
Mereka tidak hanya menghargai pencapaiannya, tetapi juga memberi kesempatan untuk membawakan musik saat misa di sekolah, sehingga pengalaman ini memperluas pandangan musikal sekaligus melatih disiplin, rasa tanggung jawab, dan kemampuan mengatur waktu dari usia muda.
Tantangan dan Pelajaran Berharga
Tantangan yang paling besar dialaminya ketika latihan bersama kelompok yang anggotanya beragam, mulai dari anak muda hingga orang dewasa.
Situasi ini menuntutnya untuk belajar bersabar, menyesuaikan diri, dan kadang mengalah demi terciptanya keharmonisan dalam permainan musik.
Selain itu, pengalaman pertamanya tampil di depan umat membuatnya merasakan kegugupan yang cukup tinggi. Ia menceritakan, “Awalnya saya takut melakukan kesalahan atau mengecewakan umat. Namun, saya menyadari bahwa dengan latihan rutin dan fokus, rasa cemas itu perlahan bisa dikendalikan.”
Tidak hanya itu, ia juga memahami bahwa etika dalam pelayanan musik sama pentingnya dengan keterampilan teknis.
Bermusik di gereja tidak semata-mata soal kemampuan memainkan alat, tetapi juga tentang menghormati sesama anggota tim, mendengarkan dengan seksama, dan menyesuaikan diri agar pelayanan berlangsung lancar dan harmonis.
Melalui pengalaman ini, ia merasa tidak hanya kemampuan musikalnya yang meningkat, tetapi juga kedewasaan pribadinya dalam menghadapi tantangan, berinteraksi dengan orang lain, dan menempatkan musik sebagai media pengabdian yang penuh tanggung jawab.

Target dan Inspirasi bagi Generasi Muda
Ke depan, ia berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan bermain organ, memperluas gaya musiknya, serta menjadikan musik sebagai hobi jangka panjang dan kesempatan sebagai pembuat konten.
“Saya berharap keterampilan ini tidak hanya berguna untuk pelayanan di gereja, tetapi juga dapat menginspirasi orang lain melalui musik,” katanya .
Pesan untuk generasi muda adalah untuk berani mengikuti minat, mempertahankan disiplin, dan bijak dalam membagi waktu antara belajar dan berlatih.
Dengan konsistensi, komitmen, dan lingkungan yang mendukung, ia menunjukkan bahwa hobi dapat bertransformasi menjadi pencapaian yang membanggakan dan memberi pengaruh positif, karena musik baginya bukan sekadar teknik, tetapi juga cara untuk mengekspresikan rasa syukur dan menginspirasi masyarakat.
Penulis: Prayson Solavide Panjaitan
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

