Surabaya (beritajatim.com) – Di usia 27 tahun, Dias Tedjo memilih jalur hidup yang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Ia meninggalkan pekerjaan bergaji tinggi di perusahaan kontraktor asal China untuk merintis usaha keripik miliknya.
Keputusan itu sempat membuat keluarganya bingung, bahkan sebagian besar meragukan hal tersebut karena dianggap terlalu beresiko.
Namun bagi Dias, hidup yang hanya berputar pada rutinitas kantor bukan hal yang dia inginkan. Ia menginginkan tantangan, kebebasan, dan ruang untuk memaksimalkan passion yang sudah ada sejak dirinya SMA.
Kecintaan Dias pada dunia bisnis bukan hal baru. Ia pernah mencoba berbagai usaha, mulai dari berjualan skincare, cuci sepatu, tahu walik, hingga molen mini.
Ketika bekerja sebagai karyawan pada awal 2024, ia kembali mencoba peluang kecil sebagai reseller keripik kentang dari Jawa Barat. Awalnya dia coba membeli 1 kilogram barang, lalu mengajak pacarnya, Alfa Betha untuk membantu membagikannya ke rekan kerjanya. Tak disangka, respon positif justru membuka peluang baru untuk usahanya.
Namun titik balik terjadi saat permintaan meningkat menjelang Idul Fitri. Supplier keripik miliknya kewalahan menerima pesanan dari banyak pihak sehingga tidak bisa lagi mengirim. Dias dihadapkan pilihan untuk membatalkan pesanan atau membuatnya sendiri.

Ia memilih untuk mulai memproduksi keripik kentang itu sendiri. Keputusan itu menuntutnya memahami produksi mulai dari memilih kentang, menentukan suhu dan durasi penggorengan, hingga pengemasan.
Melihat banyak orang menyukai produknya tersebut, Dias mulai bereksperimen meracik bumbunya sendiri. Ia belajar tentang perbedaan jenis keripik kentang, ketebalan irisan, hingga teknik dua kali penggorengan yang ia temukan dari berbagai referensi. Sebagian besar proses ia jalani sepulang kerja, larut malam, sambil terus mengevaluasi.
Di tengah perjuangan itu, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya pada Februari 2025. “Kalau kita fokus pada tujuan, Tuhan pasti kasih jalan,” ujarnya. Keputusan itu diambil setelah ia melihat peluang bahwa UMKM keripik kentang di Surabaya masih minim pemain. Bersama sang pacar, ia mematangkan brand TETATO, gabungan dari nama Tedjo, Alfa Betha, dan kata potato.

Namun, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Dias sempat berada pada titik dimana cash flow nya minus hingga ia kehabisan bensin. Situasi itu membuatnya memutar otak untuk mencari produk yang lebih ekonomis. Dari situlah lahir brand keduanya, Fuhung, keripik singkong iris tipis. Singkong dipilih karena modalnya empat hingga lima kali lebih murah dari kentang, sehingga bisa menjadi opsi untuk menstabilkan pendapatannya.
Ia kembali melakukan eksperimen, menakar ketebalan irisan singkong, memilih jenis yang tepat, dan mengatur tingkat kerenyahannya. Setelah dirasa pas, ia membagikan sampel kepada tetangga dan rekan kerja pacarnya. Responsnya sangat positif, membuat Dias kembali optimistis.
Sejak itu Fuhung mulai dipesan secara pre-order dan menjadi sumber stabil untuk memperbaiki kondisi keuangan usahanya.
Di balik perjalanan Dias, ada dukungan kuat dari Alfa Betha pacarnya yang juga membantu bisnisnya. Alfa membuka pre-order di kantornya, membantu memasarkan, mencicipi setiap varian baru, hingga menjadi bagian penting dalam pembentukkan brand. Hubungan mereka justru semakin solid karena berbagi tujuan yang sama. “Dia cari order, saya kirim. Setelah ada pemasukan, saya ajak makan bareng sebagai reward,” kata Dias sambil tertawa.
Kerja keras Dias juga terlihat oleh teman-temannya. Yosua Pasha, salah satu teman sekaligus pelanggan, mengingat bagaimana Dias dulu mengantar pesanan pada malam hari dan tetap melanjutkan membeli bahan hingga larut. “TJ ini anaknya pekerja keras dan ulet. Kripiknya juga enak, slicing nya tipis tapi tetap crunchy, dan bumbunya pas,” ujarnya.
Kini, produk Tetato sudah masuk ke K3 Mart dan beberapa toko oleh-oleh di Surabaya, sementara Fuhung masih berjalan berbasis PO karena produksi terbatas. Walau keduanya berbeda bahan baku, satu ciri khas selalu dipertahankan yaitu irisan tipis kripik yang menjadi identitas unique selling point usahanya.
Perjalanan Dias menjadi pengusaha bukan soal keberuntungan, tetapi keberanian untuk terus maju di tengah ketidakpastian. Ia percaya bahwa keberhasilan hanya datang kepada mereka yang bersedia belajar, memperbaiki, dan tetap berjalan meski terjatuh berkali-kali. Kisahnya menjadi contoh bahwa anak muda pun bisa membangun jalan hidupnya sendiri asal berani mengambil langkah pertama.
Patricia Monica Budiono
Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Fakultas Ilmu Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi.

