Klenteng Boen Bio merupakan klenteng yang menjadi tempat ibadah umat Khonghucu dengan ajaran Konfusianisme di Surabaya, sekaligus simbol harmoni antara budaya Jawa, Belanda, dan Tionghoa yang hidup berdampingan dalam satu bagunan. Klenteng ini berlokasi di kawasan Kampung Pecinan, Surabaya.Berbeda dengan klenteng pada umumnya, Klenteng Boen Bio tidak menggunakan patung sebagai objek sembahyang.
“Klenteng ini memiliki ajaran yang berbeda dengan klenteng-klenteng pada umumnya. Ajarannya tidak menggunakan patung, melainkan menggunakan papan suci.” ujar Suk Donny, sesepuh Kampung Pecinan.
Berlokasi di jalan Kapasan, Klenteng ini menjadi satu-satunya Klenteng yang yang altar sembahyangnya tidak berisi patung di Indonesia.
“Klenteng seperti ini di dunia jumlahnya sangat terbatas. Di Indonesia sendiri hanya ada tiga. Yang pertama berada di Zhōngguó (Tiongkok), yang kedua di Rìběn (Jepang), dan yang ketiga adalah yang ada di Yìndùníxīyà (Indonesia) di Kapasan, Surabaya.” jelasnya.
Sebagai klenteng Khonghucu, Boen Bio tidak hanya menjadi tempat sembahyang, tetapi juga wadah pembelajaran nilai-nilai kebajikan. Ajaran Konfusianisme menekankan pentingnya perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu ajaran utama yang terus diwariskan adalah delapan kebajikan, yang harus dijalankan oleh umat sebelum memohon atau mengharapkan sesuatu dari Tuhan.
“Ajaran yang diajarkan di sini adalah ajaran kebajikan dan kebijakan, yaitu delapan kebajikan dan delapan kebijakan.” ujarnya.
Nilai-nilai tersebut menekankan sikap moral, etika, dan pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari. Manusia diajak untuk terlebih dahulu memperbaiki perilaku sebelum berharap mendapatkan anugerah atau berkah. Prinsip ini menegaskan bahwa hubungan dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari hubungan antar manusia.
Berbeda dengan Klenteng lainnya, Klenteng Boen Bio mempunyai tanggal yang berbeda untuk sembahyang.
“Biasanya setiap tanggal 1 bulan 7 imlek, arwah semua akan keluar. Pintu mereka terbuka. Tapi disini pada tanggal 30 Imlek, malamnya ditutup. Di sini kami sembahyang untuk memanggil semuanya. Itu keunikan bulan 7.” ujar Cik Holan, salah satu umat Klenteng Boen Bio.
Melalui klenteng ini, perjumpaan lintas budaya dan nilai bagaimana budaya Jawa, Belanda, dan Tionghua dapat hidup berdampingan dalam satu atap saling melengkapi dan membentuk harmoni yang unik.
Keunikan Klenteng Boen Bio terletak pada perpaduan tiga budaya pada bangunannya dimana terdapat unsur Tionghoa terlihat jelas melalui simbol, aksara, dan ajaran Khonghucu yang menjadi fondasi utama, budaya Jawa hadir melalui ukiran kayu pada bagunannya, penyesuaian nilai, bahasa, dan cara pandang lokal yang membumi serta mudah diterima masyarakat sekitar.
Sementara itu, pengaruh Belanda tampak terdapat pada arsitektur bangunan dengan corak lantai khas bangunan Belanda yang mencerminkan masa kolonial di Surabaya.
Klenteng Boen Bio menjadi simbol toleransi dan keharmonisan, ketiga unsur budaya ini berpadu dan menciptakan identitas sebagai ruang lintas budaya. Klenteng ini merepresentasikan bagaimana perbedaan budaya, dapat hidup berdampingan, saling melengkapi, dan membentuk harmoni yang berkelanjutan.
Sheryl Marvel
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

