Surabaya – Pintu kayu tua itu kini lebih sering tertutup daripada terbuka. Di balik kaca oval dan kursi potong rambut yang berjajar rapat, tak lagi terdengar suara gunting atau percakapan pelanggan. Shin Hua Barbershop di kawasan Kembang Jepun, Jl. Nyamplungan, Surabaya, berhenti beroperasi.
Tempat yang berdiri sejak 1911 dan dikenal sebagai barbershop tertua di Indonesia itu kini terdiam, setelah lebih dari satu abad melayani lintas generasi.
Shin Hua dirintis oleh Tan Xin Chou atau Zhen Tao. Usaha ini kemudian dikelola lintas generasi hingga berada di tangan Tjen Di Kwang, yang akrab disapa Suk Huang, generasi kedua pengelola Shin Hua Barbershop. Dari tempat kecil dengan hanya dua kursi, barbershop ini tumbuh dan berkembang menjadi salah satu yang terbesar pada masanya di kawasan Pabean Cantikan.
“Zaman papa, di sini ada sepuluh kursi. Sehari bisa sampai 150 kepala,” kata Tjen Di Kwang, generasi kedua pengelola Shin Hua. Ia masih mengingat detail keseharian barbershop itu, termasuk aturan kebersihan yang ketat. “Satu pelanggan satu handuk. Tidak boleh dipakai ulang. Itu sudah aturan.”
Kedekatan dengan pelanggan menjadi ciri khas Shin Hua. Bagi Tjen Di Kwang, relasi itu lebih dari sekadar transaksi. “Rasanya seperti keluarga. Datang bukan cuma potong rambut, tapi ngobrol, bercengkerama,” ujarnya. Barbershop ini juga dikenal dengan layanan lengkap, mulai dari potong rambut, cukur kumis dan wajah, hingga membersihkan telinga, sebuah kebiasaan yang lekat dengan tradisi pelanggan Tionghoa masa itu.
Namun perubahan zaman perlahan menggerus keberlanjutan usaha tersebut. Pandemi Covid-19 menjadi pukulan paling berat. Ketika pelanggan mulai jarang datang, perasaan pasrah justru muncul pertama kali. “Ya sudah pasrah. Kita tidak bisa berbuat banyak,” kata Tjen Di Kwang.
Ia mengakui sempat berharap kondisi akan pulih. Shin Hua bahkan pernah kembali mendapat perhatian publik. Bantuan datang, tetapi tidak berlangsung lama. “Bantuan itu tidak bisa terus-terusan. Beda dengan pelanggan tetap yang datang setiap bulan,” ujarnya.
Selain pandemi, faktor usia dan perubahan selera generasi menjadi tantangan lain. “Saya sudah tua. Selera anak muda tidak sama dengan selera orang tua,” kata Tjen Di Kwang. Ia membuka kemungkinan bagi siapa pun yang ingin melanjutkan usaha itu, namun hingga kini belum ada yang benar-benar mengambil alih. Shin Hua pun berhenti beroperasi tanpa kepastian akan dibuka kembali.
Pelanggan lama yang dahulu setia juga tak lagi terlihat. “Sekarang sudah tidak ada yang datang, bahkan sekadar menyapa,” ujarnya. Situasi ini berbeda dengan masa sebelum pandemi, ketika meski jumlah pelanggan menurun, barbershop itu masih tetap hidup.
Bagi warga sekitar, berhentinya Shin Hua meninggalkan kekosongan. Nisa (22), warga lokal generasi Z, mengaku mengenal Shin Hua sejak kecil. “Dulu ramai sekali. Bukan cuma potong rambut, tapi tempat orang berinteraksi. Sekarang jadi sepi,” katanya.
Ia menyebut Shin Hua sebagai ikon kawasan. “Kalau orang tanya mau potong rambut ke mana, jawabannya ya ke Shin Hua. Orang sudah langsung tahu,” ujar Nisa. Penutupan barbershop ini, menurutnya, membuat kawasan tersebut kehilangan salah satu identitasnya.
Sebagai generasi muda, Nisa memaknai Shin Hua bukan hanya sebagai tempat usaha, tetapi juga ruang sejarah. Ia berharap bangunan itu suatu hari bisa difungsikan kembali, entah sebagai barbershop, ruang kreatif, atau museum kecil yang menyimpan cerita masa lalu.
Tjen Di Kwang sendiri memilih bersikap realistis. Pesan yang ingin ia wariskan sederhana. “Apapun usaha orang tua, hasilnya ditabung untuk anak. Biar anak yang pakai sesuai zamannya,” katanya.
Shin Hua telah melewati kolonialisme, perubahan kota, dan pergantian generasi. Ia tidak runtuh oleh satu sebab tunggal, melainkan berhenti di persimpangan usia, pandemi, dan perubahan zaman. Kini, barbershop yang berdiri sejak 1911 itu terhenti, meninggalkan jejak sejarah yang masih melekat di kursi-kursi tuanya.
Nicholas Adhiel Setioputro
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UWKM) Surabaya

