Surabaya – Tidak ada film inspiratif, tidak ada tokoh idola yang lebih dulu memikat. Pagi itu, Evo hanya bangun tidur dan meminta satu hal pada ayahnya: ingin ikut panahan. Permintaan yang terdengar sederhana, namun justru menjadi titik awal perjalanan panjang Prinses Valerie Audrinova—yang akrab disapa Evo—di dunia panahan.
Sebelum mengenal busur dan anak panah, Evo sempat menekuni taekwondo hingga sabuk kuning. Namun pandemi COVID-19 menghentikan aktivitas latihannya selama hampir dua tahun. Di masa itulah, minat baru muncul begitu saja. Tanpa rencana besar, keesokan harinya ayah Evo langsung mengantarnya mendaftar latihan panahan di lapangan KONI Jawa Timur. Saat itu, Evo benar-benar memulai dari nol.
Pada awalnya, panahan bukan olahraga yang langsung membuat Evo jatuh cinta. Ia mengaku hanya mencoba karena dorongan orang tua dan rasa penasaran. Namun dari sesi latihan pertama, ia mulai merasa cocok. Bukan karena hasil, melainkan karena prosesnya. Menarik busur menuntut ketenangan, fokus, dan penguasaan teknik—hal-hal yang justru membuat Evo bertahan.
Latihan pun menjadi rutinitas yang serius. Dalam satu minggu, Evo bisa berlatih empat hingga lima kali. Tantangan terbesarnya bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan faktor alam seperti angin yang selalu berbeda di setiap tempat lomba. Di tengah jadwal sekolah, Evo belajar membagi waktu: sore untuk latihan, malam untuk belajar. Fokus menjadi kunci, baik di kelas maupun di garis tembak.
Perjalanan Evo tidak lepas dari peran orang-orang di sekitarnya. Keluarga menjadi pendukung utama sejak awal. Ayahnya bahkan memiliki cara sederhana untuk menguji keseriusan Evo: tidak membangunkannya saat jadwal latihan. Jika Evo yang lebih dulu membangunkan, berarti keinginannya benar-benar kuat. Dari situ, keyakinan tumbuh—bahwa panahan bukan sekadar coba-coba.
Dukungan juga datang dari lingkungan latihan. Pelatih melihat Evo sebagai atlet muda yang menonjol bukan semata karena bakat, tetapi karena kedisiplinan dan semangatnya. Sikap pantang menyerah dan konsistensi latihan membuat perkembangan Evo terbilang cepat, hingga kini ia sudah berada di divisi compound. Meski begitu, tantangan ke depan justru semakin besar, karena persaingan di usia muda semakin padat dan menuntut kerja keras yang berkelanjutan.
Momen jatuh dan bangkit menjadi bagian dari proses. Evo pernah mengalami performa yang turun saat kualifikasi, namun justru mampu bangkit dan meraih perunggu pada babak aduan individu di Kasal Cup 2024. Dari pengalaman kalah, Evo belajar satu hal: kekalahan bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan.
Bagi Evo, panahan bukan hanya soal medali. Setiap kali menarik busur, ia berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran lain dan kembali pada teknik. Salah satu kalimat yang selalu ia ingat berasal dari Muhammad Ali: mereka yang tidak berani mengambil risiko, tidak akan menjadi apa-apa di masa depan.
Target Evo kini jelas: menjadi atlet nasional. Ayahnya bahkan sudah memikirkan langkah jangka panjang, termasuk pendidikan kepelatihan setelah masa atletnya usai. Harapannya, Evo tidak hanya berprestasi, tetapi juga tetap memiliki peran di dunia olahraga.
Dari satu permintaan sederhana di pagi hari, Evo kini melangkah mantap di garis tembak. Perjalanannya masih panjang, namun satu hal sudah terlihat sejak awal: ketika fokus, disiplin, dan dukungan bertemu, arah hidup bisa berubah hanya dari satu keputusan kecil.
Joel Liauw Venno
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

