Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Gedung Singa Surabaya Jadi Saksi: 34 Tahun Menjaga yang Berasa Kayak Rumah Sendiri

Gedung Singa Surabaya Jadi Saksi: 34 Tahun Menjaga yang Berasa Kayak Rumah Sendiri

Helena Claresta Wellyan13 Desember 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Gedung Singa
Pak Widodo, Penjaga Gedung singa Surabaya. Foto: Helena Claresta W

Surabaya – Di tengah ramainya kota surabaya terdapat gedung kokoh yang bernama Gedung Singa, cagar budaya milik IFG yang sudah puluhan tahun menjadi saksi bisu sejarah kota.

Namun sedikit yang tahu dibalik gedung kokoh tersebut terdapat pengabdian seseorang yang setia merawatnya dalam senyap, yaitu Pak Widodo yang telah berusia 58 tahun.

Bagi sebagian orang, gedung tua hanyalah gedung kusam yang terlalu diam dan bahkan ada yang menganggap angker. Tapi bagi Pak Widodo, gedung gedung itu adalah karya seni yang harus dijaga .

“Gedung ini punya punya sejarah dan punya seni yang tinggi. Ini ori, hampir tidak ada perubahan.” ujarnya tegas, seolah memberikan informasi penting akan eksistensi Gedung Singa yang selama ini ia rawat dan kenal.

Perjalanan Pak Widodo dengan Gedung Singa ini tidak hanya sebulan ataupun se-tahun melainkan 34 tahun ia telah mengenali Gedung Singa.

Ia mulai menapaki Gedung Singa pada tahun 1991 saat ia berkerja kantoran dibawah naungan Jiwasraya. Hubungan dengan gedung ini makin dalam ketika ia resmi diberi tanggung jawab menjaga gedung ini pada tahun 2016.

Hingga hari ini,meski sudah tidak bekerja tetap dan harus membagi waktu dengan cucunya, ia tetap datang seminggu sekali. Ia menyapu halaman, membersihkan lantai, memastikan pintu bisa dibuka untuk tamu yang datang dan menutupnya sore.

“Kadang kalau ada tamu, saya jelaskan asal-ususlnya. Pemiliknya siapa, sejarahnya apa. Sayang kalau orang datang tapi nggak dapat cerita apa-apa. ” katanya.

 

Bagi Pak Widodo, menjelaskan sejarah bukan hanya sekedar kewajiban, tapi kebahagian bagi mereka yang penasaran. Setiap kali ia bercerita, gedung itu hidup kembali.

“Kayak rumah kedua.”tambahnya.

Dalam obrolan, Pak Widodo menyebutkan bahwa Gedung Singa seperti rumah keduanya yang menjadi tempat waktu luang di hari minggu.

Nyaman, tidak ada gangguan. Kalimat-kalimat sederhana yang menunjukan betapa ia sudah menyatu dengan ruang dan waktu gedung itu.

Ia menyapu dengan tenang. Menutup pintu dengan kebiasaan yang sma seperti bertahun-tahun. ia tidak pernah merasa takut, meski orang sering melabeli Gedung Singa sebagai gedung angker.

“Gedung kosong itu gak perlu ditakutin. Dia dimana-mana pasti ada gituan (hantu), tapi mereka gak ganggu. Mereka juga nggak senang kalau dilihatin orang.”

Cara ia mengucapkan mengucapkannya membuat gedung itu terasa lebih seperti teman lama dari pada sesuatu yang misterius.

Gedung Singa
Gedung Singa Jl. Jembatan Merah, Foto: Helena Claresta W

Meskipun Pak Widodo menjaga dan merawat Gedung Singa sendirian, ia memiliki banyak relasi teman di sekitaran gedung itu. Dua temanya yang sering ia temui menguatkan cerita tentang pengabdian Pak Widodo. Salah satunya bercerita bahwa sudah kenal Pak Widodo selama hampir 5 tahun.

“Kenal Pak Widodo sudah hampir lima tahunan. Satu minggu sekali pasti bersih-bersih. Kalau ada tamu dia buka pintunya. Sore ditutup lagi lalu pulang.” kata Pak Suwakhid pemilik warung depan Gedung Singa.

Begitupun dengan Pak Pipit, seorang oenjaga toko bunga. “Pak Widodo paham betul kalau dia itu seperti jadi guide untuk gedung -gedung lama dan akan bertemu dengan orang-orang penyuka gedung-gedung lama dan gedung-gedung belanda. Pak widodo itu yang bikin mereka mengerti.” katanya.

Dari luar, mungkin Pak Widodo terlihat seperti orang biasa yang berjalan menuju Gedung Singa ataupun orang tua yang membeli makan di warung.

Namun bagi orang-orang yang sudah mengenalnya ia adalah penjembatan antara generasi sekarang dengan masa lalu Surabaya.

Apabila ditanya apa yang membuatnya tetap bertahan, jawabanya sederhana tapi cukup untuk menilai sosok Pak Widodo.

“Kalau saya diam dirumah, malahan banyak penyakit. Kalau saya ke sini, ketemu orang ngobrol, otak kerja. Sehat.” Ujarnya sambil tersenyum

Jawaban dari Pak Widodo ini menjelaskan bahwa menjaga Gedung Singa juga berarti menjaga kesehatan, rutinitas dan menjaga hidup tetap begerak. Gedung yang bukan hanya ia rawat tapi juga merawat dirinya.

Di kota besar seperti Surabaya, tidak banyak cerita pengabdian yang berjalan selama 34 tahun tanpa pamrih, tanpa gemerlap apresiasi, dan tanpa sorotan kamera.

Pengabdian yang lahir dari ketulisan, buka kewajiban. Cerita Pak Widodo bisa kita jadikan pengingat bahwa menjaga warisan budaya bukan hanya bisa dilakukan oleh gedung institusi besar, sejarawan, dan parah ahli. Kadang hanya seseorang yang membawa peralatan bersih-bersih dan cerita di mulut.

Contonya seperti Pak Widodo, yang mungkin tidak dikenal banyak orang, tapi tanpa dirinya, Gedung Singa dan sejarahnya yang tersimpan didalamnya mungkin tidak lagi untuh seperti hari ini.

Helena Claresta Wellyan
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

Fikom UKWM Gedung Singa
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026

Di Atas Polemik, Reog Harus Tetap Menjadi Pemenang

18 Juni 2026

Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

18 Juni 2026

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.