Surabaya (beritajatim.id) – Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria, yang lebih dikenal sebagai Gereja Kepanjen, bukan sekadar bangunan tua.
Gereja ini adalah saksi bisu perjalanan panjang komunitas Katolik di Surabaya, bahkan sebelum gedung yang berdiri saat ini didirikan.
Dengan perayaan komunitas yang mencapai 215 tahun, dan statusnya sebagai Cagar Budaya, gereja ini memegang peran penting dalam sejarah kota.
Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria di Surabaya merayakan sejarahnya sebagai cagar budaya, sebuah momen yang menyoroti perbedaan signifikan antara usia komunitas dan usia bangunan fisiknya.
Komunitas umat Katolik (Paroki), yang dipelopori oleh misionaris Romo Wanders dan Philip Wedding, merayakan 215 tahun pelayanan sejak pembaptisan pertama pada 5 Juli 1810.
Meskipun demikian, bangunan fisiknya saat ini di Jalan Kepanjen merupakan lokasi kedua yang diresmikan pada 5 Agustus 1900, menggantikan lokasi pertama di Surabaya Kota Lama yang diresmikan pada 5 Maret 1822. Bangunan yang bersejarah ini kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1996/1998.
Gereja ini dianggap bersejarah karena perannya sebagai salah satu dari lima gereja paroki besar pertama di Indonesia pada masa itu, serta keberhasilannya menyebarkan iman Katolik di Jawa Timur. Didirikan oleh para misionaris dengan misi penginjilan, mengalami kerusakan parah saat masa perang, dan direkonstruksi, kini dipertahankan sebagai warisan sejarah dan budaya.
Menariknya, sejarah komunitas umat jauh lebih tua daripada bangunan fisik yang ada. Misi para misionaris yang dikenal sebagai misiurner telah menyebarkan ajaran Katolik melalui keluarga-keluarga jauh sebelum gereja pertama berdiri. Pembaptisan pertama yang tercatat dalam buku baptis gereja terjadi pada 5 Juli 1810. Oleh karena itu, secara komunitas, Gereja Kepanjen merayakan usianya yang ke-215 tahun.
Nama Kelahiran Santa Perawan Maria sudah digunakan sejak awal kedatangan misionaris, meskipun mulanya dalam Bahasa Belanda, dan dirayakan setiap tanggal 8 September.
Gereja ini dinilai sangat bersejarah karena sempat menjadi salah satu dari hanya lima paroki Katolik besar di Indonesia pada masa itu. Tokoh sentral dalam pendiriannya adalah dua misionaris awal, Romo Wanders dan Philip Wedding, yang membawa misi dan kultur Eropa.
Di masa perjuangan kemerdekaan, khususnya peristiwa di sekitar Jembatan Merah pada tahun 1945, Gereja Kepanjen tidak luput dari kehancuran.
“Gereja ini sempat terbakar dan habis. Yang tersisa hanya tembok dan lantai,” ujar Gea selaku pengelola Gereja.
Rekonstruksi baru dilakukan pada tahun 1950, dengan bantuan misionaris yang datang dari Eropa. Arsitektur dan materialnya, termasuk batu bata yang diklaim asli dari tanah, menjadi ciri khas.
Pada tahun 1996, Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria secara resmi dinobatkan sebagai Cagar Budaya (dengan surat penetapan pada tahun 1998). Konservasi gereja ini dipertahankan karena perannya yang krusial dalam sejarah penyebaran agama Katolik di Jawa Timur dan statusnya sebagai salah satu paroki perintis. Sejak tahun 1923, pelayanan di gereja ini mulai dibantu oleh Romo-romo dari komunitas Indonesia.
“Dari sinilah muncul banyak umat yang bergabung menjadi Katolik karena persebaran para misionaris,” ujar Gea.
Hingga kini, Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria tetap menjadi simbol perkembangan Katolik di Surabaya sekaligus warisan sejarah yang terus dijaga.
Michelle Keyce Krismanto
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWMS) Surabaya

