Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Ironi dan Solusi Guru Abad ke-21

Ironi dan Solusi Guru Abad ke-21

Dr. Sutejo, M.Hum.20 Oktober 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Dr Sutejo MHum

Dari laman Kemdikbud, diberitakan tentang dunia yang sudah memasuki hiper-globalisasi itu membutuhkan apa yang disebut dengan “pembelajaran di era abad ke-21”. Assoc. Prof. Suzanne Choo Shen Li dari National Institute of Education, Singapura, menyampaikan pandangan bahwa penguasaan dua keterampilan interpersonal, yakni karakter (character) dan kewarganegaraan (citizenship) penting bagi siswa.

“Kini kita berada pada era hiper-globalisasi. Pemerintah dan pemangku kebijakan sadar bahwa siswa perlu bersiap menjadi warga global. Jika kita hanya melatih siswa dengan 4C, mereka tidak akan memiliki karakter. Oleh karena itu, karakter dan kewarganegaraan menjadi landasan atau nilai penting dari kecakapan abad ke-21,” ujar Suzanne.

Keenam kecakapan abad ke-21 kemudian dikenal dengan istilah 6C (bukan sekadar 4C) yang dimaksudkan Suzanne itu meliputi: (i) karakter (character), (ii) kewarganegaraan (citizenship), (iii) berpikir kritis (critical thinking), (iv) kreatif (creativity), (v) kolaborasi (collaboration), dan (vi) komunikasi (communication).

Penting diingat, dalam implementasi kecakapan 6C, di pembelajaran bahasa abad ke-21 adalah munculnya aspek humanis dalam pendidikan, seperti pendidikan dan kurikulum berpusat pada nilai dan karakter.

Paradigma sebelumnya, dalam penyiapan pembelajaran kompetensi abad 21 dikenal butuh apa yang disebut 4C. Kompetensi abad ke-21 yang dimaksudkan:  (i) keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), (ii) berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), (iii) berkomunikasi (communication), dan (iv) berkolaborasi (collaboration).

Sedangkan, keterampilan (skills) yang tergolong dalam kompetensi abad 21 yang banyak dibincangkan dalam paradigma mutakhir, meliputi: (i) pemikiran kritis (critical thinking); (ii) kreativitas (creativity); (iii) kolaborasi (collaboration); (iv) komunikasi (communication); (v) informasi literasi (Information literacy); (vi) media literasi (media literacy); (vii) literasi teknologi (technology literacy); (viii) fleksibilitas (flexibility); (ix) kepemimpinan (leadership); (x) inisiatif (initiative); (xi) produktivitas (productivity); dan (xii) keterampilan sosial (social skills). Betapa mengerikannya jika pembelajaran yang kita laksanakan hanya “begini-begini” dan “begitu-begitu” saja. Bagaimana dunia pendidikan dan para pendidik mempersiapkan anak didik dengan 12 kecakapan penting demikian.

Pembelajaran abad ke-21 adalah pembelajaran yang berbasis literasi, kecakapan berpikir, kesadaran hakikat belajar, dan berbasis kecakapan hidup. Pembelajaran kompetensi abad ke-21 yang disarankan, secara umum terbagi ke dalam tiga kategori: (i) keterampilan belajar (learning skills); (ii) keterampilan literasi (literacy skills); serta (iii) keterampilan hidup (life skills).

Alangkah menyesakkan jika menengok pola-pola pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi kita yang tersesat pada program dan aplikasi teknologi, yang hanya bersifat administrasi bukan kreasi belajar yang orisinal, berbasis literasi, kecakapan berpikir, dan berorientasi pada kecakapan hidup.

Karena itu, pendidik penting mempersiapkan diri dengan mengubah pola pikir, bagaimana kita mampu mengantarkan generasi emas untuk siap menyalakan Indonesia Emas 2045.

Kalau ini kisah guru yang tidak berpikir. Paling tidak, guru bersumbu pendek. Suatu waktu saya kedatangan guru matematika di rumah, usai melihat empat rak buku di sisi kanan garasi rumah, langsung bertanya, “Buku-buku itu  sudah dibaca semua, Pak?” Saya tersenyum, “Gak dibaca paling.” Spontan dia melanjutkannya. Guru dalam konteks mutakhir, wajib gila baca, jika tidak ingin tertinggal kereta peradaban zaman.

Ilustrasi guru  di atas, jelas gambaran guru yang tidak berpikir, tidak berotak, dan tidak menghargai pemiliknya. Andai guru matematika ini berpikir bahwa membaca itu banyak jenisnya, banyak tujuan, dan banyak caranya; pertanyaan itu tidak keluar dari mulut sang guru.

Guru macam ini, bukan cermin guru yang berpikir, dan terus berpikir. Apalagi model guru abad ke-21 yang diidealkan. Konon, di Jerman sekarang ada gerakan kembali ke buku dan mengecilkan teknologi informasi, begitulah yang dikisahkan seorang guru bahasa Inggris yang datang di rumah buku tentang kisah temannya yang sedang tinggal di Jerman.

Karena itu, guru kekinian, kemudian yang harus dibangun adalah perubahan paradigma dengan terus mengupdate dengan terus menerus berpikir.

Membaca cepat bisa, membaca sesuai peruntukannya berbeda, bisa. Apa masalahnya? Saya pernah membaca cepat sebuah novel setebal 765 halaman, Absolut Power karya David Baldacci, sehari semalam; kemudian menulis resensi bukunya dua jam, alhamdulillah dimuat media cetak nasional: Kompas. Kala itu, 1997, honornya hampir sekali gaji PNS saya.

Membaca untuk rekreasi, membaca untuk mendapatkan motivasi, dan membaca untuk inspirasi. Membaca itu bisa ngemil, bisa dengan membaca cepat, setiap beli buku baru selalu dilihat dan dibaca dengan cara scanning. Membaca bagi saya, seperti berdialog dan bercakap. Pokoknya membaca itu menyenangkan, menghibur, berdialog, dan mengajarkan.

Jika guru –calon guru– tidak paham membaca, teknik dan peruntukannya: bagaimana dia mengajarkannya? Meskipun bidang matematika sekalipun, membaca adalah organ ilmu terpenting. Berpikir matematis, numerasi, logis, kritis, dan sintetis dalam pemecahan masalah (soal) bagaimana jika guru hanya berpikir: memecahkan soal matematika? Aneh.

Fatalnya, guru bersumbu pendek ini bilang, jika menulis itu urusan guru bahasa Indonesia. Dia lupa, kehidupan umum sekalipun tak lepas dari membaca dan menulis. Kala itu, tahun 1998, lomba dan sayembara menulis tingkat nasional banyak jumlahnya.

Dia bertanya, berapa hadiahnya? Kala itu, gaji guru swasta lebih besar daripada guru PNS. Gaji saya, hanya 100 ribu lebih dikit sebagai PNS, maka untuk tutupi kebutuhan keluarga harus mengajar di dua sekolah swasta. Saya rajin menulis di media massa dan mulai rajin ikut lomba tingkat nasional.

Alangkah bangganya, naskah pertama untuk sayembara penulisan buku, satu naskah jadi pemenang pertama di provinsi dan pemenang tiga tingkat nasional. Hadiah pun fantastik, 60 kali lipat gaji seorang PNS golongan III. Artinya, saya dapat gaji 5 tahun ke depan, dirapel di depan, guru matematika ini bilang,
“Sayang, saya bukan guru bahasa Indonesia.”

Padahal, mayoritas peserta sayembara tingkat nasional ini bukan guru bahasa Indonesia. Saya ceritakan, untuk tingkat SD bukan guru bahasa Indonesia, jenjang SMP dan SMA pun, mayoritas bukan guru bahasa Indonesia. Bagaimana saya menjelaskan pada guru bersumbu pendek, jika menulis itu bukan urusan guru bahasa Indonesia.

Kekacauan pola pikir, cara berpikir, bukan saja para siswa tetapi para guru kita. Masyarakat dan para pemimpin negeri, khususnya para politikus. Membenahi kehidupan umat manusia yang pertama adalah pola pikirnya. Dulu, saya punya teman dosen matematika yang hebat dan cerdas sekali, tetapi aneh bin ajaib hutangnya di mana-mana, gajinya minus. Literasi numeriknya di mana dan di mana pula berpikir numeriknya.

Sungguh sangat kontras jika dibandingkan dengan idealisme pembelajaran kompetensi abad 21 yang sering disebut dengan 4C, meliputi (i) keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), (ii) berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), (iii) berkomunikasi (communication), dan (iv) berkolaborasi (collaboration).

Apalagi jika dikaitkan dengan idealisme keterampilan (skills) kompetensi abad ini macam 12 karakter yang wajib dimiliki sebelumnya.

Guru wajib berpikiran kritis, memiliki kreativitas tidak terbatas,  bisa berkolaborasi sesama, genius  berkomunikasi, memiliki informasi literasi memadai, menguasai media literasi, cakap literasi teknologi, memiliki kelenturan dan fleksibilitas, berjiwa kepemimpinan tangguh, kaya inisiatif, mampu produktif, dan wajib memiliki keterampilan sosial. Guru era digital, dalam mempersiapkan diri, tentu tak bisa henti membaca dan memiliki kemahiran beragam kecakapan berpikir.

Betapa mengerikannya jika pembelajaran yang kita laksanakan hanya “begini-begini” dan “begitu-begitu” saja.[ted]

Dr Sutejo MHum adalah Ketua Perwakilan YPLP PGRI Kabupaten Ponorogo 2025-2030.
Koordinator Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PGRI Kabupaten Ponorogo, dosen di lingkungan LLDIKTI 7 Jawa Timur

Ironi dan Solusi Guru Abad ke-21
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026

Di Atas Polemik, Reog Harus Tetap Menjadi Pemenang

18 Juni 2026

Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

18 Juni 2026

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.