Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Kampung Inggris Pare: Ribuan Pelajar Serbu Desa Bahasa di Kediri Jawa Timur

Kampung Inggris Pare: Ribuan Pelajar Serbu Desa Bahasa di Kediri Jawa Timur

Abdurrahman, SE., MM.12 November 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Salah satu sudut Kampung Inggris di Pare Kediri

Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi pendidikan, Kampung Inggris Pare di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tetap menjadi magnet bagi ribuan pelajar dari seluruh Indonesia. Kawasan ini bukan sekadar tempat belajar bahasa, tetapi juga simbol transformasi sosial dan ekonomi berbasis pendidikan yang lahir dari semangat masyarakat lokal dalam membangun suasana lingkungan belajar bahasa asing yang inklusif.

Dari Desa Sederhana Menjadi Ikon Nasional

Kampung Inggris berlokasi di dua desa: Desa Tulungrejo dan Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Suasana dua desa ini sangat khas karena penuh deretan lembaga bahasa, sepeda, kos sederhana, warung makan, hingga papan-papan bertuliskan kursus bahasa asing di setiap sudut jalan.

Fenomena Kampung Inggris bermula pada tahun 1977, saat Mr. Kalend Osen (sering disebut Mr. Qolani), seorang alumni Pondok Modern Gontor asal Kalimantan, mulai membuka kursus kecil bernama Basic English Course (BEC) di rumahnya. Awalnya, ia hanya mengajar 6 murid dari pesantren sekitar. Tak disangka, metode pembelajarannya yang komunikatif membuat banyak orang tertarik datang ke Pare. Berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Kediri tahun 2025, Kampung Inggris menampung lebih dari 20.000 pelajar aktif setiap bulan, dengan total lebih dari 150 lembaga kursus yang tersebar di Tulungrejo dan Pelem.

Selain bahasa Inggris yang menjadi ciri khas utama, beberapa lembaga juga telah membuka kursus Bahasa Arab, Mandarin, Korea, Jepang, dan Jerman. Beberapa lembaga terkenal antara lain:

Basic English Course (BEC)
The Daffodils
Global English
Happy English Course
Access English
Mahesa Institute
Language Center (LC)
Titik Nol English Course
Harvard Course
Global Village
Everbest Mandarin Class
Han School of Korean Language, dll.

Sejak berdirinya Basic English Course (BEC) pada 1977 di Desa Tulungrejo, Pare, Kediri, kawasan ini berkembang pesat menjadi pusat pembelajaran bahasa terbesar di Indonesia.

Setiap tahun, ribuan pelajar dari berbagai provinsi datang untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing. Meskipun mayoritas masih berfokus pada Bahasa Inggris, minat terhadap bahasa lain seperti Arab, Mandarin, Jepang, dan Korea juga mulai meningkat seiring dengan tuntutan globalisasi dan peluang kerja internasional.

Berdasarkan berbagai laporan media lokal dan data perkiraan komunitas Kampung Inggris (2024), distribusi peserta yang belajar di Pare dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 1. Estimasi sebaran peserta lembaga bahasa asing di Pare, Kediri.

No. Bahasa yang Dipelajari Perkiraan Persentase Peserta Contoh Lembaga Terkait
1 Bahasa Inggris 75% BEC, Happy English Course, Titik Nol English, Access English, Mahesa Institute
2 Bahasa Arab 8% Markaz Arabiy, Al-Izzah Arabic Center
3 Bahasa Mandarin 7% Mandarin Center Pare, Sinology Course

 

4 Bahasa Jepang 5% Nihongo Gakko, Tomodachi Course
5 Bahasa Korea 3% Hangugo House, Korean Class Pare
6 Bahasa Lain (Prancis, Jerman, Spanyol, dll.) 2% Pare Language Corner, Global Lingua

Sumber: Data diolah penulis, 2025

Data tersebut menunjukkan dominasi Bahasa Inggris yang masih menjadi magnet utama bagi pelajar di Pare, namun juga menandakan munculnya diversifikasi lembaga kursus untuk memenuhi kebutuhan komunikasi lintas budaya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa Kampung Inggris telah berevolusi dari sekadar tempat belajar grammar dan speaking menjadi ekosistem pembelajaran multibahasa yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Ke depan, tantangan utama bagi lembaga-lembaga di Pare adalah mempertahankan kualitas pengajaran dan mengadopsi sistem hybrid learning agar tetap relevan di tengah persaingan platform pembelajaran online.

Jika strategi ini berhasil dijalankan, Kampung Inggris tidak hanya akan tetap eksis, tetapi juga berpotensi menjadi model nasional untuk pengembangan kawasan pendidikan berbasis masyarakat.

Sedangkan, jika dilihat dari asal pelajar atau yang ingin mempelajari Bahasa berasal dari hampir seluruh penjuru di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Setiap tahun, ribuan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia datang ke Pare, Kediri, untuk menimba ilmu bahasa asing di kawasan yang dikenal luas sebagai “Kampung Inggris.”

Daya tariknya bukan hanya pada biaya belajar yang terjangkau dan metode pembelajaran yang intensif, tetapi juga pada suasana lingkungan yang kondusif dan komunitas pelajar yang beragam.

Heterogenitas asal pelajar ini telah menciptakan interaksi sosial yang dinamis sekaligus memperkuat citra Pare sebagai destinasi pendidikan nasional. Berdasarkan data perkiraan komunitas pendidikan Pare (2024), sebaran asal peserta belajar bahasa dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Sebaran asal peserta belajar bahasa dapat dilihat pada tabel berikut

Kawasan / Provinsi (grup) Estimasi % asal pelajar (perkiraan)
Jawa Timur (termasuk lokal Kediri/Pare) 23%
Jawa Tengah + Yogyakarta 15%
Jawa Barat 13%
Sumatra (gabungan seluruh provinsi Sumatra) 12%
Sulawesi 12%
Kalimantan 6%
Bali + Nusa Tenggara (NTB, NTT) 8%
Maluku + Papua 2%
Luar negeri / internasional 1%
Lain-lain / tidak disebut 8%
Total 100%

Sumber: Data diolah penulis, 2025.

Efek kampung Inggris terhadap ekonomi

Efek Ekonomi yang Menggeliat

Kehadiran ribuan pelajar setiap bulan memicu multiplier effect yang luar biasa bagi perekonomian lokal. Berdasarkan rumus ekonomi sederhana dari Keynesian Multiplier:

k = 1 / (1 – MPC).

Jika diasumsikan marginal propensity to consume (MPC) masyarakat Pare adalah 0,8 (80% pendapatan digunakan untuk konsumsi), maka nilai pengganda (k) adalah 5.

Artinya, setiap Rp1 juta uang yang dibelanjakan pelajar di Pare dapat menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp5 juta bagi masyarakat sekitar.

Dengan estimasi rata-rata 20.000 pelajar membelanjakan Rp2 juta per bulan, total perputaran ekonomi bisa mencapai Rp200 miliar per bulan.

Menurut salah satu warga setempat “Sekarang hampir setiap rumah punya kamar kos. Dulu sawah, sekarang jadi kos-kosan, warung makan atau laundry dan tempat kursus” ujar Fatimah Rahma (47), seorang warga Desa Tulungrejo yang sudah 8 tahun membuka usaha kos-kosan (Rahma House).

Hal ini terlihat dari menjamurnya usaha pendukung seperti kos-kosan, warung makan, laundry, percetakan, hingga toko sepeda. Pemerintah Kabupaten Kediri bahkan mengakui bahwa Kampung Inggris menjadi salah satu sumber PAD terbesar sektor jasa di wilayah Pare.

Tantangan dan Strategi Bertahan

Meski menjadi ikon nasional, Kampung Inggris kini menghadapi tantangan serius: kompetisi dari kursus digital seperti Ruangguru, Zenius, dan Duolingo. Namun banyak lembaga tidak tinggal diam.

Misalnya, Titik Nol English Course sudah mengembangkan sistem hybrid learning yang menggabungkan kelas tatap muka dengan platform daring interaktif. Language Center (LC) juga meluncurkan aplikasi internal untuk latihan percakapan dan kuis berbasis AI. Sementara itu, lembaga tradisional seperti BEC tetap bertahan dengan filosofi total English environment — menekankan kedisiplinan berbicara bahasa Inggris dalam setiap aktivitas sehari-hari. Nilai karakter inilah yang menjadi daya tarik utama bagi banyak pelajar.

Menurut survei internal redaksi terhadap 10 lembaga di Pare:

  • 70% mengaku jumlah siswa meningkat pascapandemi,
  • 60% sudah menerapkan model hybrid,
  • dan 80% warga sekitar merasakan peningkatan pendapatan dari aktivitas pelajar.

 Respon Pemerintah dan Masa Depan Kampung Inggris

Pemerintah Kabupaten Kediri berencana menjadikan Kampung Inggris sebagai Zona Edukasi Internasional melalui program digitalisasi pendidikan dan wisata edukatif. Kepala Dinas Pendidikan Kediri menyebutkan, “Kami menargetkan Pare bukan hanya sebagai kampung bahasa, tapi juga hub pendidikan global yang mengintegrasikan pembelajaran budaya dan ekonomi kreatif.”

Ke depan, penguatan branding, kolaborasi dengan perguruan tinggi, dan sertifikasi tutor menjadi strategi utama agar Pare tidak kehilangan pamor. Namun, para pengelola lembaga sepakat bahwa keberlangsungan Kampung Inggris tetap bergantung pada semangat komunitas dan keunikan atmosfer belajar yang tidak bisa digantikan dunia virtual.

Meski kursus online semakin populer, banyak pengajar dan pelajar yakin Kampung Inggris di Pare tidak akan tergantikan, salah satu pelajar yang berasal dari Kendari, Sulawesi menyatakan bahwa “Belajar di Pare bukan cuma soal belajar grammar; TOEFL; IELTS; atau Bahasa lainnya, tapi soal interaksi kebersamaan, suasana positif (positive vibes), disiplin dan intensivitas timbal-balik (feedback) yang terarah diberikan oleh tutor (teacher) sangat membantu dalam meningkatkan skill menjawab soal listening, reading, writing and speaking.

Itu yang tidak ada di kelas virtual/daring, selain itu, belajar secara luring saja susah dipahami apalahi belajar secara daring, lebih susah lagi” tutur AAN, student IELTS SCORING periode 27 Oktober 2025 di Titik Nol English Course, Pare, Kediri, Jawa Timur, Indonesia.

Kampung Inggris pare Kediri

Suasana kampung yang hidup, budaya disiplin berbahasa, dan hubungan sosial antar pelajar dan tutor menjadi kekuatan utama yang menjaga eksistensinya. Selain itu, Sebagian besar pengajar di Lembaga Bahasa di Kampung Inggris merupakan lulusan luar negeri dan tersertifikasi, sehingga siswa pun termotivasi untuk mengikuti jejak mereka melanjutkan studi atau pun bekerja di luar negeri.

Kampung Inggris Pare bukan sekadar tempat belajar bahasa, melainkan ekosistem sosial-ekonomi yang lahir dari semangat perubahan. Di tengah gempuran pembelajaran daring, kampung ini terus membuktikan bahwa interaksi langsung, budaya disiplin, dan suasana kebersamaan serta bimbingan dari tutor yang intensif tetap menjadi daya tarik utama bagi pembelajar sejati. Jika mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan ruh aslinya, Kampung Inggris tidak hanya akan bertahan, tapi juga berevolusi menjadi pusat pembelajaran bahasa paling berpengaruh di Asia Tenggara. Kampung Inggris Pare kini bukan hanya simbol pendidikan, tetapi juga model penggerak ekonomi berbasis komunitas yang patut ditiru oleh daerah lain di Indonesia. (ted)

Abdurrahman, SE., MM.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram,
Komisaris di Perusahaan Abhinaya Indo Group

 

Kampung Inggris Pare Kediri Kediri
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026

Di Atas Polemik, Reog Harus Tetap Menjadi Pemenang

18 Juni 2026

Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

18 Juni 2026

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.