Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Kampung Pecinan Surabaya: Pesona Budaya di Tengah Modernitas

Kampung Pecinan Surabaya: Pesona Budaya di Tengah Modernitas

Fransisca G. R. Mutiara Leok 12 Desember 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Kampung Pecinan
Komunitas Barongsai di Kampung Pecinan Surabaya

Surabaya (beritajatim.id) – Kampung Pecinan Surabaya, Kawasan yang terkenal akan budaya Tionghoanya. Kampung ini terletak di jantung Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Kapasan Dalam, Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto.

Di tengah modernisasi Kota Surabaya, masih terdapat satu tradisi yang terus hidup dan menjadi ikon utama kawasan tersebut, yaitu Barongsai.

Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga identitas yang setiap harinya dijaga, dilatih, dan diwariskan kepada generasi muda.

Barongsai inilah yang setiap harinya menjaga napas budaya Tionghoa di kampung itu tetap menyala, terutama berkat ketekunan seorang pelatih sepuh yaitu Suk Dony, yang sudah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya pada barongsai.

Suk Donny kini berusia lebih dari 70 tahun, namun hal ini tidak mempengaruhi energinya yang sangat membara saat melatihkan barongsai kepada murid-muridnya.

Ia selalu berdiri di depan barisan pemain memegang tongkat kayu kecilnya yang biasa digunakan untuk menjaga ritme dan memberi aba-aba.

“Kaki saya masih kuat, jadi saya akan tetap melatih barongsai” ujarnya. Dengan senyuman yang lebar, ia menegaskan bahwa barongsai bukan sekedar pertunjukan, tetapi bagian dari hidup dan tanggung jawab budaya yang harus dipegang hingga akhir.

Menurut Suk Dony barongsai zaman sekarang lebih condong menjadi seni pertunjukkan, bukan lagi bela diri seperti generasi awal. “Zaman dulu barongsai itu bukan sekedar kesenian. Harus bisa bela diri dulu yaitu Kungfu baru boleh main barongsai kalau sekarang langsung main barongsai tidak apa-apa” ujar nya.

Ia juga menjelaskan bahwa dulu barongsai sebagai symbol utnuk mengusir penyakit. Dari keberhasilan itu yang membuat barongsai akhirnya dianggap sakral dan dipercaya membawa rezeki serta kesehatan bagi masyarakat.

Suk Dony kemudian menjelaskan bahwa barongsai sebernarnya terdiri dari dua jenis utama: waksan dan hoksan. “Waksan itu dari gunung, Hoksan dari desa. Karakter geraknya beda,” katanya. Selain itu ada juga karakter lain bernama cilin, yang sering disalahartikan sebagai barongsai. “Cilin itu ceria, gembira, agak genit sedikit. Biasanya dimainkan oleh wanita muda. Tapi di sini belum ada pemain wanita,” lanjutnya. Karena keterbatasan pemain, sehingga tim barongsai Suk Dony hanya fokus pada barongsai utama.

Disisi lain fasilitas latihan masih terbatas dan belum memiliki gedung latihan yang layak, namun semangat para pemain masih tinggi. “Kami masih latihan di lapangan. Belum punya gedung, belum punya tempat yang benar-benar untuk latihan. Tapi tidak apa-apa,” kata Suk Dony. Keterbatasan itu tidak menghalangi mereka untuk terus melakukan latihan rutin.

Pelatihan barongsai ini membawa dampak sosial yang cukup besar. Menurut Suk Dony, banyak anak muda dari berbagai latar belakang yang mengalami perubahan sikap setelah mengikuti latihan.

“Semua anak dari berbagai suku bisa ikut tidak hanya yang suku Tionghoa. Anak-anak Madura, Jawa, semua boleh ikut. Kami tidak memilih suku atau agama. Banyak yang setelah ikut barongsai jadi lebih sopan dan bisa membawa diri,” ujarnya. Ia berkata bahwa barongsai bukan hanya wadah pertunjukan seni melainkan juga wadah pembentukan karakter.

Ketika ditanya mengapa barongsai tetap penting di era modern sekarang ini, jawabnya dengan tegas “Barongsai itu budaya, dimana kita harus melestarikannya. Anak-anak zaman sekarang kalau bisa harus ikut latihan supaya tradisi ini tidak hilang dari tanah Jawa dan Indonesia,” tegasnya.

Ia pun menegaskan bahwa meski perkembangan barongsai lebih pesat di Malaysia dan Pontianak, Surabaya punya potensi besar untuk mengembangkan seni ini bila ada dukungan dan regenerasi yang kuat.

Di tengah arus modernisasi yang tidak dapat dihindari, keberadaan barongsai di Kampung Pecinan Surabaya membuktikan bahwa tradisi dapat tetap hidup selama ada sosok seperti Suk Dony.

Dengan usia yang tidak lagi muda namun semangat yang seolah tidak pernah padam, ia menegaskan bahwa barongsai bukan sekedar atraksi, melainkan warisan budaya yang harus terus dirawat.

Dan selama langkahnya masih tegap di ruang latihan yang sederhana itu, barongsai akan tetap ramai di Kampung Pecinan Surabaya.

Fransisca G. R. Mutiara Leok
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWMS) Surabaya

Barongsai Kampung Pecinan Surabaya
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026

Di Atas Polemik, Reog Harus Tetap Menjadi Pemenang

18 Juni 2026

Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

18 Juni 2026

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.