Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Klenteng Sanggar Agung, Menjaga Ibadah di Tengah Arus Wisata

Klenteng Sanggar Agung, Menjaga Ibadah di Tengah Arus Wisata

Nicholas Adhiel Setioputro13 Desember 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Surabaya – Klenteng Sanggar Agung di kawasan Pantai Ria Kenjeran, Surabaya, menjadi ruang ibadah yang sekaligus terbuka bagi wisatawan lintas agama. Pada hari biasa, Senin 1 Desember 2025, aktivitas sembahyang umat Konghucu tetap berlangsung berdampingan dengan kunjungan wisatawan yang datang untuk melihat arsitektur, patung, dan simbol budaya yang ada di area klenteng.

klentengSebagai tempat ibadah yang juga berfungsi sebagai destinasi wisata, pengelolaan Klenteng Sanggar Agung dihadapkan pada tantangan menjaga ketenangan dan kesakralan ruang ibadah.

Pengurus klenteng, Pak Paul, mengatakan jumlah pengunjung pada hari biasa relatif lebih terkendali dibanding akhir pekan. Meski demikian, pengurus tetap melakukan pengawasan karena karakter pengunjung yang beragam membutuhkan pendekatan berbeda.

Menurut Pak Paul, pengunjung baru umumnya menanyakan aturan dasar sebelum memasuki area klenteng. Pertanyaan yang paling sering muncul berkaitan dengan area yang boleh dimasuki, tata cara berpakaian, serta aktivitas yang diperbolehkan. Pengurus secara rutin mengingatkan wisatawan untuk menjaga sikap, tidak berbicara keras, serta tidak mengambil foto di area sembahyang. “Kami selalu ingatkan dengan cara yang baik, supaya pengunjung tetap merasa nyaman tapi ibadah juga tidak terganggu,” ujarnya.

Seiring meningkatnya minat wisatawan, perubahan juga dirasakan dalam sistem pengelolaan klenteng. Pak Paul menyebut pengurus kini harus lebih aktif mengatur alur kunjungan dan memberikan pemahaman kepada wisatawan lintas agama. Tantangan terbesarnya adalah menjaga agar klenteng tidak dipersepsikan semata sebagai objek wisata. Menurutnya, jika fungsi ibadah terabaikan, nilai spiritual klenteng bisa memudar.

Untuk menjaga kesakralan, pengelola membagi area klenteng secara jelas antara ruang ibadah dan ruang kunjungan umum. Pengurus juga memperhatikan waktu-waktu ibadah agar aktivitas wisata tidak mengganggu prosesi sembahyang. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga keseimbangan antara keterbukaan terhadap publik dan penghormatan terhadap fungsi utama klenteng sebagai tempat ibadah.

Dari sisi pengunjung, Vina, wisatawan asal Jakarta, mengaku tertarik datang ke Klenteng Sanggar Agung karena ingin melihat langsung tempat ibadah yang juga dikenal sebagai destinasi wisata budaya. Ia mengatakan suasana klenteng terasa tenang meski terdapat cukup banyak pengunjung. “Walaupun ini bukan tempat ibadah saya, suasananya bikin nyaman,” katanya.

Vina menilai pengelolaan klenteng membuat wisatawan lintas agama tetap merasa diterima tanpa menghilangkan batas yang jelas. Ia melihat adanya arahan dari pengurus yang membantu pengunjung memahami etika selama berada di area ibadah. Namun, ia mengakui masih ada sebagian wisatawan yang belum sepenuhnya memahami posisi klenteng sebagai ruang sakral.

Menurut Vina, Klenteng Sanggar Agung memiliki potensi sebagai wisata budaya yang menampilkan nilai toleransi. Namun, ia menilai pengembangan wisata sebaiknya lebih menekankan edukasi agar pengunjung tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga memahami fungsi dan makna klenteng sebagai tempat ibadah.

Dengan pengelolaan yang mengedepankan keteraturan dan saling menghormati, Klenteng Sanggar Agung menunjukkan bahwa ruang ibadah dan ruang publik dapat berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.

Nicholas Adhiel Setioputro
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UWKM) Surabaya

Fikom UKWM Klenteng Sanggar Agung
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026

Di Atas Polemik, Reog Harus Tetap Menjadi Pemenang

18 Juni 2026

Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

18 Juni 2026

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.