Pada era modern saat ini, banyak orang yang belum benar-benar memahami jati dirinya. Saat ini banyak metode dan teknologi yang ada untuk membaca jati diri seseorang, salah satunya lewat sidik jari.
Sidik jari seseorang sudah terbentuk sejak dalam kandungan dan tidak akan berubah seumur hidup. Hal tersebut dipercaya dapat membaca dan melihat potensi alami seseorang, mulai dari karakter sampai pekerjaan yang cocok.
Di Surabaya terdapat beberapa tempat layanan tes sidik jari, salah satunya layanan tes sidik jari yang berada di kawasan Dukuh Kupang. Layanan tersebut dikelola oleh Heni G. Azzam sebagai owner sekaligus praktisi pembacaan sidik jari.
Ilmu yang digunakan oleh praktisi yaitu dermatoglyphics, sebuah ilmu yang mempelajari mengenai pola dan kemiringan garis-garis di setiap jari tangan. Pola-pola tersebut dapat memunculkan laporan-laporan seperti karakter seseorang hingga minat dan bakatnya. Proses pengambilan data tersebut cukup mudah. “Kita cuma butuh scan ke sepuluh jari tersebut,” kata Coach Heni oleh sebuah alat yang menyambung pada laptop, lalu data yang dihasilkan akan dianalisis oleh seseorang yang memahami data-data tersebut. Tetapi proses untuk menganalisa secara lengkapnya membutuhkan waktu sekitar dua minggu.
Tes ini berbeda dengan tes psikologi yang menggunakan pertanyaan atau kuesioner, tes sidik jari tidak akan dipengaruhi oleh mood seseorang, hasilnya akan sama terus. Maka dari itu, tes ini dapat diikuti oleh semua kalangan usia, bahkan anak 1 tahun. Banyak orang tua yang menganggap hasil tes tersebut sebagai panduan untuk mengetahui potensi anak sebelum mereka mencoba dan mengeksplorasi kegiatan lainnya.

Coach Heni mengatakan bahwa tes ini tidak bisa dijadikan patokan utama untuk arahan hidup seseorang. “Saya rasa tidak ada satu tes pun yang bisa dijadikan panduan utama,” ujarnya. Tes sidik jari hanya sebagai alat bantu untuk melihat dan mengingatkan potensi dasar seseorang. Coach Heni juga menjelaskan bahwa hasil tes harusnya diselaraskan dengan perilaku, lingkungan, dan perkembangan anak.
Namun ada beberapa orang yang masih tidak percaya dengan hasil tes dan kebingungan untuk menerapkan hasil tersebut ke tindakan nyata. Karena itu, ada sesi konsultasi lanjutan dengan praktisi setelah hasil dibacakan, agar orang tua lebih memahami dan bisa menerapkan.
Walaupun tes ini masih banyak pro dan kontranya, sebagian orang tua sudah merasakan hasilnya. Seorang ibu muda yang bernama Dini Safitri, menceritakan pengalamannya saat anaknya tes sidik jari pada usia 1,5 tahun. Awalnya ia bingung dengan hasil tes nya, namun setelah konsultasi ulang baru ia paham. “ternyata hasilnya itu lumayan kelihatan, dan memang sesuai loh sama anakku. ” ujar Dini.
Menurut Dini, tes tersebut hanya menjadi alat bantu untuk lebih memahami potensi, motivasi, dan gaya belajar anaknya. Ia merasa terbantu dengan adanya tes tersebut, dari situ ia dapat mencari pola untuk mendampingi anaknya tanpa memaksakan dengan karakter anaknya.
Tes sidik jari mungkin bukan jawaban seseorang untuk mengetahui jati dirinya, namun bagi sebagian orang, itu menjadi jalan untuk mengetahui potensi dan jati dirinya lebih dalam lagi.
Verena Agnelia
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

