Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Oud Soerabadja Hunter Ajak Sobat Hunter Lintas Generasi Menyusuri Kampung Pecinan

Oud Soerabadja Hunter Ajak Sobat Hunter Lintas Generasi Menyusuri Kampung Pecinan

Karen Meylita Tjiadi30 November 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Kota Lama
Komunitas Heritage Oud Soerabadja Hunter (OSH) kembali menyelenggarakan kegiatan heritage walk di Kota Lama Surabaya. Foto: Dokumen Pribadi/Benedicta Mauren

Komunitas Heritage Oud Soerabadja Hunter (OSH) kembali menyelenggarakan kegiatan heritage walk yang kali ini berfokus pada penelusuran kawasan Kampung Pecinan Surabaya.

Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari jam 07.00 pagi dengan titik kumpul Stasiun Surabaya Kota yang merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di Kota Surabaya.

Kegiatan ini diikuti oleh 19 peserta dari berbagai latar belakang usia, kota dan profesi, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga peserta yang berumur di atas 40 tahun.

Pendiri OSH, Disatya Febriary, menjelaskan bahwa heritage walk merupakan bagian dari upaya komunitas untuk memperkenalkan bangunan-bangunan kolonial di Surabaya dalam satu kesatuan kawasan.

“Walking tour sebenarnya hanya salah satu kegiatan kecil dari OSH. Dari awal kami bergerak sebagai pemburu bangunan kolonial, bukan penyedia walking tour.” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).

Namun karena banyaknya permintaan dari pengikut dan anggota komunitas, OSH kemudian mengembangkan total 13 rute yang dijalankan bergilir per bulan dalam setahun.

Dalam kegiatan ini, peserta diajak menelusuri sejumlah titik yang berkaitan dengan sejarah perkembangan komunitas Tionghoa dan jejak arsitektur khasnya di Surabaya.

Kawasan seperti Jalan Karet dan gang-gang kecil di sekitarnya menjadi bagian dari rute yang dipilih karena menyimpan banyak bangunan lama, baik rumah, ruko, maupun tempat ibadah.

OSH menjelaskan bahwa rute yang dipilih tidak berdasarkan bangunan tunggal, tetapi secara satu kawasan.

“Kami selalu membuat rute berdasarkan satu kawasan penuh, bukan satu bangunan. Tujuannya agar peserta bisa melihat pola kawasan secara utuh.” jelas Febri.

Itulah sebabnya seluruh rute OSH merujuk pada area seperti Pecinan, Kota Atas, Kota Bawah, Makam, kawasan Eropa, dan lainnya. Meski antusiasme peserta cukup tinggi, Febri menyebut bahwa pelestarian bangunan tua masih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya adalah minimnya minat publik terhadap bangunan lama.

“Tidak semua orang suka bangunan tua. Karena itu kami mencoba menyampaikan sisi-sisi cerita lain, bukan hanya tahun atau fakta dasar.” katanya.

Kondisi sejumlah bangunan yang sudah tidak terawat juga menjadi tantangan tersendiri. Febri berharap kegiatan seperti ini setidaknya dapat membuka mata pemilik bangunan maupun pemerintah untuk lebih memperhatikan keberadaan ruang bersejarah. Namun ia mengakui perubahan nyata masih sulit diwujudkan. “Sudah lima tahun kami jalan, tetapi kondisinya belum banyak berubah,” ujarnya.

Kegiatan heritage walk justru memberi ruang bagi peserta untuk dapat melihat langsung kondisi kawasan dan memahami nilai sejarahnya secara lebih dekat. Peserta juga berkesempatan menyaksikan pertunjukan Wayang Potehi, salah satu seni tradisional Tionghoa yang masih bertahan di kawasan ini. Selain itu, peserta juga mengunjungi Klenteng Boen Bio, salah satu titik bersejarah yang pernah menjadi bagian dari benteng pertahanan pada 1945 dan hingga kini masih menjadi penanda penting perjalanan komunitas Tionghoa di Surabaya.

Seorang mahasiswa arsitektur bernama Clara Aegen yang mengikuti kegiatan ini, mengatakan bahwa ia mendapatkan pengalaman yang berbeda dibanding sekadar melintas di kawasan tersebut.

“Aku pernah lewat Kampung Cina, tapi cuma sebatas lewat. Dengan ikut kegiatan ini aku bisa melihat lebih detail, termasuk aktivitas warganya,” jelasnya.

Komunitas Heritage Oud Soerabadja Hunter (OSH) kembali menyelenggarakan kegiatan heritage walk di Kota Lama Surabaya. Foto: Dokumen Pribadi/Benedicta Mauren

Clara juga menilai kawasan ini memperlihatkan akulturasi budaya yang kuat. “Ternyata banyak banget akulturasi antara Tionghoa dan Jawa yang terlihat dari bangunan dan simbol-simbolnya,” tambahnya. Selain memahami sejarah kawasan, Clara juga mendokumentasikan perjalanan dengan aktivitas stamping, mencetak tekstur kayu, batu, dan permukaan bangunan lama ke buku jurnal stamp miliknya.

Pengalaman seperti yang dirasakan Clara menjadi salah satu alasan OSH terus mengembangkan kegiatannya.

Rencana jangka panjang komunitas ini adalah menambah rute baru, baik di Surabaya maupun kota sekitar. Beberapa kawasan telah dipertimbangkan, termasuk rute-rute yang membutuhkan penelusuran terlebih dahulu terkait area parkir, alur jalan, dan keberadaan bangunan kolonial yang cukup signifikan di satu kawasan. Selain rute reguler, OSH juga menyediakan layanan private tour bagi peserta yang datang di luar jadwal bulanan. Kolaborasi dengan kampus, komunitas, hingga kafe lokal juga menjadi bagian dari kegiatan OSH sejauh ini.

Dengan berbagai upaya memperkenalkan kembali kawasan bersejarah dan membuka akses edukasi bagi publik, OSH berharap kegiatan seperti heritage walk dapat menjadi langkah kecil dalam melestarikan cagar budaya kota. Meski tantangan pelestarian bangunan tua masih besar, kehadiran peserta dari berbagai generasi menunjukkan bahwa minat terhadap sejarah Surabaya tetap hidup.

Karen Meylita Tjiadi
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

Fikom UKWM Kota Lama Surabaya
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026

Di Atas Polemik, Reog Harus Tetap Menjadi Pemenang

18 Juni 2026

Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

18 Juni 2026

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.