Sebagai makhluk sosial, manusia secara naluriah memiliki dua kebutuhan dasar yang tak terelakkan: interaksi untuk menyambung rasa dan eksistensi untuk diakui keberadaannya.
Dahulu, Hari Raya Idul Fitri adalah panggung di mana kedua kebutuhan ini terpenuhi secara organik melalui jabat tangan yang hangat, pelukan yang erat, dan tatap mata yang tulus.
Namun, menjelang fajar Idul Fitri 1447H, kita mendapati diri kita berada di persimpangan budaya yang membingungkan. Tradisi maaf-memaafkan yang seharusnya menjadi momen “pembersihan” batin kini bergeser menjadi ritual digital yang dipacu oleh algoritma.
Pergeseran Ritual: Dari Rasa ke Layar
Dahulu, kata maaf adalah sesuatu yang berat namun melegakan. Ia membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan secara langsung. Kini, teknologi telah mempermudah segalanya, namun kemudahan itu sering kali menggerus makna.
Fenomena ini sejalan dengan penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Computer-Mediated Communication, yang menyoroti bagaimana media digital dapat mengurangi Social Presence atau kehadiran sosial yang bermakna.
Ketika permohonan maaf dikirim secara masal melalui pesan siaran (broadcast) yang berisi puisi indah namun generik, kedekatan emosional sering kali hilang. Kita kehilangan isyarat non-verbal—getar suara, raut wajah, dan keikhlasan yang terpancar dari mata.
Dalam konteks ini, kita tidak lagi meminta maaf kepada individu secara personal, melainkan sedang menunaikan “kewajiban administratif” sebagai pengguna media sosial agar tidak dianggap sombong atau ketinggalan zaman.
Perspektif Sosiologi UNAIR: Masyarakat Tontonan
Sosiolog ternama dari Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., dalam berbagai ulasannya di media nasional (seperti Kompas dan Unair News pada medio 2024-2025), sering menekankan bahwa masyarakat modern telah bergeser menjadi “Masyarakat Tontonan”.
Menurut beliau, di era digital, banyak orang terjebak dalam upaya menampilkan “kesalehan sosial” yang semu.
Lebaran kini sering kali terjebak pada formalitas digital. Orang lebih sibuk memikirkan bagaimana cara mengunggah momen maaf-memaafkan agar terlihat harmonis di mata netizen, daripada meresapi esensi permohonan maaf itu sendiri kepada orang di depannya.
Prof. Bagong memperingatkan bahwa ada risiko besar ketika simbolisme mengalahkan substansi. Maaf-memaafkan yang seharusnya menjadi mekanisme resolusi konflik sosial secara nyata, kini terancam hanya menjadi sekadar komodifikasi momen demi meraih simpati publik.
Abu-Abu Kemurnian Hati vs. Eksistensi Online
Di era Idul Fitri 1447H ini, batasan antara ketulusan dan pamer menjadi sangat tipis. Mengunggah kebersamaan keluarga adalah hal yang manusiawi sebagai bentuk syukur.
Namun, sebuah studi dalam jurnal Computers in Human Behavior menjelaskan fenomena Social Media Engagement yang mendorong individu melakukan “Performative Sociality”.
Ini adalah kondisi di mana individu mengonstruksi sebuah realitas agar terlihat sempurna di layar. Kita sering melihat fenomena di mana sebuah keluarga tampak sangat hangat di Instagram atau TikTok, namun kembali sibuk dengan gawai masing-masing segera setelah tombol post ditekan.
Interaksi nyata yang merupakan ruh dari Idul Fitri justru terabaikan demi menyuapi algoritma media sosial yang haus akan visual yang estetik. Kita terjebak dalam paradoks: merasa terhubung secara global melalui jumlah likes, namun merasa hampa dan terputus secara emosional dengan orang-orang yang duduk tepat di sebelah kita.
Menemukan Kembali Hakikat “Fitri” di Tengah Algoritma
Sebagai makhluk sosial, kita tidak perlu memusuhi teknologi. Media sosial tetaplah sarana yang luar biasa untuk menghubungkan mereka yang terpisah jarak.
Namun, mengacu pada prinsip dalam jurnal New Media & Society, kita perlu membangun literasi emosional dalam berjejaring. Kita harus mampu membedakan antara dokumentasi untuk kenangan dan dokumentasi untuk validasi.
Untuk mengembalikan kemurnian hati di Idul Fitri 1447H, ada beberapa langkah reflektif yang bisa kita ambil, seperti Kembalikan Sentuhan Personal: Jika tak bisa bertemu fisik, pesan suara atau panggilan video pribadi jauh lebih bernilai daripada unggahan status anonym, lalu Hadir Sepenuhnya (Mindfulness): Meletakkan ponsel saat prosesi sungkeman bukan berarti kehilangan momen, melainkan menghargai keberadaan manusia sebagai subjek, bukan sekadar objek konten dan paling mendasar adalah Audit Niat, dimana Sebelum mengunggah, tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya berbagi untuk menginspirasi kebahagiaan, atau sekadar takut dianggap tidak bahagia oleh orang lain?

PeMaaf yang Melampaui Sinyal
Idul Fitri 1447H seharusnya menjadi momen kita “pulang” ke fitrah—kembali menjadi manusia yang memiliki kedalaman rasa dan empati. Meminjam pemikiran sosiologis yang kritis, jangan biarkan algoritma yang dingin mendikte bagaimana cara kita memaafkan dan mencintai.
Esensi dari hari kemenangan adalah kemenangan melawan ego, termasuk ego untuk selalu tampil sempurna di dunia maya.
Karena pada akhirnya, maaf yang benar-benar sampai ke hati tidak membutuhkan koneksi internet yang kencang; ia hanya butuh ketulusan yang murni, keberanian untuk mengakui salah, dan kesediaan untuk benar-benar hadir secara utuh bagi sesama. Mari kita rayakan Idul Fitri kali ini dengan hati, bukan hanya dengan jempol di atas layar.
Denny R. Kusuma
Ketua Unit Humas dan Protokol Sekolah Pascasarjana UNAIR

