Close Menu
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Disclaimer
  • Jaringan
    • BeritajatimID
    • Visual
    • Sastra
    • InfoUMKM
    • Data Jatim
    • PilarID
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
postingananda.beritajatim.idpostingananda.beritajatim.id
Home»Postingan Anda»Rawon Setan Surabaya: Kuliner Legendaris Sejak 1951

Rawon Setan Surabaya: Kuliner Legendaris Sejak 1951

Fransiskus Henley10 Desember 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Rawon Setan Surabaya

Surabaya (beritajatim.id) – Kota Surabaya dikenal sebagai surga kuliner legendaris, dan salah satu ikon yang tetap berdiri kokoh melintasi zaman adalah Rawon Setan.

Warung yang telah beroperasi sejak tahun 1951 ini kini dikelola oleh generasi ketiga, menjadikannya saksi bisu perkembangan kota Surabaya sekaligus destinasi wajib bagi pecinta kuliner sejati.

Meski namanya terdengar misterius, popularitasnya justru semakin meningkat berkat kisah unik di balik julukan “Setan” tersebut.

Rawon Setan, nama yang sekilas menyeramkan, sesungguhnya adalah salah satu ikon kuliner paling legendaris di Surabaya.

Berdiri sejak tahun 1951, warung ini telah melampaui tiga generasi dan tetap menjadi tujuan utama para pencinta masakan khas Jawa Timur. Keunikan Rawon Setan tidak hanya terletak pada cita rasanya yang kuat, tetapi juga pada julukannya yang melegenda.

Meski namanya mengandung unsur mistis, julukan “Setan” ternyata berasal dari kebiasaan unik warung ini di masa awal berdirinya.

Pengelola Rawon Setan, Wulandari, menjelaskan bahwa nama tersebut muncul dari jam operasional yang tidak lazim.

“Karena dulu bukanya malam, jam 11 jam 12 malam, sampai sebelum subuh.” ujar Wulandari, pengelola generasi ketiga.

Jam buka yang sangat larut malam pada masa itu membuat masyarakat menjulukinya “Rawon Setan” karena hanya mereka yang beraktivitas di waktu tersebut dianalogikan sebagai “setan” yang mencari makan.

Julukan yang awalnya muncul dari lisan ke lisan ini akhirnya melekat kuat dan menjadi identitas tak terpisahkan dari warung tersebut.

Selain cerita namanya, Rawon Setan memiliki ciri khas yang membedakannya dari rawon-rawon lain di Surabaya.

“Maksudnya biasanya rawon itu hitam pekat, kalau di sini itu warnanya bening. Terus dagingnya potongannya besar. Itu saja sih mungkin yang beda.” tambah Wulandari.

Potongan daging sapi yang tebal dan empuk menjadi salah satu keunggulan utama yang memberikan sensasi makan lebih memuaskan bagi pelanggan.

Jika warung rawon lain umumnya menggunakan potongan kecil dan tipis, Rawon Setan memilih konsistensi potongan besar untuk menjamin kualitas rasa dan tekstur.

Kuah hitam yang dihasilkan dari bumbu kluwek khasnya juga memiliki keseimbangan rasa yang kuat namun tidak berlebihan, sebuah ciri khas yang dipertahankan turun-temurun.

Rawon Setan membuktikan dirinya sebagai legenda kuliner berkat usianya yang sudah sangat matang.

“Berdirinya itu tahun 1951. Ini sudah generasi ketiga.” Jelas Wulandari ketika ditanya tentang perjalanan panjang usahanya.

Fakta bahwa warung ini berhasil bertahan selama lebih dari tujuh dekade menunjukkan konsistensi kualitas masakan dan daya tarik yang kuat.

Warung yang awalnya dikelola oleh generasi pertama sebagai usaha kecil di malam hari, kini telah bertransformasi menjadi destinasi kuliner wajib bagi wisatawan lokal maupun luar kota yang berkunjung ke Surabaya. Banyak pelanggan setia yang rela datang larut malam demi menikmati keautentikan rasa Rawon Setan.

Dengan sejarah panjang, cita rasa yang khas, serta identitas unik nama yang melekat, Rawon Setan bukan hanya sekadar tempat makan, tetapi bagian penting dari perjalanan kuliner Surabaya. Ketulusan pelayanan dan keunikan identitasnya mampu bertahan lintas generasi dan menjadi warisan kuliner yang selalu dikenang.

Fransiskus Henley Putra Chrisandi
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWMS) Surabaya

 

Rawon Setan
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Postingan Lainnya

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026

Di Atas Polemik, Reog Harus Tetap Menjadi Pemenang

18 Juni 2026

Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

18 Juni 2026

Ketika Tenggang Waktu Menjadi Kuburan Keadilan

23 Mei 2026

Tumbler dan Ilusi Gaya Hidup Berkelanjutan

18 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

beritajatim id

Festival Remo dan Yosakoi 2026 Meriahkan Balai Pemuda, Jadi Wadah Pertemuan Budaya Indonesia-Jepang

12 Juli 2026

Festival Seni Lintas Budaya 2026 Jadi Komitmen Pemerintah Kota Surabaya Hadirkan Ruang Kreatif

12 Juli 2026

5 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

3 Juli 2026

Menavigasi Arus Digital: Bagaimana Teknologi Media Merombak Jiwa Sosial Kita

30 Juni 2026

Harga dan Rupiah ‘Naik’, Ini Solusi Yang Harus Pemerintah Lakukan

19 Juni 2026
© 2026 beritajatim.com | portal berita jawa timur hari ini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.