Surabaya – Banyak kuliner legendaris bisa ditemukan di Surabaya, tetapi tidak semua bisa mempertahankan rasa dan eksistensi hingga puluhan tahun. Mie KJ merupakan salah satu kuliner legendaris yang berhasil menembus generasi ke generasi.
Sebuah usaha keluarga yang bermula dari perjalanan panjang seorang perantau yang berasal dari Fuzhou, Tiongkok.
Usaha Mie KJ didirikan oleh Liem Tik Sing sekitar pada tahun 1960, saat merantau dari Fuzhou menuju Surabaya. Ia menikahi pribumi bernama Sumiatun. Dari sanalah keluarga Liem Tik Sing menetap di kawasan Kembang Jepun serta memulai usaha sebagai pedagang kaki lima.
Pada awalnya usaha tersebut dikenal sebagai Mie Kembang Jepun, karena lokasinya sesuai dengan tempat berdirinya usaha. Namun, pada tahun 2000-an, nama tersebut tidak dapat digunakan lagi setelah pihak lain lebih dahulu mematenkan nama tersebut menjadi mereknya.
Pada saat itu keluarga memutuskan mengganti nama menjadi Mie KJ 1960, yang tetap mempertahankan identitas Kembang Jepun melalui singkatan “KJ”.
“Mie KJ sebenarnya dari Mie Kembang Jepun. Kenapa kita nggak pakai nama Mie Kembang Jepun? Karena papa saya sudah telat untuk mematenkan nama Mie Kembang Jepun,” ujar Daniel, penerus usaha Mie KJ, Jumat (28/11/2025).
Sosok Liem Tik Sing merupakan sosok paling penting dalam sejarah Mie KJ, yang merintis usaha ini dari nol bersama istrinya. Namun, ia meninggal ketika putranya berusia 12 tahun. Beruntung, seluruh resep sudah diwariskan kepada istrinya sehingga produksi dan penjualan tetap berjalan, dibantu oleh keluarga besar Sumiatun dari Mojokerto.
“Diteruskan oleh keluarga emak atau nenek Sumiatun ini. Orang Jawa dulu, kalau bekerja, semua saudaranya dibawa untuk dipekerjakan,” tuturnya.
Ketika usaha berpindah tangan ke generasi kedua, yaitu orang tua dari pemilik saat ini, Mie KJ mulai melakukan inovasi. Mulai dari penambahan menu, efisiensi kerja, hingga perbaikan sistem produksi dilakukan tanpa mengubah cita rasa. Mie KJ 1960 dikenal karena mempertahankan rasa yang sudah dibawa Liem Tik Sing dari Fuzhou.

Tekstur mie yang berminyak, padat, dan “berat” menjadikannya berbeda dibanding mie kebanyakan di Surabaya yang cenderung lebih ringan. Menu khas seperti hemie dan kan pan mie menjadi daya tarik tersendiri, bahkan sulit ditemukan di restoran lain. Selain itu, Mie KJ menggunakan bahan-bahan yang jarang dipakai restoran lain, seperti lorjuk, juhi (cumi kering), dan bibir ikan. Daging babi yang digunakan juga bagian babi yang empuk dan juicy.
Saat ini, menu yang paling diminati yaitu pangsit mie, karena pangsit mie sendiri memiliki cita rasa yang lebih mudah diterima masyarakat. Namun, menu yang paling diingat oleh para pelanggan adalah lo mie dan hemie nya. Mie KJ tetap berkembang dan mengikuti zaman, tetapi tetap mempertahankan resep asli.
Bagi banyak pelanggan, Mie KJ bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari memori masa kecil dan perjalanan hidup mereka di Surabaya.
“Waktu makan di sini, harapan kita yang keluar dari mulut pelanggan adalah ‘masih sama ya’. Itu sangat berarti bagi kita. Jadi anggapannya, dari kecil sampai sekarang, nostalgia itu yang kita harapkan,” ujarnya.
Cita rasa yang konsisten membuatnya memiliki kesan tersendiri. Kini usaha ini sudah memasuki generasi ketiga, yang terus mempertahankan cita rasa dari pendiri agar tetap bertahan di antara banyaknya pesaing. Dari perantau Fuzhou sampai menjadi legenda di Kembang Jepun, Mie KJ 1960 adalah bukti bahwa semangkuk mie bisa menyimpan nostalgia, sejarah, dan cinta yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Imanuella Amoryta Weka Mare
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

