Surabaya – Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Surabaya kembali menggelar pameran tahunan Sinestesia yang tahun ini memasuki edisi kedelapan.
Sebanyak 134 karya mahasiswa dan delegasi internasional dari enam negara, yaitu Indonesia, Prancis, Mesir, Amerika Serikat, India dan Inggris, dipamerkan selama dua hari di AJBS Home Center Surabaya lantai 1 dan 2 pada 22 sampai 23 November 2025 pukul 09.00 sampai 21.00. Acara ini menjadi salah satu agenda desain yang mendapat perhatian besar dari publik Surabaya.
Sinestesia 8 mengusung tema “Piece by Piece” yang menggambarkan manusia sebagai potongan puzzle yang berbeda namun tetap saling melengkapi.
Ketua Pelaksana, Klarina Fibyaka Platini, mengatakan tema tersebut dipilih untuk menegaskan bahwa keberagaman justru membentuk kesatuan.
“Kami ingin menganalogikan kalau manusia itu sebagai kepingan puzzle. Sama seperti manusia yang memiliki perbedaannya masing-masing, tapi justru bisa saling melengkapi,” ujarnya.
Klarina menambahkan bahwa pameran tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menghadirkan talkshow, workshop, screening film dan booth komunitas.
Pameran disusun dalam dua lantai dengan konsep berbeda. Lantai pertama berisi karya yang ditata dengan pencahayaan menarik serta menjadi titik foto favorit pengunjung.
Area ini juga memuat 18 booth komunitas dan merchandise yang memberikan ruang interaksi lebih luas. Lantai kedua fokus pada karya submisi umum yang terdiri dari ilustrasi, fotografi dan karya grafis lainnya. Klarina menyebut booth interaktif menjadi titik paling ramai.
“Yang paling ramai itu bagian yang cukup banyak interaktifnya. Ada booth komunitas dan kedai merchandise,” jelasnya.
Pengunjung terlihat antusias sejak pameran dibuka. Aura Patricia, mahasiswa semester satu yang datang melihat karya seniornya, mengaku terkesan dengan pameran. “Gila, keren banget sih. Apalagi kan banyak booth-booth keren,” ujarnya.
Ia mengatakan pameran ini memberinya gambaran mengenai standar karya di dunia desain. “Bisa jadi inspirasi buat nanti karya-karya kedepannya mau kayak gimana,” tambahnya. Aura juga menyebut karya nirmana 3D sebagai bagian yang paling menarik perhatian.
Dari sisi penyelenggaraan, panitia memastikan alur pengunjung tetap terkendali. Misbah Lunisa, salah satu panitia, menjelaskan bahwa penjagaan di setiap titik pintu masuk dan keluar menjaga arus pengunjung tetap rapi.
“Sirkulasi sejauh ini aman. Di setiap titik ada yang jaga, jadi langsung diarahkan,” katanya. Meski ada beberapa penyesuaian teknis pada hari pertama, ia menilai keseluruhan acara berlangsung lancar.
Sementara itu, salah satu pembuat karya, Sitianandiara Zita, menampilkan proyek branding bertema kota Solo yang dikerjakan bersama kelompoknya. Karya tersebut mengangkat empat pilar utama, yaitu budaya, metropolitan, lifestyle dan festival.
Zita mengatakan banyak pengunjung mengapresiasi visual kelompoknya. “Kebanyakan itu suka sama color palette-nya. Kita pakai warna yang nabrak tapi tetap cocok,” ujarnya.
Klarina menyebut keterlibatan peserta internasional meningkat dibanding tahun sebelumnya, dari lima delegasi menjadi tujuh delegasi. Ia menilai perkembangan ini menunjukkan bahwa Sinestesia semakin dikenal di luar negeri dan memberi ruang kolaborasi lebih luas bagi mahasiswa.
Menutup kegiatan, Klarina berharap pameran tidak hanya menjadi ajang apresiasi desain, tetapi juga ruang refleksi sosial. “Aku berharap kalian sebagai manusia lebih memahami tentang kehidupan sosial dan bisa saling memahami satu sama lain,” katanya.
Dengan ragam karya, interaksi publik dan peningkatan delegasi internasional, Sinestesia 8 memperlihatkan konsistensi UNESA dalam membangun ruang kreatif yang inklusif dan berkembang.
Ernesto Adi
Mahasiswa Fakuiltas Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

